Teori segitiga Aput “–tingkat kecerdasan-tingkat kecakepan- kemampuan bersosialisasi-“

*diprakarsai oleh ,Amela Erliana Christine, Hana Anggraini, Rizka Wulandari, dan Tulad Kharisma. Sebagai bukti bahwa terkadang apa yang kami obrolkan adalah sesuatu yang bermutu dan layak dibagi pada orang lain.

Senin, 14 Desember 2009. Dini Hari. Kamar Rizka Wulandari AKA Iwul.
Lagi- lagi berawal dari obrolan ga jelas tengah malam di kos Adilla Putri di mana penggagasnya adalah saia dan Iwul. Yah, layaknya cewek-cewek pada umumnya, yang kami lakukan tentulah bergosip bersama dengan sesekali diselipin curcol, sebuah rutinitas yang sering kami lakukan sebelum tidur. Tak lama kemudian Tulad Kharisma (baca:Ntul) pun masuk seraya membawa sebungkus nasi goreng (Btw, nasi gorengnya enak. Wahai teman yang membelikan Ntul nasi goreng, anda beli di mana?) dan ikut serta dalam obrolan kami. Kami pun bergosip bertiga dilanjutkan mendengar curcol Ntul. Beberapa menit kemudian, Hana anggraeni (alias Hanuy) pun masuk dengan membawa sebungkus nasi dan sepotong ayam bakar, numpang makan di kamar Iwul. Akhirnya sekte sesat Aput pun lengkap anggotanya, kami pun memulai ritual kami.

Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba kami pun menciptakan sebuah teori paling mutakhir dalam bidang psikologi yang kami sebut dengan : Teori segitiga Aput (Akhirnya kami melakukan hal yanvg berguna bagi umat manusia, yang kurang lebih isinya seperti ini:

Pada dasarnya manusia itu dinilai dari tiga sudut, yaitu tingkat kecerdasan, tingkat kecakepan, dan kemampuan bersosialisasi, di mana ketiga hal itu dapat diumpamakan sebagai sebuah segitiga. Kebanyakan orang dapat diibaratkan sebagai segitiga yang mendatar, tidak ada yang mencolok ataupun menonjol dari ketiga sisi itu. Kita jarang memperhatikan orang-orang tersebut karena posisinya yang horisontal membuat kita yang sedang menatap lurus ke depan tak dapat melihatnya.

Beberapa orang diberi kelebihan si salah satu atau dua sudut. Orang seperti ini memiliki segitiga dengan posisi vertikal. Tapi layaknya semua segitiga, jika satu sudutnya berada di atas maka dua yang sudut lainnya ada berada jauh di bawah, jika dua sudutnya ada di atas maka sudut yang lainnya berada jauh di bawah. Hal itu adalah sebuah kewajaran. Kodrat.

Contoh:

-ada orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, tampang biasa aja, tapi kemampuan sosialisasinya dibawah garis merah (segitiga ijo)
-ada orang yang sangat cakep, sayangnya bego dan tidak mampu bergaul (segitiga kuning)
-ada orang yang punya banyak teman dan mudah bergaul, tampang lumayan di atas rata-rata, tapi tidak terlalu pintar. (segitiga biru)

Yah, itulah manusia memang, tidak ada yang sempurna. Dan karena ketidaksempurnaan itulah kita disebut manusia. Jika kita ingin menonjolkan satu sisi kehidupan kita, mau tidak mau kita harus merelakan penurunan di sisi yang lain. Dan itulah hidup, kalau ga begitu nanti ga bakal ada yang bisa kita omongin, ga ada topik yang cukup menarik buat diobrolin.

Memang sih terkadang ada anomali. Selalu ada pengecualian. Ada beberapa orang yang diberi anugerah berlebih. Baik tingkat kecerdasan, tingkat kecakepan dan kemampuan bersosialisasi, semuanya seimbang. Tapi orang-orang seperti ini justru adalah orang yang bakal jarang hadir dalam topik-topik obrolan kita. Kenapa? Karena ga asik ngobrolin mereka. mereka tidak punya celah. Misalnya Jika kita ngobrolin mereka:
“Eh, tau ga sih, orang ini udah cakep, pinter, baik lagi. Pokoknya keren deh.”
Udah. Titik. Ga ada yang perlu dibahas. Karena semua itu fakta, semua orang udah setuju. Jadi ga ada yang perlu diperdebatkan. Ga ada yang perlu dimasalahkan.

Beda lagi kalo kita ngobrolin orang yang seperti ini:
“Emang sih aku salut ma dia. Dia pinter banget. Cerdas. Tapi sayangnya dia sok kecakepan dan nyebelinnya minta ampun,”
“Cakep sih emang, tapi bego. Masak presiden amerika aja ga tau. Mana rese banget lagi orangnya. Sombong banget.”
“Yah, walaupun ga terlalu pinter n’ biasa-biasa aja, tapi orangnya baik banget tau. Dia selalu bantuin kalo ada yang kerepotan.”
Topik ini akan sangat menarik buat dilanjutin. Orang lainnya pasti akan menimpali, entah membela atau juga mengeluarkan pendapat lain. Obrolan ini sangat berpotensi buat dilanjutin dan akhirnya berkembang menjadi diskusi berkepanjangan. Justru ketimpangan itulah yang membuatnya menarik untuk dibicarakan.

Karena si empunya kamar udah ngantuk dan ingin tidur, akhirnya ritual kami diakhiri. Pertemuan ditutup dengan kesimpulan bahwa tingkat kecerdasan dan kecakepan itu cenderung berkebalikan dengan kemampuan sosial.
Kurang lebih begitulah teori yang berhasil kami rumuskan. Jika ada yang tidak setuju atau ada yang ingin ditambahkan silahkan dibantah.
14 Desember 2009

(Huaaa, kangen banget masa-masa kuliah, dengan obrolan geje tengah malem bareng anak-anak kos)

Merindukan masa-masa kuliah

Weekend ini saya akan berlibur ke Jurangmangu lagi. Jurangmangu seakan-akan sudah menjadi kampung halaman kedua saya. Tiga tahun berkuliah di STAN membuat saya sudah sangat betah di sana. Apalagi penghuni Adilla Putri selalu berbaik hati menerima saya, mereka sudah menjadi keluarga kesekian saya.
Sebenarnya saya sedikit malas untuk ke Jurangmangu lagi minggu ini, malas menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Tapi tentu saja saya tidak bisa melewatkan salah satu event tahunan yang diadakan di almamater saya itu, satu dari sedikit event yang saya anggap sukses menyatukan mahasiswa-mahasiswa STAN yang cenderung apatis. Heritage and Organda Expo (HOE). Sebuah gabungan antara bazar makanan khas daerah dan pentas kesenian daerah. Acara di mana organisasi daerah mahasiswa STAN saling bersaing sekaligus saling mengenal budaya masing-masing. Sekali setahun, menikmati makanan dan mengenal budaya dari berbagai daerah. Apalagi beberapa (mantan) teman kos saya ada yang akan tampil dalam pentas kesenian itu, tidak mungkin kan saya melewatkan event besar ini.
Acara HOE memiliki kenangan tersendiri bagi saya. HOE 2010 bisa dibilang merupakan pertama kalinya saya go public dengan si om-om genit. Maklum, kami baru jadian, dan hanya segelintir orang yang tahu, sebagian lainnya menebak-menebak mungkin. Dengan datang ke acara itu bersama, tentu saja saya sudah menjawab pertanyaan orang-orang tentang kami secara tidak langsung.

Saya suka melihat antusiasme dan kreativitas pemuda-pemudi STAN yang sempat saya temukan juga di final STAN Alert minggu lalu. Sepertinya apatisme itu mulai terkikis perlahan-lahan, dan semoga akan hilang sepenuhnya kemudian hari. Sayang sekali jika melewatkan masa kuliah hanya antara ruang kuliah dan kamar kosan.

Saya bukan termasuk mahasiswa apatis, yah terkadang apatis dalam beberapa hal,tapi saya cukup sering menyibukkan diri dengan acara-acara kampus. Tapi kini,saat saya sudah tidak bisa seliweran sok sibuk di event-event kampus sebagai panitia lagi, saya sedikit menyesal, saya merasa kurang. Saya masih ingin terlibat, merasakan lelah mempersiapkan suatu acara lalu merasa puas saat acara itu sukses. Ingin rasanya kembali ke masa kuliah dan menjadi penting di sana.

Perasaan ini begitu terasa saat saya datang di final STAN Alert, sebuah acara pentas kesenian di STAN yang bisa dibilang Teater Alir sebagai Event Organisernya,, dan saya iri, kenapa acara sekeren ini tidak diadakan waktu saya masih kuliah. Sebagai Teater Alir waktu itu, saya optimis saya akan jadi panitia penyelenggaranya.Sayangnya sekarang saya sudah lulus, jadi saya hanya bisa menjadi penonton.

Waktu itu saya juga merasa asing. Wajah-wajah yang saya temui waktu menonton final STAN Alert hanya sedikit sekali yang saya kenal.Padahal biasanya kalau saya datang ke acara semacam ini, sepanjang acara pasti saya akan sibuk tersenyum dan menyapa orang-orang yang saya kenal.Ngobrol tentang hal-hal remeh yang menyenangkan. Sayangnya sekarang saya sudah lulus, dan teman-teman saya pun sudah tersebar ke berbag tempat. Saya rindu saat-saat kuliah saya.

Satu yang senang dari HOE adalah, event ini sudah begitu spesial bagi mahasiswa ataupun anak STAN, benar-benar sebuah event yang dapat menyatukan berbagai suku dan perbedaan. Tak heran kalau banyak alumni, tidak hanya angkatan saya, yang masih tinggal di jakarta dan sekitarnya menyempatkan datang. HOE sudah menjadi acara reuni tidak resmi bagi kami. Saya pun bisa sedikit merasakan nostalgia saat kuliah, bertemu orang-orang yang saya kenal, menyapa, bertukar kabar, bicara tentanghal-hal remeh yang menyenangkan.

Saya harap kampus ini akan terus berkembang, semoga makin banyak acara-acara yang menarik untuk dikunjungi, yang mampu menarik mahasiswa-mahasiswa apatis STAN untuk keluar dari liang persembunyian dan berbaur bersama

Last Post via Wireless Adilla Putri Yang Labil

Yup, sampai juga kita di penghujung bulan Agustus. Itu artinya masih ada dua hari kompre, makin dekat deadline saya untuk pindah kosan, 3 hari lagi saya pulang dan bisa makan masakan ibu, dan akses internet kosan bukan hak saya lagi.
Emang sih speedynya belum dicabut, suplai wireles masih terus mengalir karena tidak ada yang sempat mutusin speedynya. Tapi berhubung bentar lagi kami kaum tingkat tiga bakal hengkang dari kosan dan g ikut urunan speedy, ya berarti saya sudah tidak berhak menggunakan fasilitas ini dong. Jadi bisa dibilang ini posting terakhir saya yang dipublish via wireless aput yang sudah menemani hari-hari saya dikosan selama 8 bulan, walaupun kadang suka putus nyambung dan lemotnya minta ampun, ngalah-ngalahin anak abg labil.
8 bulan yang sungguh eksis, karena saya selalu go online, bahkan sempat menjadi bandar kisi-kisi di semester 5. Membuat saya jadi apdet dengan berita terbaru, membuat saya bisa donlot ini-itu tanpa ke warnet, dan tentunya berhasil membuat saya jadi makhluk anti sosialis yang sanggup guling-gulingan depan laptop seharian penuh. Masa muda yang bergelora *apadeh*
saya harap tidak ada yang merindukan kepergian saya dari daftar orang yang selalu online.
tapi tenang saja, ini hanya untuk sementara. Nanti kalau ada rezeki pasti saya kembali online, akan saya aktifkan fasilitas modem saya.

Saya bukan memutuskan hubungan dengan dunia maya, saya hanya break sebentar

.
nb: thanks buat anak aput, atas kekompakannya dalam membayar iuran speedy selama ini.
nbb: doakan saya sukes ujian kompre
nbbb: udah ga sabar pulang ke rumah..

Terperangkap!

Berhubungan dengan postingan saya sebelumnya. Saya berhasil berdamai dengan kesunyian, Saudara-saudara! Dan entah ini berita bagus atau sebaliknya, saya menjadi terlalu akrab dengannya. Saya menjadi terlalu terbiasa dengan kesendirian. Saya memisahkan diri dari dunia luar. Membangun liang yang nyaman dan secara tidak lansung memenjarakan saya, membuat saya asyik dengan rasa sepi.

Saya merasa nyaman dalam kamar saya, enggan keluar, enggan menyapa orang-orang, enggan berbicara. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, malas menyentuh sinar matahari, malas bergabung dengan keramaian, malas memulai pembicaraan. Yang saya butuhkan hanya air, oksigen, cahaya lampu, dan laptop saya. Saya membentuk kepompong, tak ingin bersinggungan dengan dunia luar.

Dan jika dipikir-pikir, hidup begini tak ada salahnya. Toh saya merasa nyaman. Makin lama makin nyaman, dan makin tak butuh orang lain. Cukup diri saya sendiri, cukup saya dalam kamar saya. Saya benar-benar menjadi terlalu terbiasa sendiri, dan makin lama makin terbiasa. Saya bermetarmorfosis menjadi makhluk yang sangat tidak sosial, antisosialis. Saya menjadi apatis, tidak peduli apa pun yang terjadi di luar sana, selama itu tidak mengusik saya, selama itu tidak mengganggu ketenangan saya. Kemampuan bergaul saya benar-benar terdegradasi.

Sebagian diri saya ada yang berteriak menyuruh saya keluar, menyapa dunia. Tapi teriakannya tak cukup kuat untuk benar-benar membuat saya keluar. Saya sudah menjadi terlalu apatis. Tak butuh siapa-siapa. Toh juga tidak ada yang peduli, tidak ada yang merasa dirugikan kan? Butuh lebih dari saya sendiri untuk mengeluarkan saya dari liang ini. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membuat saya keluar kamar.

Jangan heran kalau kebetulan saya keluar anda melihat saya murung. Saya tak bermaksud untuk terlihat murung, tapi saya memang tidak ingin tersenyum, tidak ada cukup alasan, tidak ada yang dapat membuat saya tersenyum. Saya tak lagi nyaman bertemu orang-orang, saya tak lagi nyaman bertegur sapa. Saya lupa bagaimana caranya berbincang-bincang. Beberapa hari ini sudah saya coba, entah kenapa setelah pembicaraan selesai, saya merasa hampa, sia-sia. Saya lebih suka tetap ada di dalam kamar, berkutat dengan diri saya sendiri.

Saya sudah mencoba meminta seseorang untuk memaksa saya keluar, mengembalikan kemampuan saya berkomunikasi. Gagal. Entah saya yang sudah merasa terlalu suka begini, atau orang tersebut yang tak mau berusaha lebih keras.

Mungkin hanya butuh beberapa hari sampai saya benar-benar tak peduli dunia. Mungkin minggu depan saya sudah benar-benar lupa caranya membuat orang lain senang, lupa caranya tersenyum, walaupun itu pura-pura sekalipun.

Saya tidak akan lagi meminta tolong agar seseorang mengeluarkan saya dari sini. Saya hanya ingin minta pengertiannya jika saya nanti bukan Amel yang ceria, ramah, cerewet, usil, seperti yang kalian kenal. Saya hanya mohon jangan heran jika saya berubah menjadi ketus, jutek, murung, dan membosankan. Toh saya tak peduli apa pendapat anda.

Berdamai dengan sepi

Pernahkah kalian merasa begitu kesepian, padahal di sekeliling kalian penuh orang yang kalian kenal?

Saya sering merasakannya, dan sedang merasakannya.

Rasa itu tiba-tiba saja datang, tak diundang, memenuhi sel-sel kelabu otak saya dengan rasa yang entah apa namanya.

Dan mungkin kalau saya tak punya cukup iman, saya bisa bunuh diri hanya untuk mengakhiri kesendirian ini.

Jangan pernah meremehkan kesunyian, kesendirian, dan kesepian. Mereka adalah pembunuh yang lebih kejam dari benci dan sakit hati. Membunuh pelan-pelan.

Jika tiba-tiba rasa kesepian itu datang, keluarlah, dobrak segala pembatas yang membuatmu terpisah dari dunia.

Sapalah orang-orang yang kau kenal, bicaralah, berceritalah, tentang apapun. Jangan biarkan rasa sepi itu menguasai jalan pikiranmu.

Cara ini cukup ampuh untuk menghilangkan rasa kesendirian itu. Terkadang.

Namun jikalau rasa sepi yang berkecamuk sudah akut, cara tersebut hanya akan bekerja sementara.

Saat kau kembali ke zona amanmu, saat kau tak lagi mendengar suara tawa orang lain, saat kau kembali sendiri, biasanya rasa kesepian itu akan semakin kuat.

Membuatmu tak tahu harus berbuat apa. Membuatmu merasa tak berguna. Membuatmu marah pada diri sendiri. Seperti saya sekarang.

Jika itu yang terjadi. Satu-satunya cara yang ampuh hanyalah berdamai dengan sepi.

Biarkan dia menguasai waktumu, tapi jangan biarkan dia mengendalikan dirimu.

Nikmati saja kesendirian itu, mungkin beberapa tahun lagi kau tak akan punya waktu untuk dirimu sendiri.

Renungkanlah segala sesuatu yang telah kau lewati. Bicaralah pada dirimu sendiri. Dan tidurlah begitu kau lelah.