Tersesat di Desa Boneka

Masih belum mood nulis yang berat-berat ataupun sok-sokan puitis. Males juga kalau mesti posting galau-galau lagi. Dan berhubung entah kenapa hari ini terasa sangat membosankan, saya pun blogjumping ke desa tetangga: blogspot, tapi teteup males komen -.-

Eh, pengantarnya ga penting banget ya? Sori beri, hehhee. Intinya saya itu kesasar di Desa Boneka yang penduduknya adalah makhluk-makhluk super imut dan cute. Mata saya langsung belo to the maks, beneran sakti kreatornya.

Ga percaya? Nih buktinya:

Penduduk Desa Boneka

Penduduk Desa Boneka

Baca lebih lanjut

Ambrosia

Menurut bung wikipedia Ambrosia merupakan makanan/minuman dewa-dewi yunani, dan seringkali disebut dapat memberi kehidupan yang abadi bagi siapapun yang memakannya.

Bukan mitologi dewa-dewi yunani yang mau saya bahas, melainkan sebuah buku berisi sekumpulan tulisan salah seorang teman maya saya, Lulabi. Lulabi ini adalah salah satu teman blogger yang paling awal saya kenal, tapi saya lupa kapan pastinya mulai sering mampir ke blognya, yang jelas sejak pertama kali baca tulisan-tulisannya saya langsung jatuh cinta (pada tulisannya lho ya, bukan penulisnya). Unik menurut saya, saya suka cara abi memandang suatu hal dari sudut yang berbeda. Itulah kenapa begitu tahu abi membukukan sebagian tulisannya, saya langsung menghubunginya dan memesan satu untuk koleksi pribadi.

Di dalam matamu terdapat labirin super-rumit dengan sebongkah keju di ujungnya, dan aku adalah tikus yang kebingungan di titik start

Baca lebih lanjut

Book Review: 2

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Udah lama ga ikutan kontes, sekarang coba-coba peruntungan lagi lewat kontes Book Reviewnya Pakdhe Cholik. Awalnya sih mau review Langkah Mudah Meraup Dollar Lewat Internet pemberian Pakdhe kapan hari, sapa tahu dapat nilai tambah. Sayangnya saya baru seperempat jalan baca buku itu, selain itu saya juga kurang pinter ngereview buku nonfiksi, ya sudahlah saya putuskan untuk mereview buku yang lagi saya baca. Berikut ini bukunya:

2 Donny Dhirgantoro

 

Judul: 2

Pengarang:  Donny Dhirgantoro

Penerbit: Grasindo

Jumlah Halaman: 418 halaman

Harga: Rp60.000,00

Bagi yang udah pernah baca novel 5 cm pastinya udah tahu siapa Donny Dhirgantoro. Yak, 5 cm adalah novel pertama Bung Donny, dan sesuai dengan judulnya, novel 2 ini adalah karya keduanya. Kalau di novel 5 cm saya merasa gaya penulisannya agak monoton, di novelnya kali ini Donny Dhirgantoro lebih luwes dalam bercerita.

Bila dilihat dari covernya yang bernuansa merah putih, bisa ditebak bahwa novel ini tak jauh-jauh menceritakan tentang nasionalisme. Ya, memang. Di sela-sela cerita tentang keharmonisan sebuah keluarga, masa kecil penuh kenangan, romantisme cinta masa remaja, dan kegigihan perjuangan seorang anak manusia untuk terus hidup, terselip sebuah semangat dan kecintaan pada tanah air yang membuat pembacanya merasakan semangat juang yang sama untuk membanggakan Indonesia.

Novel ini dibuka dengan kisah kelahiran Gusni, sang tokoh utama, yang membuat keluarga maupun para suster dan dokter di rumah sakit tercengang karena ukurannya yang jumbo. Pembukaan yang benar-benar ciamik menurut saya, berhasil membuat saya ikut merasakan ketegangan Papa saat menanti kelahiran anak keduanya,  sekaligus tertawa-tawa membayangkan kejadian-kejadian kocak yang diselipkan sang penulis dengan cantiknya di bab pertama. Sepulangnya dari rumah sakit, kehadiran Gusni tidak disambut baik oleh Gita, kakaknya. Gita merasa Gusni merebut perhatian dan kasih sayang Papa dan Mama padanya. Untungnya Papa berhasil meyakinkan Gita bahwa mereka berdua adalah anak kesayangan Papa dan Mama. Saya rasa para orang tua perlu juga belajar dari Papa bagaimana mengatasi kecemburuan anak pertama. -Lanjut baca>

Saya tidak suka cerita seperti ini

Mata saya sedang produktif hari ini, berkebalikan dengan anggota tubuh yang lainnya, hanya bergulingan di kasur seharian. Perhatian saya yang biasanya tersita oleh pendar-pendar layar laptop 17′ kini teralihkan pada 2 novel pinjaman dari teman kos saya. “9 dari Nadira” karya Leila S. Chudori dan “Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin” karya Tere-liye. Penculikan laptop saya telah membuat saya kembali bercinta dengan kata-kata pada lembar kertas yang berdesir tiap dibalikkan.

Dua novel itu sama-sama mendongengkan cinta, cinta yang patah dan bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak sanggup memiliki. Dua jalinan cerita itu sama-sama merajut kisah akan cinta yang terlambat disadari dan diungkapkan. Tentang cinta yang tak berakhir bahagia, hanya berujung pada penyesalan dan kekecewaan. Tak heran jika saya menjelma menjadi makhluk melankolis hari ini.

Cerita itu terasa sangat nyata karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengiris pelan-pelan sugesti yang tak hentinya kita tanamkan dalam pikiran sendiri tiap kalinya, bahwa cukup mencintai dan dicintai. Membuat kita meragukan dan mempertanyakan eksistensi cinta itu sendiri.

Dua buku ini juga sama-sama menyinggung ketimpangan sebuah mahligai pernikahan yang hanya dikemudikan cinta yang bertepuk sebelah tangan, oleng dan rapuh. Bercinta akan sepasang yang tak saling mencintai. Satu orang hanya mencintai, yang satunya hanya dicintai.

Sebuah pepatah kuno pernah terdengar:

Seorang wanita berhak mendapatkan lelaki yang mencintainya maka dia akan bahagia, sedangkan seorang lelaki berhak mendapatkan wanita yang dia cintai agar dia bahagia.

Sebuah pepatah dungu menurut saya, timpang. Cinta itu harus dari dua sisi. Setiap orang berhak mendapatkan pasangan yang dicintainya dan juga mencintainya. Itu syarat mutlak untuk bahagia, kecuali kalau dia tak berkeberatan untuk menipu dirinya sendiri setiap harinya, berpura-pura merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang semu dan fiksi.

Buku ini juga mengalunkan cinta yang terlambat. Cinta yang disampaikan justru pada saat kebahagian itu tak mungkin terjangkau. Cinta yang menorehkan luka dan hanya menyisakan penyesalan.

Dan saya sungguh merutuk orang-orang seperti itu. Memendam perasaannya bertahun-tahun, membohongi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Orang yang membuat sebuah pernikahan tidak terasa sakral lagi, membiarkan pernikahan itu berdiri tanpa dilandasi rasa saling mencintai. Dan pada akhirnya yang menjadi korban  bukan hanya dirinya sendiri, melainkan juga orang yang dicintainya (yang mungkin balik mencintainya) dan orang yang mencintainya (yang tertipu mentah-mentah oleh rasa cintanya yang palsu).

Hubungan yang hanya dilandasi cinta sebelah tangan sangatlah rapuh, tak mungkin bertahan lama. Kalaupun sanggup bertahan, semua itu hanya akan menjadi penjara yang berdiri di atas puing-puing. Kisahnya akan berakhir dengan luka, rasa patah, dan penyesalan berkepanjangan.

Kita tidak pernah tahu perasaan orang lain, maka cari tahulah apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Kalaupun ternyata tidak, terkadang pengakuan itu merupakan langkah awal untuk melupakan dan merelakan. Pastikan saja semua itu tidak terlambat diungkapkan.

Little Miss Sunshine

Baru aja selesai nonton Little Miss Sunshine, mungkin memang bisa dibilang sedikit terlambat karena film ini dirilis 20 Januari 2006, 4 tahun lalu. Tapi saya tidak menyesal menontonnya, film ini layak untuk ditonton.

Little Miss Sunshin merupakan sebuah film indie dengan cerita yang ringan. Film ini bergenre drama-komedi dengan sutradara pasutri Jonathan Dayton dan Valerie Faris. Film yang skenarionya ditulis oleh Michael Arndt ini menceritakan sebuah keluarga dengan berbagai ketidaksempurnaan dan problematika yang ada.

Film ini menceritakan sebuah keluarga yang sedang dalam perjalanan mengantarkan Olive (abigail breslin) untuk mengikuti kontes kecantikan Little miss sunshine pageant. Ayah Olive, Richard (greg kinnear), adalah seorang motivator yang menciptakan teori 9 langkah menuju sukses, padahal dia sendiri sebenarnya adalah seorang yang gagal. Sang ibu, Sheryl (Toni Collete), adalah ibu rumah tangga biasa yang berusaha tetap menjaga keutuhan keluarganya yang penuh konflik. Kakak Olive, Dwayne (paul dano), adalah pengikut fanatik Nietzsche dan sedang puasa bicara sampai cita-citanya menjadi pilot pesawat jet tercapai. Frank (steve carrel), adik sheryl sekaligus paman olive, adalah seorang homoseksual yang baru saja sembuh dari usaha bunuhdirinya. sedangkan kakek Olive, Edwin (Alan Arkin) adalah seorang pencandu mesum.

berbagai rintangan dan konflik muncul selama perjalanan menuju California, tempat kontes Little miss sunshine diselenggarakan. dimulai dari penjualan mobil van mereka yang rusak, buku Richard yang gagal dan kenyataan bahwa mereka hampir bangkrut, kematian Edwin, kenyataan bahwa Dwayne buta warna dan tidak dapat menjadi pilot, dan akhirnya kegagalan Olive untuk menang.

sebuah cerita yang ringan dan sederhana, begitu dekat dengan kehidupan sehari-sehari. tapi justru itulah kita dapat belajar dari film ini tanpa merasa dihakimi. saya trenyuh ketika melihat endingnya, ketika oran-orang mengertawakan olive saat menari di babak pertunjukan bakat. seluruh anggota keluarganya terus mendukung dan menyemangati olive sampai akhir, dan memang begitulah seharusnya sebuah keluarga.

sebuah keluarga haruslah saling mendukung dan menyemangati, apa pun yang terjadi. sebuah keluarga harus menerima apa adanya. bukan justru ikut-ikutan mengecam dan mengucilkan. sebuah keluarga adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa perlu khawatir akan tanggapan orang lain. ketidaksempurnaan masing-masing anggota keluarga adalah sebuah warna dalam kehidupan. justru itulah fungsinya keluarga, saling melengkapi.