Fiksi: Insecure

“Ke arah Serpong ya, Pak” ujarmu memberi instruksi kepada supir begitu kau duduk di kursi penumpang sebuah taksi biru berlogo burung.

Sang supir menyalakan mesin dan mengatur suhu pendingin udara. “Mau lewat tol, bu?” 

“Iya, Pak. Lewat tol lingkar luar saja, nanti keluar di gerbang tol Alam Sutera.” Kau mengaduk-aduk tasmu,  mencari kartu uang elektronik yang baru kau isi ulang di minimarket beberapa saat lalu. Rupanya kartu itu terselip di antara berkas kerja yang kau bawa pulang. 

“Nanti bayar tolnya pakai ini saja, Pak” tanganmu terulur pada sang supir taksi. Ia menerima kartu tersebut tangan kiri, tangan kanannya sibuk mengendalikan setir. Sepintas kaulihat senyumnya dari spion tengah.

Sepertinya supir taksi yang ini tak begitu suka bercakap-cakap. Syukurlah. Kau sedang lelah berbasa-basi. Namun untuk berjaga-jaga, kau memasang earphone di telingamu. Sebenarnya kau tak sedang memutar musik, kau hanya ingin menyendiri.

Kau menyandarkan kepala ke jendela mobil. Memandang ke jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang yang kelelahan. Kau sendiri juga lelah. Seharian ini, tiga rapat telah kau hadiri, dan ketiganya menyita energimu. 

Kau memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan saat rapat tadi berkelebat mengganggu alam pikirmu. Mungkin tadi kau terlalu keras mengkritisi proposal rekan-rekanmu. Mungkin seharusnya kau menyimpan saja pendapatmu dan menyampaikannya di kesempatan yang lebih baik. Mungkin tanpa sengaja kau telah mempermalukan rekan-rekanmu itu di depan para petinggi perusahaan. Mungkin sebenarnya mereka semua muak dengan racauanmu tentang integritas dan profesionalisme. Mungkin mereka saat ini sedang tertawa-tawa menggosipkanmu yang sok tahu dan idealis. 

Kau bayangkan mereka memakimu dan mengharapkan sesuatu yang buruk menimpamu sehingga tak ada lagi orang yang akan memprotes usulan mereka. Tak ada ydang menyukai seseorang yang terlalu jujur. 

Mungkin mereka sedang berdoa agar kau lenyap saja. Kau sendiri ingin lenyap. Hilang. Seperti buih minuman bersoda ketika tutupnya dibuka. Menguap bersama udara. Tanpa bekas.

Kau bayangkan kau suruh supir taksi itu mengantarkanmu ke tempat antag berantah. Tempat tak ada orang yang akan mengenalimu, tak ada orang yang tahu siapa engkau ketika kau tiba di tempat itu. Kau bisa menjadi gelandangan yang hidup dari memungut sampah. Kau bisa pura-pura bisu dan tuli sehingga tak ada seorangpun yang akan mengajakmu berbincang. Kau bisa pura-pura gila sehingga orang-orang di sekitarmu memandangmu dengan pemakluman, bukan penghakiman. 

Kau ingin pergi. Lenyap. Hilang. Tak berbekas. 

Tidak, kau tidak ingin mati. Kau belum siap untuk mati karena kau tahu kau akan masuk neraka. Kau hanya ingin menghilang. Lenyap. Kau ingin me-restart hidupmu. Menjadi seseorang yang tidak dihiraukan siapapun, sehingga kau pun tak perlu menghiraukan siapapun. Kau hanya ingin kabur dari hidupmu yang sekarang, sehingga besok kau tak perlu menghadapi rekan-rekan kerjamu yang akan menghakimi segala apa yang kaukatakan, kaulakukan.

Tidak akan ada yang merasa kehilangan ketika kau pergi. Suami dan anak-anakmu telah terbiasa tanpa kehadiranmu. Orang tua dan saudara-saudaramu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, entah kapan terakhir kali kau bicara dengan mereka. Terlebih lagi rekan-rekanmu, rasanya mereka justru akan bersorak kalau kau menghilang. 

Lebih baik kau pergi. Hilang. Lenyap. Enyah

Just close your eyes, the sun is going down. You’ll be alright, no one can hurt you now (taylor swift – safe and sound) 

Kau sentuh layar ponselmu, menerima panggilan.

“Bunda sudah sampai mana?” 

“Sebentar lagi sampai, Sayang.” 

“Bunda ga lupa titipan Kakak kan?” 

“Ngga dong.” 

“Oke. Hati-hati di jalan ya Bunda. Byeee.. ”

“Bye” 

Kau meremas kantong plastik yang kau pegang. Kau tidak bisa kabur malam ini. Kau harus mengantarkan pensil warna yang kau beli di minimarket tadi kepada putri sulungmu. 

Iklan