Rai

Gadis itu datang lagi, duduk di tempat biasanya dengan setumpuk buku di sampingnya. Sebuah headphone biru menjepit kepalanya, sekali-kali terlihat kepalanya mengangguk-angguk berirama, membuatku penasaran lagu apa yang sedang didengarkannya.

Entah mulai kapan gadis itu selalu datang ke taman di seberang kantorku, duduk di bangku yang menghadap persis ke ruanganku. Membuatku leluasa mengamatinya sembari menunggu jam pulang kantor.

Tiap sore dia datang, dan tiap sore pula aku memperhatikannya dari kubikelku.

*    *    *

Minggu sore, harusnya aku sedang bersantai menonton televisi di rumah. Tapi aku baru saja ingat kalau bahan presentasi untuk rapat besok belum kurampungkan, terpaksa aku datang ke kantor untuk mengambilnya dan kuselesaikan di rumah.

Hari minggu, tempat parkir kantorku ditutup, jadi akupun memarkir mobil di taman seberang. Seusai menyalin file yang kubutuhkan ke flashdisk aku bergegas pulang, hujan rintik-rintik mulai turun. Aku berlari-lari kecil menuju tempat parkir di seberang kantorku.

Bruuk.

Buku-buku berserakan. Pantatku nyeri menghantam pinggiran jogging track. Gadis itu mengecek ipodnya yang terjatuh. Ya Tuhan, aku menabrak gadis berheadphone biru itu.

Segera setelah sadar dari lamunanku, aku membantunya memungut buku-buku yang bertebaran. Tiba-tiba saja hujan seperti dicurahkan, rintik-rintik halus tadi berubah menjadi kucuran air yang perih jika terkena kulit. Aku dan gadis itu segera menepi ke kanopi terdekat.

“Maaf,” ujarku merasa bersalah.

“Ga papa, tadi aku juga ga lihat-lihat,” gadis itu tersenyum padaku. Ya Tuhan, manis sekali.

“Ipodmu rusak?” tanyaku.

Gadis itu menggeleng, “Ngga, cuma sempet hang sebentar tadi.”

Hening. Tiba-tiba saja aku jadi gugup. Jantungku berdegup tak karuan.

“Kamu kerja di kantor itu?” gadis itu menunjuk ke seberang. Aku mengangguk.

“Dulu papaku kerja di sana. Waktu kecil aku datang ke sini tiap sore, menunggu papaku pulang.”

“Jadi karena itu kamu tiap sore ke sini?” Kenapa aku mesti menanyakannya? Sekarang dia tahu kalau aku selalu memperhatikannya.

Gadis itu tertawa melihat diriku yang salah tingkah, “Jadi kamu memperhatikan? Iya, tiga bulan terakhir aku selalu datang ke sini tiap sore. Suasananya pas untuk membaca, dan seperti kembali ke masa lalu, menunggu papaku pulang. Oh iya, namaku Rai.”

“Arsyad,” aku membalas uluran tangannya.

*    *    *

Gadis itu datang lagi, masih dengan headphone birunya dan tumpukan buku-buku. Kebetulan pekerjaanku telah selesai semua, kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke taman.

“Hai,” aku menyapanya. Rai tersenyum menyambutku, menggeser sedikit tumpukan buku-bukunya untuk memberi ruang bagiku. Aku duduk di sampingnya.

“Kamu suka sekali membaca ya?” tanyaku. Kulirik buku-buku tebal di sampingnya

Dia menatapku sebentar sebelum akhirnya mematikan ipod dan mengalungkan headphone birunya di leher.

“Apa tadi katamu?”

“Kamu suka sekali membaca ya? Ah, maaf aku mengganggumu,” aku merasa tidak enak hati

Rai tersenyum, “Iya, aku sangat suka membaca. Dan tidak, kamu tidak menggangguku. Malah aku senang ada teman berbincang-bincang. Kalau kamu? Suka membaca?” dia balik bertanya.

“Dulu iya. Sekarang tidak sempat lagi. Buku-buku yang kubeli cuma jadi pajangan saja.”

“Bacalah! Jangan sampai kamu menyesal karena tidak pernah menyempatkan diri membacanya, seperti aku sekarang.”

“Menyesal? Kenapa?”

“Dokter memvonis umurku tidak lama lagi. Padahal masih banyak bukuku yang belum sempat kubaca. Aku takut aku tak mampu menyelesaikan semuanya,” jawab Rai tanpa beban.

*    *    *

Cerita Rai kemarin mengagetkanku, tidak kusangka gadis semuda dia menderita penyakit yang mematikan. Tapi dia selalu tampak ceria, tak pernah aku melihat Rai murung ataupun meratapi nasibnya. Mengobrol dengan Rai sangatlah menyenangkan. Aku menyukainya.

“Apakah aku mengganggu rutinitasmu Rai? Kamu jadinya malah menemaniku mengobrol, bukannya menyelesaikan buku-bukumu.”

Rai tersenyum manis seperti biasanya, “Tidak apa-apa Arsyad. Mengobrol denganmu sama menyenangkannya dengan membaca.”

“Saat mengamatimu dari kubikelku, aku selalu penasaran dengan lagu yang kamu dengarkan,” ujarku terus terang.

Dengan spontan Rai memasangkan headphone birunya ke kepalaku dan memutar lagu di ipodnya. Irama musik jazz memenuhi telingaku. Asing tapi enak didengar.

“Aku belum pernah dengar lagu ini.”

“Itu lagu band indie. Mantan pacarku vokalisnya.”

“Apakah kamu masih menyukainya?” Ah lagi-lagi aku lancang bertanya urusan pribadinya.

“Tidak. Kami sudah lama berpisah. Tidak ada perasaan apa-apa lagi untuknya.”

“Tapi tidakkah kamu teringat dia saat mendengarkan lagu itu? Tidakkah kamu sedih?” dengan lancang aku bertanya. Kutatap Rai malu-malu, takut dia tersinggung.

Rai malah tersenyum padaku, “Aku menyukai lagunya. Harus kuakui musikalitas mereka luar biasa. Hubunganku dengan Rama memang telah gagal, dan itu cukup menyakitkan, tapi bagaimanapun dia tetap vokalis idolaku.”

*    *    *

Hari ini Rai mengajakku ke rumahnya. Rumah mungil yang penuh buku-buku. Kujelajahi buku-buku yang tersusun rapi di rak. Koleksi buku Rai sungguh menakjubkan.

“Walau tahu aku tidak akan bisa membacanya semua, aku tetap tidak bisa menghentikan kebiasaanku membeli buku. Selalu ada buku yang menarik hatiku tiap kali aku ke toko buku. Kamu mau minum apa?”

“Kopi, jika tidak merepotkan.”

Tak lama kemudian Rai datang membawa dua cangkir kopi. Kami duduk berhadapan di ruang tamu. Kuperhatikan sekeliling, rumah Rai tak terlalu besar tapi terkesan hangat.

“Kamu tinggal sendirian Rai?”

“Ada sepupuku, tapi dia belum pulang.”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” aku menatap Rai dengan ragu.

Rai mengangguk. Aku terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian.

“Kamu mau jadi pacarku, Rai?” akhirnya kuungkapkan juga.

Rai menatapku tajam, baru kali ini kulihat ekspresi murung di wajahnya.

“Umurku tidak lama lagi, Arsyad. Hubungan seperti apa yang kamu harapkan?”

“Aku tidak mempermasalahkan itu. Berbincang denganmu sangat menyenangkan. Aku menyukaimu Rai. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebanyak mungkin.”

“Kita bisa berbincang sebagai teman. Kita tidak perlu hubungan khusus untuk menghabiskan waktu bersama.”

*    *    *

Penolakan Rai kapan hari membuatku malu. Itu pertama kalinya aku mengungkapkan cinta, dan pertama kalinya pula cintaku ditolak. Kami tetap berteman, tapi tak seakrab dulu. Seakan ada jarak yang memisahkan. Akhir tahun pekerjaanku sedang banyak-banyaknya, aku tidak bisa sering-sering menemui Rai. Kulirik sepintas ke luar jendela. Hari ini dia tidak datang lagi. Rai memang sempat bercerita kalau akan berlibur ke luar kota. Tapi ini sudah lebih dua minggu. Rasanya ada yang hilang dari hari-hariku. Aku merindukan Rai.

“Pak Arsyad, ada kiriman untuk Bapak,” Jamal, office boy di kantorku, membangunkanku dari lamunan. Dengan susah payah dia menyeret sebuah kardus besar ke dekatku.

Setelah Jamal pergi, aku segera mengambil gunting. Aku tergesa membuka kardus di depanku. Penasaran.

Isinya buku. Banyak buku dan sebuah headphone biru.

Arsyad, kurasa aku tidak bisa menyelesaikan membaca buku-buku ini. Tolong lanjutkan membacanya untukku ya! :D. Terimakasih sudah menemaniku selama ini. Aku sangat bersyukur Tuhan memberiku kesempatan untuk mengenalmu

Salam, Rai.

Buru-buru kuraih ponsel dan menghubungi nomor Rai. Tiba-tiba perasaanku tidak enak.

“Rai? Kamu baik-baik saja kan?” tanyaku begitu teleponnya diangkat.

“Maaf, ini Sarah, sepupu Rai.” Sebuah suara yang asing menyapaku.

“Oh, maaf. Bisa bicara dengan Rai?”

“Rai sudah meninggal dua hari yang lalu. Ini Arsyad kan? Paketnya sudah sampai?”

Iklan

7 pemikiran pada “Rai

  1. Ping balik: Rama « Dunia Pagi
  2. Ping balik: Arsyad « Dunia Pagi

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s