Sudah lama aku tak menulis tentangmu di sini

Lebih dari empat bulan aku tak menulis di sini. Dan lebih lama dari itu aku tak menulis tentangmu di sini. Bukan karena aku tak lagi cinta padamu. Aku-Cinta-Kamu. Berkali dalam sehari aku mengucapkannya kepadamu. Mungkin kamu sampai bosan mendengarnya. Tapi aku tak peduli. Setiap hari tetap akan kuucapkan mantra itu.

Mungkin karena kita telah bersama, dapat bertemu tiap hari, kurasa tak perlu menuliskan apa-apa untukmu. Toh bisa kuucapkan langsung padamu walau dengan wajah malu. Tapi ternyata tetap saja aku rindu menulis tentangmu dengan caraku. Aku rindu mengisahkanmu kepada siapa saja yang tak sengaja tersesat di sini dan mampir membaca surat cinta yang kutujukan kepadamu. Aku rindu mengetikkan bait-bait perasaanku yang entah sempat kau baca atau tidak, yang jelas akan kupaksa anak-cucu kita untuk membacanya. Biar mereka tahu, mereka lahir dari cinta, bukan hanya sekedar aktivitas fisik untuk melepas birahi.

Banyak yang kita lewati bersama. Banyak tawa yang kita bagi berdua, kadang menertawakan kehidupan yang kita lewati, kadang menertawakan kebodohan yang kita lakukan, kadang menertawakan para komedian yang dibayar untuk membuat kita tertawa. Juga terselip beberapa pertengkaran yang membuat kita sama-sama merasa patah, membuatku menangis seperti tokoh protagonis yang selalu bernasib malang di sebuah opera sabun ternama, membuatmu membenci dirimu sendiri karena menjadi sebab aku menangis. Juga sebuah perjalanan pulang yang tidak kita rencanakan ketika orang yang kupanggil Papa meninggal, perjalanan singkat yang lebih banyak kita habiskan di atas kereta daripada di rumah karena jadwal kuliahku yang tak bisa dikompromikan lagi.

Kadang kita seperti dua anak kecil yang bermain bersama, kadang seperti sepasang kekasih yang kasmaran, kadang juga seperti dua orang yang tak saling mengenal. Kadang kita sangat saling mencintai, kadang saling cinta saja, kadang saling membenci tapi tetap saja cinta. Ya, aku dan kamu tak pernah bisa benar-benar saling membenci satu sama lain. Seberapa hebatpun kita saling melukai, tetap saja kita saling mencintai kembali walau kita tak bisa memastikan bahwa kita tak akan saling melukai lagi.

Sudah lama aku tak menulis tentangmu di sini. Membuatku bingung harus memulainya dari mana dan mengakhirinya di mana. Kuakhiri di sini saja kurasa. Sebelum tulisanku melantur kemana-mana dan membuat surat ini tak lagi cukup romantis.

 

-Teruntuk kamu yang duduk di belakangku dan sedang menonton stand up comedy bersamaku- 

Iklan

Pasti dicukupkan

Hai, udah lama banget ya saya ga nongol. Beberapa minggu bulan terakhir emang males banget log in ke wordpress. Bewe pun cuma sebatas diam-diam baca aja (silent reader maksudnya), jaraaaang banget ninggalin jejak. Malam ini sebenernya juga males buat nulis, tapi tadi habis baca tulisannya Baginda Ratu yang ini. Emang deh tulisan senior yang satu ini sering banget nampar saya, pipi kanan-pipi kiri lagi.

Perihal cukup (dan) ga cukup yang dibahas BagindaRatu ini juga sering banget seliweran di kehidupan saya. Nih ya, saya dan suami sama-sama kerja, di kementerian yang kata orang pegawainya paling makmur (masa sih?), belum punya anak. Nah, harusnya kami udah bisa nabung, investasi sana-sini dong. Ga juga. Suami sih masih bisa rajin nabung tiap bulan, malah sebelum beli rumah (yap, alhamdulillah kami udah beli rumah walau kredit) tabungan suami cukup fantastis menurut saya. Kalau saya, sama sekali ga bisa nabung, paling nyisa 1-2 juta aja di rekening, ga pernah sampe 8 digit. Bukan karena saya doyan jajan atau apa, tapi karena saya ada tanggungan lain, belum lagi beberapa bulan terakhir banyak banget pengeluaran tak terduga, jadi rekening makin tipis aja isinya.

Biasanya sih saya nyantai aja, alhamdulillah kalau pingin sesuatu masih bisa kesampaian dibeli. Nah, tapi semua berubah ketika kemarin kami beli rumah. Beli rumah ini sendiri sebenarnya di luar rencana. Waktu itu suami habis DL (sekalian pulang kampung) ke Jogja, terus pulang-pulang bilang mau beli rumah. Rumahnya sih biasa aja ya, tapi emang di bawah harga pasar karena yang punya lagi butuh banget duit. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya kami sepakat beli, investasi. Tau sendiri kan ya harga tanah dan rumah terus aja meroket, ditunda-tunda terus ntar malah ga beli-beli. Toh kalaupun ntar dijual lagi itung-itungannya, insyaAllah, kami tetap untung. Bisa lah buat batu loncatan beli rumah di Jakarta.

Nah, KPRnya kan cuma 70%. Sisanya kami masih ngutang, janji mau dilunasi tengah tahun nanti, pas rumahnya selesai dikontrakin.  Tabungan suami dah buat uang muka ama biaya-biaya jual-beli dan sertifikat, nyisa dikit. Masih nyantai sih, lima bulan ke depan kami dah bertekad buat berhemat, potong sana-potong sini, batalin beberapa rencana yang belum terlalu mendesak. Oke, perencanaannya dah matang, semoga eksekusinya lancar.

Udah? Selesai? Eit, ini baru pembuka (padahal dah sepanjang jalan kenangan). Baca lebih lanjut

Kersen

Kamu tau buah kersen? Itu loh buah yang kecil-kecil, kalau matang berwarna merah, dan pohonnya sering kita jumpai di pinggir jalan.
Dari kecil aku suka sekali buah kersen. Rasanya manis agak kesat. Tapi kalau mentah pahit, aku tidak suka. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari rasany4, tapi menyenangkan sekali untuk menyantapnya sehabis bersusah payah mengumpulkan buahnya.
Baca lebih lanjut

Kemana saja?

Waduh, ternyata lumayan lama ya ga ngeblog. Bewe aja sebatas baca-baca lewat notif di email, jarang banget komen. hehhehe. Ya kalau pasang alasan pasti banyak aja alasannya, jadi saya pasrah aja deh emang sayanya aja yang kurang usaha buat ngeblog. Padahal habis UAS kan saya lumayan tuh liburnya, walau sesekali disambi ngurusin salah satu kegiatan di kampus, tapi tetep turah-turah waktu luangnya. Tapi ya itu tadi, faktor M: Mualesssss banget nyalain laptop. Banyak yang lebih menggoda dari laptop dan internet.

Kalau ditanya kemana aja sih, saya ga ke mana-mana. Masih berkeliaran sekitar rumah dan kampus. Kalau ditanya ngapain aja, ini deh rangkumannya Baca lebih lanjut

anak-anak itu……..

let me tell you something, hari ini saya semakin respek kepada mereka-mereka yang menjalani profesi sebagai guru, terutama guru tk-sd. bener-bener ga mudah dan menuntut kesabaran tinggi.
semester ini saya dapat mata kuliah seminar pemberantasan korupsi, dan sebagai tugas akhir semester kami harus membuat dan melaksanakan suatu proyek yang menularkan semangat antikorupsi. kelompok saya memutuskan untuk menanamkab nilai-nilai anti korupsi sejak dini kepada anak-anak. dipilihlah siswa kelas 3 di salah satu sd dekat kampus kami.
Baca lebih lanjut

Kapan Hamil?

Wis oleh bati durung? Wis nyelengin belum? Udah isi?

Wah jangan tanya deh berapa kali kami dapat pertanyaan menjurus semacam itu selama liburan kemarin, baik dari pihak keluarga tuan suami ataupun saya. Apalagi kan emang dulu kami nikahnya abis lebaran, jadi ya udah setahun deh kami nikahnya, Alhamdulillah. Apalagi sepupu-sepupu saya yang nikahnya setelah saya dah pada hamil. Untung aja saya emang lebih muda, jadi masih dimaklumi. Cuma emang nyadar sih kalau orang tua dah mulai pada pengen nimang cucu. Ga nuntut, tapi sering banget obrolan tentang cucu muncul ke permukaan.

Kami emang sejak awal menikah sepakat untuk take it easy dulu, ga menunda tapi juga ga ngoyo untuk mendapatkan. Kami yakin Allah akan ngasih kami keturunan di saat yang paling tepat. Sempat sih saya kepikiran buat ikut program, tapi lebih karena ngiri ama pada temen-temen yang pada hamil. Biasalah wanita. Apalagi kan katanya mumpung kuliah, punya banyak waktu ngurus anak. Sempat tuh saya jadi bete dan nangis-nangis begitu dapat lagi-dapat lagi. Sementara temen-temen yang lain pada susul menyusul hamilnya.

Tapi akhirnya, pas puasa kemarin saya nyadar kalau punya anak itu bukan balapan, bukan buat cepet-cepetan. Emang kalau beneran hamil saya siap? Sekarang aja urusan rumah tangga masih sering keteteran. Belum lagi ternyata kuliah D4 itu ga sesantai yang saya pikir, tugasnya seabrek-abrek, terus habis melahirkan paling Cuma bisa ambil jatah 1-2 minggu, kecuali kalau mau cuti kuliah setahun. Kalau kerja kan bisa cuti melahirkan 3 bulan, bisa bener fokus ngurusin anak dulu sambil cari solusi ntar selama kerja siapa yang jaga si anak. Tiap kondisi ada plus-minusnya sendiri, dan saya yakin Allah tahu mana yang terbaik buat kami.

Belum lagi saya jadi kepikiran bahwa kami belum mempunyai kartu keluarga. Masih bingung prosesnya, terus mau bikin kartu keluarga di jember atau jogja. Pinginnya sih di Jakarta karena kan emang kami tinggalnya di Jakarta, tapi pake alamat siapa? Soalnya kemarin juga habis denger cerita tentang anak temen saya yang ga bisa dapat akta kelahiran karena orang tuanya belum ngurus kartu keluarga. Jadi pingin beresin urusan administrasi dulu baru punya anak. Tapi kapan sempatnya ya? kan ga bisa sering pulang kampung, terus mesti ngurus mutasi KTP salah satu dari kami terlebih dulu (yang dari cerita pengalaman temen saya prosesnya lumayan panjang). Ada yang bisa share prosesnya ga? Terutama yang kasusnya sama kayak saya, suami-istri berasal dari kota berbeda, sama-sama merantau demi mengais rezeki, dan belum punya rumah sendiri di tempat perantauan.

Back to topic, beberapa kali saya malah disangka udah hamidun gara2 emang tambah gendut, terutama di bagian perut. Yah saya sih cuma senyum-senyum ngaminin aja deh. Walau kadang juga penasaran sih yang tanya emang perhatian or sekedar basa-basi. Tapi udahlah yah, positif thinking aja deh. Untungnya saya “sadar”nya sebelum mudik, jadi ga perlu pake drama menghadapi pertanyaan2 itu. saya percaya semuanya udah diatur ama Allah SWT. lagian sekarang saya bener-bener sedang menikmati pacaran berdua ama suami. It’s really amazing. Saya udah ga pake muring-muring lagi ketika dapat, kan udah kodrat, lagipula itu nikmat berarti masih ada waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum dikunjungi, merealisasikan rencana-rencana yang telah dibuat, dan mencoba berbagai teknik yang belum dipraktikan.

Jadi kapan punya anak? Kalau Allah sudah berkehendak. 😀

Assalamualaikum Semuanya

Saya dan tuan suamih mengucapkan minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Walau idul fitri udah lewat belum terlambat kan ya untuk mengucapkan permohonan maaf segala kata dan tingkah laku yang menyakiti, mumpung syawalnya juga belum kelewatan.

Ga usah diitungin deh ya berapa bulan blog ini dianggurin gitu aja, bukan maksud hati menelantarkannya, tetapi beberapa kali hendak posting eh malah curhatanku yang sepanjang jalan kenangan itu malah raib akibat sinyal modem yang timbul tenggelam. Jadi mutung deh ama wordpress, padahal bukan salah wordpress kan ya, tapi ya sudah, berhubung masih dalam suasana lebaran saya mencoba menjalin hubungan mesra dengan blog ini. Baca lebih lanjut