Komunikasi

*postingan terjadwal*

Tiba-tiba teringat waktu kopdaran sama mbak deva kemarin, mbak deva sempat tanya bagaimana komunikasi kami selama LDR+LDM. Telpon tiap hari? Smsan di tiap kesempatan? Skype? Video Call? Boleh saya bilang tidak keempatnya?

Kalau saya tidak mengalami sendiri, mungkin saya akan beranggapan bagaimana hubungan minim komunikasi seperti ini bisa bertahan. Sejak LDRan hingga akhirnya menikah dan kini LDMan, kurang lebih pola komunikasi kami seperti ini:

  1. Telpon kalau ada yang ingin dibicarakan atau diceritakan, ada hal penting yang mesti disampaikan, dengan catatan saya atau suami sedang dalam mood untuk mengobrol. Batas minimal: 1 kali tiap minggu, bisa lebih tapi tidak pernah sampai tiap hari.
  2. SMS kalau sempat, biasanya pulang kantor dengan pertanyaan standar sudah pulang? sudah makan? Saya menerapkan syarat minimal 1 kali sehari suami sms saya.
  3. Skype? Video Call? Tidak pernah. Waktu awal saja kami sempat beberapa kali mencoba fasilitas ini, tapi kami koneksi buruk malah membuat kami emosi.
  4. Chatting selama jam kantor, dengan catatan sedang tidak sibuk atau ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan.

Itupun sering “bolong”nya. Kadang suami bisa 2 hari bahkan lebih tidak membalas sms saya. Kadang suami sedang tidak dalam mood menelpon atau menerima telpon dari saya. Kadang kami berdua sama-sama sibuk hingga tidak bisa chatting.

Apakah komunikasi kami tergolong buruk? Mungkin. Tapi nyatanya kami mampu bertahan.

Memang kadang kalau sudah sebal, saya bisa nangis dan ngambek. Siapa sih yang tidak jengkel kalau sang kekasih tidak membalas sms ataupun mengangkat telpon karena moodnya sedang buruk, sementara kita khawatir setengah mati. Kadang saya berniat untuk “membalas” suami, mendiamkannya sampai dia merayu-rayu minta dimaafkan. Tapi tidak pernah berhasil.

Seperti minggu kemarin misalnya. Entah apa yang membuat mood suami buruk, saya kena getahnya. Tidak disms, ditelpn tidak diangkat. Pas diangkat jawabnya ketus pula. Sudah saya niatin buat ngambek, udah ngomel-ngomel segala macam, bahkan nomor suami saya masukin spam box. Niatnya mau kuat-kuatan siapa yang kangen duluan.

Tapi ternyata, baru juga sehari kami udah berdamai (Alhamdulillah). Siapa yang ngalah duluan? Kami berdua. Saat saya cek inbox, ternyata balasan suami atas sms marah-marah saya malah menyejukkan. Dan ketika saya tanya apakah dia sudah mood berbicara, tak lama kemudian dia menelpon. Kami saling meminta maaf, dan mengobrol seperti biasanya.

Saya telah berhenti mencari alasan kenapa saya tidak pernah bisa marah pada suami, kenapa suami sanggup bertahan dengan istrinya yang cengeng dan gampang marah, kenapa begini, kenapa begitu. Semua itu tidak perlu jawaban. Kadang memang begitulah cara Tuhan memasang-masangkan makhlukNya.

Bahkan saya yang selalu haus perhatian, selalu ingin menjadi yang nomor satu, tidak pernah suka jika tidak diacuhkan mampu hidup bersama dengan tuan suami yang tak suka dikekang, introvert dan tak mau diganggu jika sedang jelek moodnya. Siapa yang menyangka?

Apakah komunikasi penting bagi saya?? Tentu saja penting. Tapi masih banyak hal lain yang lebih penting. Kepercayaan misalnya. Dan kompromi. Dan doa-doa yang tak pernah putus agar Allah selalu merahmati rumah tangga kami.

Lagipula jika secara intensitas komunikasi antara kami memang bisa dibilang kurang, tapi dalam kualitas kami tak kalah jika dibandingkan dengan pasangan lain.

Iklan

35 pemikiran pada “Komunikasi

  1. Jempol Mel… setuju banget..
    terkadang yang satu rumah, satu atap dan satu ranjang aja kurang berkomunikasi.
    komunikasi itu caranya.. yang penting kepercayaan dan komprominya..

  2. heuheuheu…aku jg sering gitu Mel, ‘balas dendam’ kalo dicuekin, tapi mostly ya gitu jg, sama2 minta maaf akhirnya šŸ˜€

  3. Intinya saling percaya ya Mel … wah LDM? saya setuju, komunikasi itu sangat penting, agar tercipta rasa saling percaya itu tadi

  4. Kalo terus nggak mau mengalah maka yang menang diantara semuanya tentu saja Sang Setan. Nggak mau kan dikalahin Setan? Tulisannya cocok inspiratif banget Mel…!

  5. Selain komunikasi, pengertian juga perlu berarti ya Mel šŸ˜€ Karena kalau LDR gitu kan kebergantungan sama alat komunikasi (jadi komunikasinya gak langsung gitu) lebih besar; jadi mesti menyadari ada kendala dengan ini juga, hehe

    • nah itulah kak,. .makanya harus pinter2nya berpositif thinking.. bisa aja bukan salah pasangan smsnya ga terbalas, sapa tahu emang kepending smsnya.. hehehe

  6. Bener Mel.. tiap pasangan punya cara komunikasi sendiri-sendiri, yang penting kan dua-duanya saling ngerti dan ya itu bisa kompromi.. šŸ˜€

  7. Sabar ya, Mel…
    Menanti saat pertemuan itu sangat bermakna. Aku jadi ingat temanku yang setahun sekali pulang ke Jawa buat ketemu sama keluarganya šŸ˜€

  8. komunikasi itu wajib.. itulah kenapa indonesia ngadain yang namanya menteri komunikasi dan informasi, yang sekarang dijabat tipatul sembarang

  9. Ping balik: Ketika Jarak Memisahkan « Dunia Pagi
  10. Ameeeel, setelah ketemu kaliyan dan baca posting ini beneran jadi bisa membayangkan kekuatan cinta kaliiyan *haiyaah*
    merinding baca bagian ini:
    “Semua itu tidak perlu jawaban. Kadang memang begitulah cara Tuhan memasang-masangkan makhlukNya”

    Semoga bisa cepet berkumpul kembali ya dan semoga kesehatan selalu untuk kalian berdua.. šŸ™‚

  11. Kok samaan ya mel. abg aku klo moodnya jelek juga bawaannya diemin aku. awal2 dulu aku sibuk bujuk. lama2 kesini aku sok cuek. tapi terus ttp yg ‘gagal’ pasti aku. hihihihi

    bedanya klo abang perhatian gt. kadang lagi sibuk kerja harus bales smsnya bete juga. :p

  12. Jadi misalkan ada kesalahan kecil yang dibuat oleh si istri, misalkan si istri lupa untuk membangunkannya padahal dia sudah meminta,”Tolong bangunkan saya” dan akhirnya dia terlambat. Seharusnya dia mau memaklumi hal kecil seperti itu dan hanya terjadi sekali-sekali dan bukan terjadi seminggu sekali atau sebulan sekali. Tapi dia bisa marah dan kadang-kadang istri tidak mengerti,”Kenapa masalah kecil tapi kamu sangat marah” mungkin si suami sudah merasa gengsi untuk menceritakan alasan sebenarnya kenapa dia bisa marah dan bisa jadi ketika ditanya oleh si istri,”Kenapa marahnya bisa seperti ini” dia akan fokuskan pada kesalahan istri yang lupa untuk membangunkannya itu.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s