Sepucuk surat (bukan) dariku

Tangan wanita itu bergetar saat membaca surat yang dipegangnya, air mata tiba-tiba meruak , menganak sungai di pipi keriputnya. Penuh haru dia merengkuhku dalam pelukan hangatnya.

“Subhanallah le, emak bener-bener bangga sama kamu. Jadi kapan kamu berangkat?” tanya emak disela isaknya.

“Lusa, mak.”

“Secepat itu?”

Aku mengangguk. Emak termenung beberapa saat, kemudian meraihku dalam pelukannya lagi.

–0–

“Bagaimana? Emakmu curiga?” Lastri memberondongku dengan pertanyaan. Baca lebih lanjut

Iklan