Sarah

Hal pertama yang bisa kuingat dari masa kecilku, telah ada Sarah di keluargaku. Orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, Sarah pun diasuh kedua orang tuaku. Tentu saja aku senang, sebagai anak tunggal aku sangat kesepian. Sejak yang dapat kuingat, aku sudah tak terpisahkan dari salah. Bahkan mungkin saudara kembar pun akan iri jika melihat aku dan Sarah.

Kami selalu sekolah di sekolah yang sama, kuliah pun di universitas yang sama. Bahkan saat sudah bekerja pun, aku dan Sarah berbagi kontrakan. Sarah adalah sahabat terbaikku, baik di saat susah ataupun senang.

* * *

“Kamu beneran nih ga mau ikut, Sar?” tanya Rama pada Sarah.

“Hahaha.. Jadi obat nyamuk nanti aku, Ram. Dah sana kalian pergi aja, keburu hujan nanti.”

Sarah mendorong kami ke pintu, “Jangan lupa oleh-oleh.”

Biasanya kami pergi bertiga: makan, nonton, atau sekedar jalan-jalan. Rama adalah teman kecil kami, kami bertiga sempat sekelas di sekolah dasar, rumah Rama hanya terpaut 1 blok dari rumahku. Bahkan walau akhirnya kami tidak satu sekolah lagi saat SMA, kami tetap sering menghabiskan waktu bersama.

Tapi sejak aku dan Rama memutuskan berpacaran, Sarah mulai menjaga jarak, sering dia tolak ajakan kami. Yah, mungkin kalau aku jadi Sarah, aku akan bersikap begitu. Mungkin memang tidak seharusnya aku dan Rama bersikap egois begini, tidak seharusnya kami menghancurkan persahabatan yang telah kami susun sejak kanak-kanak ini. Tapi kami berdua hanyalah anak muda yang sedang dimabuk cinta, wajar bukan kalau kami bersikap egois?

* * *

“Sejak kapan Sar?”

Sarah menatapku bingung. “Apanya Rai?”

“Sejak kapan kamu menyukai Rama?”

Sarah terdiam, wajahnya memucat.

“And you never tell me!”

“Karena kamu juga menyukai Rama, Rai.”

“Lalu kamu mengorbankan perasaan kamu sendiri? Dan ketika aku tahu apa yang telah aku lakukan, kamu membuatku dihantui perasaan bersalah, Sar! Kamu membuatku jadi tokoh antagonisnya! Rai yang egois, Rai yang tidak peduli pada perasaan sahabat baiknya, Rai yang…”

“Apa bedanya kalau aku bilang, Rai? Kamu akan putusin Rama? Terus aku yang jadi tokoh antagonisnya?” Sarah memotong kalimatku dengan penuh emosi.

“Aku ga tau, Sar. Aku ga tau.”

“Kamu mencintai Rama. Begitu pula Rama sebaliknya. Kalaupun kamu ninggalin Rama, tetep ga ada kesempatan buat ngedapetin dia. He loves you more than everything. Ini yang terbaik, Rai. Aku rela serela-relanya. Kamu adalah cewek terbaik buat Rama.” Sarah memelukku, pelukan hangat seorang sahabat.

* * *

“Kamu ga berniat berubah pikiran, Rai?”

Aku menggeleng.

“Setidaknya Rama harus tahu.”

“Kalau dia tahu, dia bakal kehilangan kesempatan buat ngeraih cita-citanya. Kamu mengenal Rama sebaik aku mengenalnya Sar. Kamu pasti tahu kalau ini adalah kesempatan besar buat Rama. Aku ga rela kalau dia harus melepas semua itu demi aku yang penyakitan.”

“Tapi kamu ga harus memutuskannya kan?”

“Kalau kami tetep pacaran, Rama pasti curiga. Dia pasti tahu, Sar. Ini yang terbaik buat Rama, buat aku juga. Bakal lebih mudah menghadapi semua tanpa perlu membayangkan kesedihan Rama.”

* * *

Sarah yang baik, Sarah yang walau telah kurebut cinta pertamannya darinya tetap dia menyayangiku sepenuh hati. Betapa aku sudah merepotkannya banyak hal. Betapa banyak rahasia yang kutitipkan padanya. Bahkan kuminta dia untuk tidak berkomunikasi lagi dengan Rama demi rahasiaku. Padahal aku tahu dia pun mencintai Rama.

“Kamu yakin ga mau menghubungi Rama?” tanya Sarah.

Aku menggeleng, bahkan tubuhku pun terlalu lemah untuk bicara.

“Arsyad?”

Aku menggeleng lagi.

“Rama bakal sedih banget kalau tahu semua ini, Rai.”

“Dia ga perlu tahu, Sar.” Aku memaksakan bicara. “Bahkan kalau aku mati nanti, kamu ga perlu ngasih tahu dia. Dia perlu fokus sama karirnya.”

“Don’t say that! Kamu masih punya umur yang panjang.” Sarah mengecup keningku, berpamitan.

“Tapi kalau nanti aku beneran mati. You can have Rama,”

“Jangan nyesel kalau itu beneran terjadi ya?”

Jika tujuh tahun terakhir Sarah bisa merelakan Rama untukku, tentu aku juga bisa kan?

Entahlah. Rasanya aku terlalu egois untuk itu. Bahkan salah satu dari sekian alasanku melarang Sarah menghubungi Rama adalah karena aku takut melihat mereka bersama. Mana mungkin Rama akan memilihku yang tinggal tulang berbalut kulit jika ada gadis secantik Sarah yang mencintainya sepenuh hati.

Yah, setidaknya kalau aku mati, aku tidak perlu melihat mereka bersama kan?

Iklan

5 pemikiran pada “Sarah

  1. haii salam kenal. ide cerpennya bagus dan pakai banyak POV-1 <— susah bikin narasi untuk sifat orang yang beda-beda.
    sayangnya cerpen ini kayak kurang apa ya namanya 'roh' jadi nggak begitu merasakan galaunya Rai yang harus merelakan pacarnya, sedihnya Sarah lihat Rai sakit dan klimaks-klimaksnya <— waaa saya kebanyakan komen. maap. maap. 😀
    tapi baguuss.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s