Pengantar Weekend Minggu Ini

Udah jam pulang kantor. Tapi saya masih berkutat di meja kerja, nungguin bank persepsi yang belum juga datang, disambi ngeblog tentunya. Sebenarnya ga ada kewajiban buat nunggu sih, toh batas akhirnya adalah jam 9 hari berikutnya (yang berarti hari senin besok), tapi biasanya banknya tetep kerajinan nganterin hari itu juga, dan saya suka kepikiran kalau kerjaan belum kelar.

Kalau dihitung-hitung, udah 3 bulanan saya jadi pelaksana di kantor ini. 3 bulan yang penuh pembelajaran buat saya, soalnya saya bener-bener mesti mempelajari semuanya dari awal, otodidak+tanya2 sama senior+diskusi sama temen seangkatan di forum gtalk. Dari yang semula anak bawang ga tahu apa-apa, sekarang harus mikul beban kerja yang ga tanggung-tanggung beratnya. Bahkan bulan lalu saya sampai stres dan mencak-mencak sendiri karena mesti ngehandle masalah yang ngelebihin kewenangan saya. Saya juga belajar banyak tentang karakter orang lain dan bagaimana caranya untuk bertenggang rasa dengan mereka. Tuhan benar-benar sedang menggembleng saya, mengajari saya ilmu ikhlas, sabar, dan syukur. Dan saya merasa beruntung.

Dengan melihat saya belajar. Dengan mendengar saya belajar. Dengan bekerja pun saya belajar. Saat sifat penggerutu dan suka mengeluh saya mengintip ke permukaan, biasanya saya langsung hajar dengan hal-hal yang harus saya syukuri. Saat rasa cemburu dan iri menyapa malu-malu, langsung saya sugesti diri sendiri bahwa mengikhlaskan itu akan lebih mudah. Saat amarah dan rasa benci menggelitiki ubun-ubun, langsung saya tiup-tiup mesra agar hati ini mau bersabar. Terlalu banyak hal yang bisa disyukuri yang membuat kita malu untuk mengeluh, dengan mengikhlaskan justru sesuatu yang tidak kita miliki akan lebih bermanfaat, dan sabar itu tidaklah pernah ada habis maupun batasnya. 3 prinsip itulah yang sedang berusaha saya pegang erat-erat. Mudah dituliskan, mudah dibicarakan, mudah disampaikan, tapi tidak mudah untuk dilaksanakan memang. Beberapa kali emosi saya memang sempat kebobolan, membuat saya melampiaskannya dengan bermuram durja. Tapi saya berjanji pada diri sendiri untuk terus belajar. Dan menuliskannya di catatan ini sebagai pengingat, agar tak ada alasan untuk lupa.

Dan memang, dengan banyaknya masalah, banyak juga yang bisa kita ambil hikmahnya. Tidak ada satu ujianpun yang diberikan di luar kemampuan kita. Itu yang selalu saya teriakkan pada diri sendiri. Tidak ada alasan untuk menyerah, Tuhan percaya bahwa kita mampu, maka kita sendiripun harus percaya itu.

Di sela-sela hari-hari yang saya hitung mundur, saya berusaha menikmati tiap kesempatan yang bisa saya lewati di sini. Agar nantinya tidak ada yang harus saya sesali saat pindah. Agar nantinya, saya meninggalkan jejak yang baik saat saya berkesempatan pindah.

Dan kota ini, saya mulai merasakan kota ini sebagai persinggahan yang menyenangkan.

Selamat menyambut weekend bagi yang merayakan! 😀 Ah, tumben tulisan saya bijaksana kayak begini