Haruskah di Jakarta?

Sebelum ada yang tanya ke mana es krimnya.. saya beritahukan dulu bahwa es krimnya saya sembunyikan di kulkas, biar ga ada yang nyuri 😛

Kalau saya sih, udah kebal sama isu penempatan, wong udah hampir empat bulan nasib saya sudah digariskan, penempatan di Baubau, Kota semerbak. Walau sempat jatuh bangun, toh ternyata terbukti saya bisa bertahan hidup, sehat walafiat dan curiganya malah tambah gendut aja. Tapi mungkin adik kelas saya yang baru aja wisuda tanggal 12 kemarin lah yang deg-degan tiap kali denger kata penempatan, sambil komat-kamit berdoa.

Sebagai lulusan STAN yang udah tanda tangan surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja, saya tahu bener rasanya nungguin pengumuman penempatan itu. Mulai dari penempatan instansi sampai penempatan definitif.

Yang nantinya dapat instansi pusat (yang kantornya cuma di Jakarta) bisa bernafas lega untuk sementara. Kenapa sementara? Karena tidak menutup kemungkinan instansi tersebut membuka kantor vertikal di daerah nantinya. Bagi yang dapat instansi macam DJPB, DJP, DJKN, DJBC yang kantornya tersebar hampir ke seluruh pelosok Indonesia, deg-degannya diperpanjang sampai nanti ketok palu penempatan definitif.

Saya udah ngerasain deg-degan itu, komplit. Dan jujur, setahun ini pola pikir saya banyak berubah. Dari yang awalnya males banget penempatan Jakarta karena macet, panas, biaya hidup mahal, dan lain-lain. Hingga merindukan monas beserta seseorang yang mengais rezeki di sana.

Baca lebih lanjut