Tradisi Puter Nampan

Udah sebulan lebih ya saya jadi istri orang.. Dan janji mau cerita-cerita tentang acara pernikahan saya belum juga berhasil ditunaikan.. :malu.. Jadi kali ini mau nyicil dulu deh, setelah kemarin cerita sekilas persiapan beberapa hari sebelum pernikahan. Mestinya sih kalau sesuai urutan, sekarang cerita tentang H-1 (24 Agustus 2012) yaitu acara siraman dan midodareni. Tapi berhubung foto-fotonya dah diaplot di sini dan kayaknya bakal panjaaaaaaaaaaaaaaang banget (emang coki2) kalau diceritain, kok saya males yaaa. :peace:

Jadi saya cerita tentang sesuatu yang belum diaplot fotonya deh ya., yaitu tradisi temu manten adat madura. Berhubung adat pranikahnya (siraman dan midodareni) udah pake tradisi jawa, jadi kemarin diputuskan buat temu mantennya ala madura saja (yang belum tahu, saya itu keturunan suku madura lho), hitung-hitung melestarikan budaya kan ya. Namanya: Tradisi Puter Nampan.

Tradisi Puter Nampan

Jadi ceritanya saya itu didudukkan oleh kedua orang tua saya di atas nampan, di depan pelaminan, membelakangi para tamu. Terus suami saya yang ganteng diiringi keluarganya datang. Nah, di pintu masuk itu pintunya udah dililitin benang tujuh warna: putih: bayi suci, merah: keberanian, kuning: melihat dunia, hijau: kehijauan bumi, biru: kesetian dan cinta, ungu: kemapanan, dan hitam: akhir atau dunia fana, yang melambangkan fase kehidupan manusia. Suami lalu memotong benang tersebut satu-persatu, sampai habis. Setelah jalan terbuka lebar, beliau pun jalan jongkok (jongkok lho ya, bukan ngesot) ke arah saya.

Habis itu suami memutar nampan hingga saya duduk menghadap beliau, cium tangan, lalu dibantu berdiri. Setelah berdiri, suami memegang kepala saya sambil ngomong “kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu.” Yeah, something like that lah.. lupa saya kalimat pastinya.

Udah deh, selesai prosesinya. Tinggal naik pelaminan lalu sungkem sama orang tua. Simpel kan??? 😀

PS: Sebelum tradisi puter nampan, saya keliling dan sungkem dulu sama kerabat yang dituakan dan dapat saweran.. Iyeeey. Eh tapi duitnya kemana ya? Habis itu saya ga tahu duitnya taruh mana,, Wahahahah.

PSS: Harusnya nampan yang dipakai itu nampan kuningan, tapi berhubung susah sekali carinya dan waktunya udah mepet. Akhirnya pake nampan biasa yang dihias pake kain emas.

PSSS: Walaupun saya udah kurusan (dikit) tapi keknya suami mesti mengerahkan seluruh tenaga buat muter nampannya 😛
_______________________________________________________

Nyelip epilog dikit deh,, takutnya saya males ga sempat nulis tentang prosesi nikahan kemarin lebih lengkap lagi. Acara malam itu alhamdulillah lancar,, dan alhamdulillah juga banyak yang datang. Teman SD, SMP, SMA, Kuliah, yang walaupun udah jarang kontak, lumayan banyak yang menyempatkan hadir.. :terharu:.. Teman-teman dari luar kota juga.

Pasangan blogger Jember, mbak priit dan mas bro hakim juga hadir siang harinya.. Huoooo.. pokoknya bahagia banget..

Eh, sapa tahu ada yang mau liat foto-foto nikahan saya kemarin, silahkan singgah di sini.

_______________________________________________________

Iklan

33 pemikiran pada “Tradisi Puter Nampan

  1. Kenapa duduk di nampan ya Mbak, bukan kursi. Pertanyaan kepo, namanya juga tradisi ya.Waktu diputar takut jatuh gak, mbak?

  2. Baru tahu adat ini Mel, hehehe 🙂 Lucu juga ya 😀

    Dan jadi ngakak membayangkan kalau itu jalannya beneran ngesot dan bukan jalan jongkok, huahaha 😆

  3. “kau adalah istriku, dan aku adalah suamiku” << aku adalah suamimu kali ya maksud amel? 😆
    kakak baru tau adat ini Mel, lucu yaaa ah tapi kamu mah ga berat koook

  4. lucu deh tradisinya..

    kalau di keluarga aku udah gak pake tradisi-tradisian deh kayaknya, kecuali sedikit berpantun deh (eh itu masuk tradisi juga gak yak?)

  5. kak, aku sejak kapan hengkang dari dunia persohiblogan sampe ketinggalan kabar kakak ? 😦
    yaudah deeh, sebelumnya saya mau ngucapin selamat ya kak :)) semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warrohmah :)) tetep update terus blognya ya kak :))

  6. Ping balik: Ipodku sayang, ipodku malang « Dunia Pagi

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s