Arsyad

Sarah yang ngenalin gue ke dia sehabis konser tunggal Aritmatika bulan kemaren. Nothing special with that guy. Karyawan kantoran biasa yang hidupnya dipenuhi rutinitas menjemukan. Kehidupan yang ga akan pernah gue jadikan pilihan. Jiwa gue mencintai kebebasan, ga mampu dikurung dalam kubikel-kubikel sempit perusahaan manapun.

Satu-satunya hal yang buat gue iri sama dia adalah kesempatan yang dia punya bersama Rai. Gue rela nuker segala sisa waktu yang gue punya di dunia dengan delapan bulan yang dia punya bersama Rai. Di saat gue sibuk dengan karir gue dan bahkan ga tau kalau Rai sakit parah, dia punya kesempatan buat nemenin cewek yang paling gue cinta di saat-saat terakhirnya.

“Lagu lo selalu nemenin Rai baca tumpukan buku-bukunya, Ram. Dia bilang lo adalah vokalis favoritnya.”

“Dia sering cerita tentang gue?”

“Ngga juga sih. Cuma satu kali. Waktu gue tanya lagu siapa yang biasa dia dengerin. Dia bilang itu lagu yang dinyanyiin mantan pacarnya. Walaupun kalian dah putus dan ga ada hubungan apa-apa lagi, tapi Rai tetep suka lagu-lagu yang lo nyanyiin. Gue ga pernah lagi tanya-tanya tentang lo. Buat apa? Cowok mana yang tahan denger cerita tentang mantan pacar cewek yang dia taksir?”

Jujur gue pingin nonjok Arsyad saat itu juga. Mungkin dia emang ga bermaksud menyindir gue. Tapi tetep rasanya hati gue panas ngedengernya. Gue marah pada diri gue sendiri yang justru ga ada di samping Rai waktu dia sakit. Gue marah pada diri gue sendiri yang udah ninggalin Rai. Dan gue cemburu setengah mati pada cowok kantoran bernama Arsyad itu. Dia beruntung banget punya waktu yang berharga bersama Rai.

*****

“Hai Ram,” seseorang menepuk bahu gue dari belakang. Entah bagaimana dia bisa ngenalin gue dengan topi, kacamata hitam dan jaket tebal yang gue pake.

“Ga nyangka gue bisa ketemu selebritis di sini,” sindir Arsyad.

Gue mendengus kesal, mending gue dikejar-kejar fans daripada harus ketemu cowok satu itu. Entah kenapa tiap kali ngeliat mukanya, gue jadi emosi. Dia ngingetin gue ama kesalahan besar gue: ninggalin Rai.

“Dan gue ga nyangka kita tertarik buku yang sama. Tapi wajar sih, kita menyukai cewek yang sama, mungkin kita emang satu selera.”

“Gue duluan Syad.” Buru-buru gue menuju kasir, meninggalkan cowok kantoran menyebalkan itu.

“Buru-buru banget lo, Ram? Mungkin lain kali lo mesti mampir ke apartemen gue. Di sana banyak buku warisan Rai. Dan entah Rai sengaja atau ngga, di antara buku-buku itu ada satu yang sepertinya ditujukan buat lo.” langkah kaki Rama berusaha mengimbangi gue, diselipkannya kartu nama di saku jaket gue.

*****

Karyawan kantoran biasa? Mana mungkin karyawan biasa bisa punya apartemen mewah di jantung kota Jakarta begini?

Dengan berat hati gue pencet bel pintu berwarna merah itu, masih sulit dipercaya akhirnya gue datang memenuhi undangan Arsyad. Jujur gue penasaran setengah mati dengan buku yang dia maksud. Jadi dengan sekuat tenaga gue usir perasaan benci gue ke dia jauh-jauh. Yah walaupun gue masih bertanya-tanya kenapa Rai mewariskan buku-bukunya ke cowok yang baru dia kenal. Gue tahu pasti, Rai sangat mencintai buku-buku, semua itu adalah hartanya yang paling berharga.

“Kenapa mesti tengah malam?” wajah masam tuan rumah menyambut kedatangan gue.

“Lo sendiri kan yang udah ngundang gue?” jawab gue ketus.

“Yeah. But in the middle of midnight? Hallo?” Arsyad membuka pintu lebih lebar, membiarkan gue masuk.

“Ya kalau memang keberatan harusnya lo sms gue, bilang lagi lembur atau ngapain gitu,” dengan cuek gue membanting pantat ke sofa abu-abu di ruang tamu, bahkan sebelum dipersilakan.

“Gue kan pengertian, Ram. Selebritis macam lo mana punya waktu buat berkunjung ke rumah teman. Minum apa?”

“Apa aja.” Tak lama kemudian Arsyad melemparkan sekaleng soda ke arah gue.

“Gue heran, kenapa Rai bisa-bisanya pernah jatuh cinta sama lo. Padahal yang lo bisa cuma nyanyi, urusan tata krama? minus.” Arsyad menghempaskan badan di sebelah gue.

“Lo ngundang gue ke sini mau ngajak gue berantem atau apa sih?” tanya gue ketus. Bosan dengan basa-basi sang tuan rumah.

“Hahahah. you don’t have any sense of humour. Atau cuma sama gue, lo judes begini?”

Gue segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju rak buku di pojok ruangan tanpa mengacuhkan celotehan Arsyad.

“Bukunya ada di rak nomor 2, lo pasti tau yang mana.” tunjuk Arsyad.

Ya, gue tahu. Buku harian itu hadiah dari gue sepuluh tahun yang lalu.

“Rai emang pernah cinta sama lo. But sorry to say, Ram. Akhirnya dia jatuh cinta sama gue.”

Gue menatap tajam ke arah Arsyad, kalau ga inget ini apartemennya udah gue tonjok cowok sialan itu.

“Kalau ga percaya baca aja bukunya, Ram. Tertulis di situ. Tapi ga ada bedanya, kita berdua sama-sama ga bisa dapetin Rai pada akhirnya. Dan gue pun ga lebih baik dari lo. Sebulan sebelum kematian Rai, gue malah ngejauhin dia cuma gara-gara dia ga mau jadi pacar gue. Gue juga ga sempet ngucapin salam perpisahan sama Rai.”

Gue menelan ludah,”Setidaknya lo tau kalau dia sakit, lo sempet ngasih support di saat-saat paling sulit buat dia. Bukannya pergi ngejar popularitas kayak gue.”

“Rai ga pernah nyesel sama keputusanya ngebiarin lo pergi. Malah dia bakal nyesel banget kalau cita-cita lo kandas gara-gara dia. Well, lebih baik lo baca sendiri bukunya. And maybe you wanna read it at home. Udah lewat tengah malam, gue ngantuk.” Arsyad terang-terangan mengusir gue. Yah, siapa pula yang mau lama-lama di sini. Segera gue sambar kunci motor di meja. Arsyad mengantarku hingga pintu.

“Thanks, Syad.”

“Your welcome.”

Tanpa basa-basi Arsyad menutup pintu. Namun, baru beberapa langkah menuju lift, dia kembali membuka pintu dan berteriak padaku.

“Baidewei, supaya lo ga makin benci ama gue, I think you must know that Rai loved you more. She just had a little crush with me.”

Bam! Kali ini dia benar-benar menutup pintu. Baru kali ini gue bisa tertawa mendengar kata-kata Arsyad.

Saat hendak memencet tombol lift, ga sengaja gue lihat papan nama Arsyad. Gue tersenyum simpul. Pewaris tunggal kerajaan bisnis terkemuka, pantas dia bisa punya apartemen semewah ini. Gue rasa status karyawan kantoran cuma sekedar petualangan buat dia. Maybe he is not as boring as i thought.

Sorry for postingan geje tiga hari berturut-turut. Cuma lagi melatih kembali imajinasi.. Beberapa minggu terakhir ini sulit sekali nulis fiksi. Jadi maaf kalau cerpennya membosankan dan bahasanya kaku sekali.. tapi mungkin ada yang penasaran baca cerita sebelumnya dan sebelumnya lagi.

Satu pemikiran pada “Arsyad

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s