Payung Ungu Amela

Amela, gadis manis yang tinggal di depan rumahku. Lincah dan riang serta menyenangkan. Jika hujan turun, dia akan keluar rumah dengan payung ungu berendanya, lalu menari berputar-putar di bawah guyuran hujan. Aku suka sekali mengamati Amela menari, payung ungunya terlihat seperti gasing yang berputar jika dilihat dari lantai tiga rumahku.

“Kamu suka menari Amela?” tanyaku suatu hari. Amela menatapku malu-malu, bersembunyi dibalik tubuh ibunya.

“Ditanyain abang tuh, jawab dong Amel,” kata ibunya.

“Amela suka menari?” aku mengulang pertanyaanku, gadis itu malu-malu mengangguk.

–0–

Hujan. Aku duduk di teras, mengamati Amela menari dengan payung ungunya. Lincah dan menggemaskan. Β Tapi hujan kali ini sekedar lewat saja, tak lama kemudian Amela terpaksa mengakhiri tariannya.

“Amela mau es krim?” aku menyapa. Mata rusanya menatapku ragu-ragu.

“Abang punya es krim rasa anggur. Kamu suka anggur kan?”

Langkah-langkah kecil itu mengikutiku masuk ke rumah.

–0–

“Tambah lagi Amela?” aku menyodorkan sepotong blueberry cheese cake lagi padanya. Ragu-ragu Amela menerimanya.

“Orang tuamu belum pulang?”

Amela menggeleng. Kedua orang tuanya memang sama-sama sibuk, Amela lebih sering menghabiskan waktunya dengan pengasuh.

“Bi Minah?”

“Alisan di tempat Kak Teti.”

–0–

Tok.. tok.. tok..

“Kamu lihat Amela, Dharma?” Ibu Amela bertanya cemas.

Aku menggeleng. “Hari ini dia tidak main ke sini Bu. Memangnya dia tidak bersama Minah?”

“Tadi Amela tidur siang, jadi ditinggalnya Amel ke warung. Sekembalinya dari warung Amel sudah tidak ada,” ibu Amela mulai menangis.

“Gimana Yah? Ketemu?” ibu Amela bertanya ketika melihat suaminya kembali. Tangisnya kembali pecah waktu suaminya menggeleng lemah.

Hari itu, seluruh warga komplek heboh mencari Amela.

–0–

Hujan turun, suasana komplek terasa muram. Sudah sebulan lebih tidak ada tarian riang Amela dan payung ungunya. Bahkan polisi pun tidak dapat menemukan petunjuk keberadaan gadis manis itu.

“Mas Dharma sudah dengar kabar?” salah seorang tetanggaku lewat di depan rumah.

“Kabar apa Pak?”

“Jenazah Amela ditemukan hanyut di kali Ciliwung, ini saya mau ke sana lihat proses evakuasinya,” lelaki setengah baya itu menjelaskan.

“Mas Dharma mau ikut?”

Aku menggeleng. Lelaki itu pun berlalu. Aku mengunci pintu, harus kupastikan payung ungu itu tersembunyi rapi di sudut loteng.

dibuat secara dadakan untuk meramaikan #ffhore.. sudah tahu kan alasannya apa?

Iklan

63 pemikiran pada “Payung Ungu Amela

  1. syereemm Mel.. tapi cukup kaget juga dengan endingnya hehe..

    *yang punya ponakan hati2 pedhofil bisa di sekeliling anda hehe..

  2. gadis kecil:mas dharma, mau donk es krim anggur yg kaya amel
    dharma:kamu mau?ayuk kerumah
    gadis kecil:mas dharma saya tangkap krn sudah terbukti membunuh amel,saya tau semua buktinya
    dharma:siapa kamu?
    gadis kecil:saya adl polwan yg menyamar sbg gadis kecil

    wkwkwkkwkkkk..khayalan gelo #maaf merusak cerpenmu mel
    tp bagus kok πŸ˜‰

  3. tetep mencoba berbaik sangka pada mas dharma… siapa tau emang takut dikira pembunuhnya.. jadi payungnya disimpen.. atau saking sedihnya dia menyembunyikan payungnya… atau…
    (ngelantur)

    keren amel;)

  4. kali aja tuh mas Dharma ngefans sama payung ungunya Amela…

    belum tentu kan mas dharma yang bikin kejadian naas itu, kok udah pada nuduh psikopat segala πŸ˜†

  5. Kok endingnya gak happy ya? 😦
    Walau dadakan, tetep aja ya hasilnya selalu bagus.
    Mengundang rasa penasaran, jadi bacanya mesti sampai habis πŸ˜€
    Btw, ungu itu sekarang jadi warna kamar saya πŸ˜†

  6. Ping balik: Namaku Amela « Dunia Pagi
  7. salah banget baca malemmalem, langsung merinding >,<
    tapi mas Dharma nya bunuh Amel bukan garagara naksir sama payung ungu nya kan Mel? sadiss banget kalau cuma garagara payung doang 😦

  8. udah aku fikir pasti ujungnya gitu deh pas baca dia nyebutnya abg dan minta eskrim *kebanyakan mikir fiksi* hehehehe

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s