Mei

Mei itu selalu menjadi bulan spesial buat saya dan tuan suami. Karena pada bulan inilah kami merayakan hari kelahiran kami.

Tanggal 26 Mei kemarin saya resmi menginjakkan kaki di usia 23 tahun. Dan hari ini tuan suami tepat berusia 27 tahun.

Tahun ini kami dapat hadiah yang spesial, dua hari lalu pengumuman USM DIV STAN sudah terbit, dan tuan suami lulus. InsyaAllah september nanti beliau akan menyusul saya kuliah, jadi adek kelas saya. Hehehe. Sayangnya saat itu saya udah sibuk skripsi, tidak terlalu sering ke kampus, jadi ga bisa sering berangkat bareng- pulang bareng. Tapi tentu saja kami bersyukur, Allah memang selalu tahu apa yang terbaik buat kami.

Semoga seiring bertambah usia kami menjadi pribadi yang semakin baik. Semoga iman kami terus terjaga dan ketakwaan kami terus meningkat. Semoga sisa usia dapat kami habiskan dengan bermanfaat dan diberkahi Allah. Dan semoga pas ulang tahun pernikahan nanti kami dapat kado super spesial dari Allah 😀

Iklan

Sudah lama aku tak menulis tentangmu di sini

Lebih dari empat bulan aku tak menulis di sini. Dan lebih lama dari itu aku tak menulis tentangmu di sini. Bukan karena aku tak lagi cinta padamu. Aku-Cinta-Kamu. Berkali dalam sehari aku mengucapkannya kepadamu. Mungkin kamu sampai bosan mendengarnya. Tapi aku tak peduli. Setiap hari tetap akan kuucapkan mantra itu.

Mungkin karena kita telah bersama, dapat bertemu tiap hari, kurasa tak perlu menuliskan apa-apa untukmu. Toh bisa kuucapkan langsung padamu walau dengan wajah malu. Tapi ternyata tetap saja aku rindu menulis tentangmu dengan caraku. Aku rindu mengisahkanmu kepada siapa saja yang tak sengaja tersesat di sini dan mampir membaca surat cinta yang kutujukan kepadamu. Aku rindu mengetikkan bait-bait perasaanku yang entah sempat kau baca atau tidak, yang jelas akan kupaksa anak-cucu kita untuk membacanya. Biar mereka tahu, mereka lahir dari cinta, bukan hanya sekedar aktivitas fisik untuk melepas birahi.

Banyak yang kita lewati bersama. Banyak tawa yang kita bagi berdua, kadang menertawakan kehidupan yang kita lewati, kadang menertawakan kebodohan yang kita lakukan, kadang menertawakan para komedian yang dibayar untuk membuat kita tertawa. Juga terselip beberapa pertengkaran yang membuat kita sama-sama merasa patah, membuatku menangis seperti tokoh protagonis yang selalu bernasib malang di sebuah opera sabun ternama, membuatmu membenci dirimu sendiri karena menjadi sebab aku menangis. Juga sebuah perjalanan pulang yang tidak kita rencanakan ketika orang yang kupanggil Papa meninggal, perjalanan singkat yang lebih banyak kita habiskan di atas kereta daripada di rumah karena jadwal kuliahku yang tak bisa dikompromikan lagi.

Kadang kita seperti dua anak kecil yang bermain bersama, kadang seperti sepasang kekasih yang kasmaran, kadang juga seperti dua orang yang tak saling mengenal. Kadang kita sangat saling mencintai, kadang saling cinta saja, kadang saling membenci tapi tetap saja cinta. Ya, aku dan kamu tak pernah bisa benar-benar saling membenci satu sama lain. Seberapa hebatpun kita saling melukai, tetap saja kita saling mencintai kembali walau kita tak bisa memastikan bahwa kita tak akan saling melukai lagi.

Sudah lama aku tak menulis tentangmu di sini. Membuatku bingung harus memulainya dari mana dan mengakhirinya di mana. Kuakhiri di sini saja kurasa. Sebelum tulisanku melantur kemana-mana dan membuat surat ini tak lagi cukup romantis.

 

-Teruntuk kamu yang duduk di belakangku dan sedang menonton stand up comedy bersamaku-