Endorsement for Abi Sabila

“Membagi kisah, memapar hikmah, tanpa terkesan menggurui.”

(Amela, seorang abdi negara yang bercita-cita jadi penulis, https://pagi2buta.wordpress.com)

“Artikel ini diikutsertakan pada Endorsement for Abi Sabila”.

Muntahan Hari ini

Hem, kenapa muntahan? Karena habis baca tulisan Tutus tentang Pikiran Mual.. Pikiran saya lagi ga mual sih, cuma pingin muntahin aja sebagian isinya biar ga kepenuhan.

Hem, apa ya yang mau diceritain? *malah tanya* Oh iya, tadi pagi saya habis upacara bendera memperingati Hari Keuangan Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2011 kemarin. Upacaranya diadain di KPP Pratama Baubau, berhubung kantor vertikal Kemenkeu di Baubau cuma KPP dan KPPN, ya pesertanya cuma dikit.

sumber: google

Jangan bayangin upacara kayak di istana negara, ataupun upacara senin di SD dulu. Berhubung ini upacara dadakan, pesertanya juga takut sama sinar matahari (termasuk saya), jadi ya begitulah.. Tapi yang penting niatnya kan ya? Ya? #ngeles.

Baca lebih lanjut

Episode Empat Belas: Janji..

sumber: google

Lukisan cendrawasih itu masih anggun bertengger di dinding kamar Denova, menemani Den begadang mengerjakan tugas kuliahnya. Sudah 15 bulan dia dan Dimi tidak pernah bertemu. Saat bang Dam pulang di sela kesibukannya menjadi asisten Dimi, Den tak pernah berani menanyakan kabar atau titip salam pada gadis jenius itu. Walaupun Den sendiri sangat penasaran.

Rindang? Tiga bulan sebelum Den lulus, hubungan mereka lumayan membaik. Rindang tidak lagi berusaha menghindari Denova, tidak pula menunduk pura-pura tidak kenal jika berpapasan. Tapi sejak lulus SMA, Den tak pernah lagi bertemu dengan Rindang. Sepertinya Rindang sudah berhasil melupakan sakit hatinya pada Denova, terbukti dengan status facebooknya yang in a relationship with Faridh Gama Nasution.

Kehidupan terus berputar, lima belas bulan berlalu. Telah banyak yang berubah, tapi tidak dengan perasaan Den pada Dimi. Baca lebih lanjut

Ketagihan Ngontes

Awalnya saya itu hanyalah blogger pasif, yang menulis sesuka hati, seringnya jadi silent reader di blog orang. Belum kenal itu namanya blogwalking, kopdaran, ataupun kontes blog.

Sampe akhirnya, saya mulai sering komen di blog tetangga yang rata-rata akhirnya pada balik komen di blog saya. Statistik blog meningkat, akhirnya saya mulai rajin blogwalking. Tujuan utama BW waktu itu sih sekedar promosi blog, biar makin banyak mengenal dunia pagi. Sampai akhirnya, saking seringnya saling mengunjungi, saya ngerasa akrab dengan beberapa tetangga blogger. Belum pernah ketemu sih, cuma sekedar saling menyapa di blog masing-masing, tapi kok ya rasanya udah kenal deket aja. Saya pun mulai ngerasa seninya ngeblog: nambah kenalan dan wawasan. Malah sekarang saya lebih betah blogwalking daripada liat status update para teman di facebook ataupun baca kicauan para aktivis twitter di timeline. Apalagi di kantor saya, facebook dan twitter terjaring proxy, jadi ya untuk menghabiskan waktu senggang saya mainnya di blog-blog tetangga.

Baca lebih lanjut

Sepeda Roda Tiga Mainan Kesayanganku

Masih ingat mainan kesayangan anda waktu kecil? Dari sekian banyak mainan yang datang dan pergi, yang paling saya kenang adalah sepeda roda tiga dari plastik milik saya. Saya lupa pastinya siapa yang membelikan sepeda itu, entah Mama, entah Papa, atau malah Mbah Uti. Saya juga lupa kapan pastinya saya memiliki sepeda roda tiga itu. Tapi ada kenangan tidak terlupakan tentang sepeda roda tiga kesayangan saya itu.

Gambar hanya ilustrasi (sumber:Kompas)

Gambar hanya ilustrasi (sumber:Kompas)

Sewaktu kecil, saya lebih suka main sendiri, selain karena tetangga saya tidak ada yang seumuran dengan saya, saya memang lebih nyaman bermain sendiri. Tidak perlu rebutan mainan, tidak perlu berantem dengan anak tetangga, dan tidak perlu diatur-diatur anak tetangga yang lebih besar. Yah, sesekali saya berkunjung ke rumah tetangga, tapi itupun jarang, saya lebih suka menghabiskan waktu sendiri.

Baca lebih lanjut

Trik Berhitung ala Saya

Ini pengalaman pribadi saya, mengajari anak ibu saya alias Dita, adik bungsu saya, berhitung. Waktu itu Dita masih kelas 1 SD dan saya masih berseragam putih abu-abu. Dita datang pada saya, membawa buku PR matematikanya, dan mengadu kesulitan mengerjakannya.

Mengajar itu sungguh tidak mudah, perlu kesabaran ekstra besar, apalagi kalau yang diajari anak kecil, apalagi kalau anak kecil itu adik sendiri, bawaannya pingin jitak terus aja. Kalau ngajar anak tetangga kan biasanya sungkan sama orangtuanya, kalau adik sendiri, berasa punya hak buat main jitak. Belum lagi anak kecil itu gampang bosan, terutama kalau sang pengajar sama sekali tidak interaktif, seperti saya. Baca lebih lanjut

Televisi

Semalam, percakapan lewat telepon.

A: Mas, kemarin ibu suruh beli televisi

H: Ya udah beli sana, punya duit toh

A: Tapi kapan nontonnya? pulang kantor dah capek

H: Sabtu minggu kan bisa.

A: Bisa-bisa guling-guling nonton tivi seharian saya, ga nyuci ga nyetrika. Nonton film di laptop aja, bisa di pause, sering males buat nyuci, apalagi nonton tivi yang kejar tayang. Lagian acaranya sekarang ga ada yang bagus, palingan sinetron, reality show yang ga real, gosip.

H: Ya udah ga usah beli

A: Iya, sayang duitnya ih. Kalau cuma mau apdet berita lewat internet. Saya ga buth tivi. Buktinya bisa hidup tanpa tivi ini.

H: ….

A: Mas nanti kalau udah punya rumah sendiri mau beli tivi? Baca lebih lanjut