Rama

Sabtu kemarin aku tak sengaja bertemu lelaki itu, Rama. Mantan kekasih Rai, sepupu sekaligus sahabat dekatku. Lelaki yang juga sangat aku cintai, hingga sekarang. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, karena aku tahu hanya Rai yang Rama cintai.

Mereka memang sudah putus hampir dua tahun yang lalu. Dan walau aku tahu bahwa tidak pantas bagiku, sempat aku berharap Rama akan menyadari keberadaanku dan mengizinkanku menggantikan posisi Rai di hatinya. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, sejak mereka berpisah aku tak pernah lagi bertemu dengan Rama, dan aku sendiri terlalu malu untuk menemuinya. Putus hubungannya dengan Rai, putus pula hubunganku dengannya.

Sampai akhirnya kemarin tak sengaja aku bertemu Rama. Aku sedang berbelanja dan dia baru selesai mengisi sebuah acara di mall tersebut, lalu kami pun memutuskan makan siang bersama. Dan walau aku tahu tak seharusnya bagiku, sempat aku berharap ini saat yang tepat untuk membuatnya menyadari perasaanku. Hampir dua tahun tanpa komunikasi, tentu dia sudah melupakan Rai. Apalagi jika mengingat pertengkaran besar yang membuat mereka menempuh jalan masing-masing.

Tapi ternyata aku salah. Tak semilipun Rai pergi dari hatinya. Saat kusampaikan kabar kematian Rai padanya, sinar di wajahnya langsung pudar. Rama menangis. Itu pertama kalinya aku melihat seorang lelaki se-gentle Rama menangis.

*****

“Kamu tidak bercanda kan Sar?”

Ingin sekali aku mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon lalu tertawa bersamanya. Tapi sayangnya apa yang kukatakan adalah kenyataan.

Aku menggeleng, “Untuk apa aku bercanda untuk hal seperti ini Ram?”

Wajah Rama tenggelam di balik dua telapak tangannya yang lebar, kulihat bahunya berguncang halus.

“Sejak kapan Rai sakit Sar?” suaranya bergetar.

“Tiga tahun lalu.”

“Dan tidak ada yang bilang padaku? Bahkan kau tak langsung mengabariku tentang kematian Rai!” Rama menatapku tak percaya.

“Rai melarangku Ram.”

Rama menggebrak meja, membuat pengunjung restoran lainnya menatap penuh tanda tanya pada kami.

“Aku tidak percaya kalian merahasiakan semua ini dariku. Harusnya aku ada di sampingnya. Mendukungnya! Harusnya aku menemani Rai di saat-saat terakhirnya. Tapii… Tapi…”

Rama mengepalkan tangan, berusaha meredam emosinya. Matanya kembali berkaca-kaca.

“Aku tak pernah berhenti mencintai Rai, Sarah. Saat berpisahpun aku berharap suatu saat kami akan kembali berbaikan. Dua tahun terakhir aku berusaha untuk menjadi pria yang lebih baik. Demi Rai, Sar. Demi masa depan yang kurencanakan bersamanya. Tapi kenapa Rai harus pergi ke tempat yang tak bisa kususul dia?”

Saat itu aku tahu, aku tak akan pernah berhasil menggantikan posisi Rai di hatinya.

*****

Gadis-gadis di sekitarku riuh meneriakkan namanya. Setelah menjadi juara di sebuah kontes musik international, Bandnya menandatangani kontrak dengan salah satu major label ternama asal Inggris. Rama menjadi salah satu vokalis paling digemari, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Sebulan lalu Rama mengirimiku dua tiket konser tunggal bandnya. Tentu itu hadiah yang sangat istimewa bagiku, walau kutahu seharusnya hadiah itu untuk Rai. Dia mengundangku hanya untuk mewakili Rai. Sedih? Ya. Tapi sejak dulu aku memang sadar diri bahwa aku tak akan pernah bisa menang bersaing dengan Rai. Aku sendiri pun sangat mengagumi sepupuku itu, tapi bukan berarti aku tak boleh mencintai mantan pacarnya kan?

Teriakan makin gemuruh ketika para personel band memasuki panggung. Siapa yang akan menyangka musik jazz akan kembali digandrungi anak muda seperti sekarang.

“Terimakasih untuk semua yang sudah datang ke sini, dukungan kalian selama ini sungguh sangat berarti buat kami. Tanpa kalian, Aritmatika bukan apa-apa.” Janus, gitaris sekaligus leader band, menyapa para penggemarnya.

“Dan hari ini, sebagai pembuka, vokalis ganteng kita akan menyanyikan lagu baru kami yang spesial diciptakan untuk wanita paling istimewa di hatinya,” kini giliran sang pianis yang berbicara.

“Saat ini tentu banyak gadis yang patah hati mendengarkan cerita ini. Tapi seandainya kalian mengenal gadis ini sebaik kami, kalian akan merelakan Rama untuknya. Seperti kami yang merelakan dia untuk Rama.”

Gino, sang drummer, mengambil ali. “Yes, kami berempat pernah menyukai cewek yang sama. She’s a very adorable young girl. Tapi cuma Rama yang bisa memilikinya. Well, Ram, Let’s tell them who is she!”

Hi Young girl who never runs out energy
I know that you love to travel around
but why did you go to place that I can’t overtaken?
It’s too far away and I don’t know when I can catch you.
Will you wait me there and don’t let another guy lure you.

Oh Young girl, I love you, but I don’t know why
I just know that I can’t stop loving you although we’re separated
My biggest mistake was leaving you
Even I didn’t have time to say good bye when you’re gone

Hi Young Girl who never stop laughing
Will you wait me there, just wait me there!
Actually I can go there right now if I want.
I want to, but I know you want me to go in the right way
So just wait me there.

I don’t know when will I get there
Maybe tomorrow, next month, or even fifty years again.
But please wait for me, Young missy.
You wil wait for me, won’t you?
I know you will.

“Kupikir aku yang paling mencintai Rai. Tapi kurasa aku tidak bisa mengalahkan Rama dalam urusan itu.” bisik lelaki di sebelahku.

Aku menyeka air mata yang tak sengaha tumpah saat mendengar nyanyian Rama, “Tentu saja, kamu baru mengenal Rai kurang dari setahun. Sedangkan Rama telah bersama Rai lebih dari dua puluh tahun. Tidak ada cinta selain Rai bagi Rama.”
Ya, tidak ada. Aku tidak akan pernah bisa membuat Rama melupakan Rai.

(Sambungan cerita yang ini)

Iklan

6 pemikiran pada “Rama

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s