Masaaak?

sumber: lilydesign01.com

sumber: lilydesign01.com

Masak, bukan hobi sih sebenarnya. Aku lebih suka makannya daripada masak #yaiyalah.. Sejak kapan ya bisa masak? Kayaknya pas kuliah deh, mulai tahun kedua, sejak pindah ke Aput ya ada dapurnya. Belum lagi teman-teman kos waktu itu juga suka masak, apalagi kalau weekend. Jadilah aku pun ikutan masak, dari yang cuma sekedar goreng telur, masak sarden, oseng-oseng, hingga spagheti. Ah, nulis postingan ini bikin kangen anak Aput, cewek-cewek manis yang udah kayak saudara sendiri. *kecup jauh buat aputers.* Hua, pingin lagi itu masak rame-rame bareng kalian.

Kalau jamannya masih sekolah sih, anak mami banget. Paling banter kalau main ke dapur bantuin kupas-iris bawang doang, yah kalau goreng telur sama masak mie instan ga masuk hitungan lah ya. Jadinya pas kuliah, kalau lagi pingin bereksperimen ya gugling resepnya atau tanya supermama. Dan entah ya, dari dulu, aku itu kalau masak sembarangan. Ga pernah pake takar-takaran, by feeling semuanya. Paling aku lihat bahannya apa aja, ya udah deh, campur aja sesuka hati. Huahahaha. Dan lagi, aku itu sukanya main campur bahan sesuka hati, adanya isi kulkas itu apa ya udah masukin aja, sok pinter bikin resep sendiri. Emang sih kadang ada yang sukses kayak puding coklat waktu itu, tapi ada juga yang rasa/tampilannya jadi aneh. Hahahaha. Tapi temen kosku dulu sempet ada yang bilang kalau sebenarnya aku ini “bisa” masak, sesembarangan apapun aku masaknya, tetep aja “bisa” dimakan jugalah hasilnya. Pernah juga waktu itu iseng-iseng masak sup tahu, (ini lihat resepnya sekilas, sisanya improvisasi), katanya sih enak, tapi jangan ditanya deh bahan-bahan dan sebagainya, beneran itu asal nyampur masaknya. Baca lebih lanjut

It’s not my dream, but it will be the way to chase my dream

Rabu, 14 Maret 2012

Semalam, baru saja saya mendapat sms dari teman saya, Tyas, bahwa SK PNS para CPNS Ditjen Perbendaharaan Wilayah Sulawesi Tenggara sudah ditanda tangani. Yap, now I am officially a civil cervant. Bersyukur banget saya, selain pemasukan bertambah (gaji akhirnya diterima 100%) udah dapat hak-hak PNS secara penuh juga saya, termasuk salah satunya ngajuin cuti menikah #eaaa. Tapi entah kenapa, bahagia saya biasa saja, ga meledak-ledak kayak waktu keterima STAN ataupun wisuda. Flat. Datar.

Sampe akhirnya pun saya mampir ke blog Tyas dan baca postingan teranyarnya: Happy Being Me. Dari pertama mengenalnya saya tahu kalau passion dia ada di bidang jurnalistik, berkali-kali ditulisnya bahwa menjadi seorang jurnalis adalah salah satu mimpinya. Dan saya? Di antara ribuan alumni dan mahasiswa STAN tentu bukan hanya Tyas dan saya yang “nyasar” ke sekolah kedinasan itu. Banyak, banyak banget yang sebelumnya ga pernah bermimpi jadi pegawai negeri dan tiba-tiba sekarang hidupnya berubah menjadi sebuah rutinitas menjemukan.

Banyak faktor yang membuat seseorang masuk STAN, mulai dari keinginan pribadi, terbatasnya biaya (dan di STAN kuliahnya gratis), ikut-ikutan teman, hingga paksaan orang tua. Saya termasuk yang mana? Entahlah, sepertinya gabungan keempat faktor di atas. Baca lebih lanjut

Berencana (lagi)

Yeeey,, Pulau Jawa nun jauh di sana, tunggu saya menginjakkan kaki di haribaanmu lagi.. Yap, insyaAllah saya jadi ikut bimtek yang saya singgung dari jauh-jauh hari itu. Alhamdulillah =D

—–

Well, sebelumnya bukan karena saya ga sadar situasi atau ga punya empati ya, di saat dua orang rekan tertimpa musibah saya malah posting hepi-hepi begini. Bukan karena saya ga care, tapi saya speechless, ga tahu mesti berkata apa ga berani juga mesti menggiring opini ke mana. Tapi tentunya saya selalu mendukung dan mendoakan pak AIS dan mas ER. Lagipula sudah banyak rekan yang menuliskan kisah kedua pejuang reformasi birokrasi di Kemenkeu tersebut, buat yang penasaran monggo singgah di:

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/01/10/solidaritas-untuk-ujung-tombak-penyerapan-apbn/

—–

Back to topic, yap.. Finally panggilan bimtek itu datang, dan saya sudah regis onlen, sudah disuruh pak KK buat siap2, sudah pesen sebagian tiket, dan sudah planning ini-itu. Well, although I hate making a plan, I still need to do it -__-” Mau ga mau harus saya akui, berencana itu teramat menyenangkan, tapi kalau tiba-tiba rencananya buyar/gagal, jelas-jelas itu nyakitin. Baca lebih lanjut

How old am I?

Sebelum mulai ngoceh di sini, saya mau tanya dulu nih buat para pengunjung Dunia Pagi. Saat pertama kali berkunjung ke sini, sebelum membaca profil saya, anda kira saya usia berapa? Jawab yang jujur ya.

Kemarin sempat ada perdebatan kocak di surat kalengnya Dhenok Habibie, banyak yang tidak menyangka ternyata kalau saya masih di usia awal 20. Hahaha, tertawa sendiri saya membaca komentar-komentar di Gamazoe tentang usia saya. Buat yang belum tahu, saya lahir 26 Mei 1991 (menerima kado di ulang tahun saya), itu berarti usia saya pada saat tulisan ini diketik masih/sudah 20 tahun.

Bukan pengalaman pertama sebenarnya, orang salah memprediksi umur saya. Tapi biasanya, orang yang bertemu langsung dengan saya untuk pertama kalinya, belum kenal saya, suka menganggap saya masih kuliah, dan yang lebih parah lagi menyangka saya masih anak SMP. Mungkin karena tubuh saya yang mungil (kalau tidak mau dibilang kontet), dandanan saya yang natural (aslinya emang ga bisa dandan), dan suara saya yang kayak anak kecil (ini bukan dibuat-buat, emang aslinya begitu), makanya mereka ga nyangka kalau status saya sekarang CPNS. Baca lebih lanjut

Haruskah di Jakarta?

Sebelum ada yang tanya ke mana es krimnya.. saya beritahukan dulu bahwa es krimnya saya sembunyikan di kulkas, biar ga ada yang nyuri 😛

Kalau saya sih, udah kebal sama isu penempatan, wong udah hampir empat bulan nasib saya sudah digariskan, penempatan di Baubau, Kota semerbak. Walau sempat jatuh bangun, toh ternyata terbukti saya bisa bertahan hidup, sehat walafiat dan curiganya malah tambah gendut aja. Tapi mungkin adik kelas saya yang baru aja wisuda tanggal 12 kemarin lah yang deg-degan tiap kali denger kata penempatan, sambil komat-kamit berdoa.

Sebagai lulusan STAN yang udah tanda tangan surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja, saya tahu bener rasanya nungguin pengumuman penempatan itu. Mulai dari penempatan instansi sampai penempatan definitif.

Yang nantinya dapat instansi pusat (yang kantornya cuma di Jakarta) bisa bernafas lega untuk sementara. Kenapa sementara? Karena tidak menutup kemungkinan instansi tersebut membuka kantor vertikal di daerah nantinya. Bagi yang dapat instansi macam DJPB, DJP, DJKN, DJBC yang kantornya tersebar hampir ke seluruh pelosok Indonesia, deg-degannya diperpanjang sampai nanti ketok palu penempatan definitif.

Saya udah ngerasain deg-degan itu, komplit. Dan jujur, setahun ini pola pikir saya banyak berubah. Dari yang awalnya males banget penempatan Jakarta karena macet, panas, biaya hidup mahal, dan lain-lain. Hingga merindukan monas beserta seseorang yang mengais rezeki di sana.

Baca lebih lanjut