Kanak-Kanak

Gara-gara kesibukan, saya jadi jarang banget menyapa teman-teman dunia maya, kadang hanya baca sekilas tulisan mereka dan tidak meninggalkan pesan. Baru akhir-akhir ini saja saya mulai ke kebiasaan menyenangkan itu, walau belum seaktif dulu. Tapi, gara-gara kak pepiiih dan daftar blog yang direkomendasikannya, saya jadi terdampar ke blognya bugurufunky. Dan di sela-sela pekerjaan yang (masih) menumpuk ini, saya tuntas mengkhatamkan blognya mulai dari tulisan terakhir berjudul si piktor hingga tulisan pertama tanggal 26 Januari 2010 (iya, saya bacanya mundur).

Sesuai judulnya, penulis blog ini berprofesi sebagai guru SD dan tulisan-tulisannya bercerita tentang murid-muridnya. Gaya menulisnya bener-bener mengalir dan menghanyutkan, saya berkali-kali ngikik saat membaca tingkah polah menggemaskan anak-anak SD itu, dan juga sempat menangis (yang langsung disambung acara sembunyi di balik monitor biar ga ketahuan pegawai lain) saat membaca kisah-kisah mengharukan yang harus dialami bocah-bocah polos itu. Dunia kanak-kanak harusnya menyenangkan dan indah.

—–

Saya sendiri tumbuh dalam keluarga broken home. Orang tua saya bercerai saat saya belum juga lancar mengeja. Masing-masing menikah lagi, sehingga saya punya dua ibu dan dua bapak.

Saya ikut ibu. Dan tentu ibu adalah orang paling penting dalam hidup saya, karena saya menyaksikan sendiri segala perjuangan dan banting tulangnya untuk saya dan adik-adik saya. Dengan ayah, sayangnya saya tidak punya banyak kenangan, karena selepas bercerai ayah saya hijrah ke Saudi Arabia. Tapi saya yakin, nama saya selalu terselip dalam doa-doanya.

Saya telah melewati masa di mana saya mempertanyakan kenapa orang tua saya berpisah, masa di mana saya merasa Gusti Allah tidak adil, masa di mana saya menganggap hidup itu kejam. Sudah jauh saya tinggalkan malam-malam memeluk guling dan membenamkan muka ke bantal demi menyembunyikan tangis dan ratapan saya. Saya telah menerima dan memahami. Walau selalu ada yang ‘kurang’ tapi hidup saya berjalan normal dan penuh kebahagiaan.

Mungkin tidak dalam kadar yang sama, karena waktu yang saya habiskan jauh lebih banyak dengan ibu. But I do love them. Both of them. Dan tidak ingin menyakiti salah satu apalagi keduanya.

Boleh dikatakan saya melewati masak kanak yang cukup ‘berat’ dan itulah kenapa saya selalu bertekad untuk mengusahakan sekuat tenaga agar anak-anak saya nanti bisa tumbuh dan menjalani masa kanak-kanak yang menyenangkan. Membaca tulisan-tulisan bugurufunky, saya kembali diingatkan dengan cita-cita itu.

——

Saya sendiri belum merencanakan kapan akan punya anak. Antara masih ingin menunda dan merasakan nikmatnya pacaran setelah nikah, dan kadang juga ingin sekali rasanya menjadi ibu. Dari pihak keluarga sebenarnya menyarankan untuk menunda kehamilan dulu, mengingat lokasi saya dan calon suami masih berjauhan. Tapi sepertinya saya akan sedikit “membandel”. Saya percaya Allah lebih tahu kapan saat yang tepa bagi saya memikul amanah besar itu.

Dan bahkan, sebelum anak-anak saya lahir, saya telah jatuh hati sejatuh-jatuhnya pada mereka. Dengan segenap jiwa dan raga. Bahkan sebelum keberadaan mereka, jiwa protektif dan penuh kerelaan tumbuh dalam diri saya. Saya tidak ingin anak saya melewati masa-masa kanak yang suram, segenap daya upaya akan saya lakukan demi kebahagiaan mereka.

Nak, jika kamu nanti membaca tulisan ini. Percayalah bahwa ibu mencintaimu, dan bahkan doa-doa untukmu telah ibu panjatkan jauh sebelum kamu ada.

Dan jika ada perlakuan ibu yang tidak kausuka, maafkanlah nak. Percayalah bahwa ibu telah berusaha sekeras yang ibu mampu.

Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahimu dengan kebahagiaan dan keselamatan. Tumbuhlah dalam keimanan dan ketaqwaan, serta kecintaan yang dalam pada penciptamu. Cinta yang lurus dan suci, bukan cinta yang melukai perasaan cinta pada sesamamu.

 

Tulisan yang cukup random, serandom perasaan penulisnya saat ini.

Iklan

17 pemikiran pada “Kanak-Kanak

  1. hmm, pasti berat ya kak jadi seperti itu… πŸ˜₯
    tapi saya salut, kakak bisa tetap tegar~ πŸ™‚

    Suka

  2. Yaaa, punya anak itu kan tanggung-jawab yang besar kan ya Mel, hehe. Jadi harus direncanakan deh kalau memang sudah memutuskan untuk punya anak, harus siap dengan itu semua πŸ˜€

    Suka

    • hohho.. insyaAllah siap sih kak kalau secara materiil dan financial, cuma yang secara rohani ini kan ga tertebak.. Tar ngerasa siap ternyata ngga, ternyata ngga eh sebenarnya siap.. Jadi sih rencananya mau ngikut arus aja, ga menunda tapi ga juga mengusahakan cepat.. kapan dikasihnya aja. Tuhan lebih tahu saat yang paling tepat πŸ˜€

      Suka

  3. amel… aku baru tahu kisahmu.. i am sure u have grown into a strong and special girl. U rock!
    ntr kalau nikah kutunggu undangannya;)

    Suka

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s