Kersen

Kamu tau buah kersen? Itu loh buah yang kecil-kecil, kalau matang berwarna merah, dan pohonnya sering kita jumpai di pinggir jalan.
Dari kecil aku suka sekali buah kersen. Rasanya manis agak kesat. Tapi kalau mentah pahit, aku tidak suka. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari rasany4, tapi menyenangkan sekali untuk menyantapnya sehabis bersusah payah mengumpulkan buahnya.
Dulu waktu SD, sepulang sekolah, sering aku dan kawan-kawanku mampir ke TK di dekat sekolahku untuk memetik kersen. Kawan-kawanku sering membagi hasil petikannya padaku karena punyaku sedikit, aku tak dapat meraih dahan yang tinggi dan terlalu penakut untuk memanjat.
Mungkin karena kenangan masa kecil itu, buah kersen menjadi istimewa bagiku. Aku selalu berbinar saat bertemu pohon kersen, mendongakkan kepala mencari buah yang matang kemerahan dalam jangkauan tangan.
Bahkan saking terobsesinya, jika punya rumah nanti, aku ingin menanam kersen di halaman rumahku. Agar anakku dapat merasakan bahagianya mengumpulkan buah kersen.

Kemarin,saat hendak berjalan-jalan dengan temanku, aku melewati pos satpam di kampusku. Di sebelah pos satpam itu terdapat beberapa pohon kersen. Buahnya merah-merah, banyak yang matang. Bahkan banyak yang telah jatuh ke tanah, sayang sekali.
Kami pun memetik beberapa, sayangnya, kami tak dapat meraih dahan-dahan yang tinggi.
Malamnya aku bercerita pada suamiku, mengajak untuk main ke kampus minggu (tadi) pagi, memintanya memetikkan beberapa buah kersen untukku. Dia menolak, seperti biasa. Aku pun tak memaksa.

Tadi (minggu malam) ia mengajakku jalan-jalan, keliling kampus. Seperti biasa, aku mengoceh ini itu sepanjang perjalanan, ia mendengarkan, tak banyak bicara.
Kami semakin mendekati pos satpam, ia bertanya letak pohon yang kumaksud. Kutunjukkan buah-buahnya yang merah merona. Tak lama kemudian ia menyuruhku meminta izin pada satpam untuk memetik buahnya. Malu-malu, didampingi suamiku, aku meminta izin pada satpam. Mereka mengizinkan.

Suamiku pun mulai meraih dahan-dahan pohon itu, dipetiknya satu persatu buah kersen kesukaanku. Kedua telapak tanganku membentuk mangkuk, menampung buah-buah yang telah ia petik.
Sederhana, bahkan bagi beberapa orang terlihat norak. Tapi hatiku berbunga-bunga, pipiku merona. Aky jatuh cinta untuk kesekian kali pada suamiku. Tuhan begitu baik mengirimkannya kepadaku.

Suamiku. Dia lelaki paling baik di dunia. Memang biasanya dia berpura-pura enggan saat aku meminta sesuatu padanya. Tapi diam-diam ia berusaha memenuhi keinginanku. Seperti saat aku ingin beli cermin besar, atau saat aku ingin nonton bioskop, atau pergi ke indocomtech kemarin. Dia tak pernah menjanjikan saat aku menginginkan sesuatu, tapi ia selalu berusaha mengabulkannya dengan caranya sendiri.

Iklan

14 pemikiran pada “Kersen

  1. wehh, samaaa dekk, saya juga sukaaa banget sama bua kersen, kalo di sini namanya talok 😀
    dan sesi romantisnya kok ya kebetulan sama, kami berdua kalo lihat pohon kersen lagi berbuah langsung deh loncat-loncat metik, tapi ijin dulu sama yang punya, hehe

  2. Talok, cherry, nama buahnya banyak tergantung kotanya. Ini buah penuh kenangan masa kecil. Buah ajaib yg tumbuh di kampung, berderet di sepanjang jalan.

  3. Hadeuh ada yg lagi “kejatuhan kersen pada pandangan pertama” nih, tolong dikirim je rumah akang yaa kersen-nya! jangan banyak2 cukup dua kilo aja :mrgreen: (siapa tau misua-nya denger trus diam2 memenuhi permintaan akang xi xi xi)

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s