Semua Tentang Ayah

(P.S: Kemarin ditag sama mas Adi Nugroho dan Ari Tunsa, sebuah event antologi, temanya “Semua tentang ayah”, deadlinenya nanti malam. Tiba-tiba aja dapat ide buat menulis ini. Iseng-iseng berhadiah, soalnya saya iri sama Dhenok yang udah banyak karyanya dibukukan. Saya? Belum memulai sedikit pun. Tapi niat saya urungkan ketika saya tidak bisa menemukan 15 dari 30 orang yang harus saya tag di sebuah note tentang event ini sebagai salah satu prasyaratnya, teman saya ratusan sih di facebook (ga niat pamer lho ya), tapi saya tidak bisa menemukan jumlah yang cukup yang bakal dengan senang menerima note tag dari saya. Saya putuskan untuk membaginya di sini saja, lagipula saya rasa agak melenceng dari tema sebenarnya jadi saya agak minder juga. Selamat membaca)

sumber: alaska-in-pictures.com

sumber: alaska-in-pictures.com

Hari ini aku dapat tugas menulis, dari Bu Ajeng guru favoritku. Aku suka menulis, sangat suka. Jika sudah besar nanti aku ingin jadi penulis cerita anak-anak, menulis ratusan buku untuk dibacakan para orang tua sebelum anak-anak mereka pergi tidur. Kata Bu Ajeng aku penulis yang berbakat, nilai karanganku selalu paling tinggi di kelas, makanya aku jadi murid kesayangan Bu Ajeng.

Tapi Teman, kali ini aku bingung akan menulis apa. Tema tugas kali ini benar-benar membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Bu Ajeng menyuruh kami menulis cerita tentang ayah kami masing-masing, “Semua tentang ayah” judulnya. Dan masalahnya, aku tidak punya ayah.

“Bolehkah saya menulis tentang ayah Ridwan, Bu?” tanyaku pada Bu Ajeng saat bel sekolah telah berbunyi dan kelas telah sepi.

Bu Ajeng mengernyitkan keningnya, “Tidak boleh Ali! Ceritakan tentang ayahmu sendiri, kan tadi sudah ibu jelaskan!”

Kakiku sibuk membentuk lingkaran kasat mata di lantai, kepalaku menunduk malu. “Tapi saya tidak punya ayah, Bu.”

Semakin kusembunyikan wajahku saat Bu Ajeng tertawa, “Tentu saja semua orang punya ayah, Ali. Satu-satunya orang yang tidak memiliki ayah adalah Nabi Isa, bukankah pak Salim sudah menceritakan kisah itu kepadamu?”

“Tapi saya memang tidak punya ayah, Bu. Sejak saya kecil ayah sudah tidak ada. Kata ibu saya, ayah saya sudah lama mati.”

Bu Ajeng mengelus lembut kepalaku, menatapku iba, “Itu bukan berarti kamu tidak punya ayah. Semua orang punya ayah, termasuk kamu Ali. Hanya saja ayahmu telah pergi. Mungkin bisa kautanyakan seperti apa ayahmu pada ibumu, agar kamu bisa menyelesaikan tugasmu. Ibu yakin kamu pasti bisa Ali, kamu berbakat dalam menulis.”

Jawaban Bu Ajeng belumlah memuaskanku. Aku masih bingung harus menulis apa. Kulirik jam dinding di belakang kelas, aku harus segera pulang sebelum ibu marah.

****

Aku mengintip ragu-ragu dari balik pintu sumur, kulihat ibu sibuk mengucek cucian, ekspresinya sebal karena noda di baju bolaku tak mau hilang.

“Sudah pulang kau Ali? Lihat ini kelakuanmu! Sudah kubilang jangan main bola saat hujan, masih saja kau membandel. Sekarang bajumu lebih pantas dijadikan serbet,” ibu mengomeliku.

“Sudah kau sampaikan pesanku pada pamanmu?” ibu melemparkan baju bolaku ke ember besar di sudut, menyerah, nodanya tak mau hilang.

“Sudah,” jawabku lirih.

“Bagaimana katanya?”

“Paman bilang paman tidak punya uang, batu batanya belum ada yang laku,” aku menatap ibu takut-takut.

“Bah! Pamanmu itu memang kikir, baru kemarin kulihat batu batanya diborong orang kampung sebelah, dia bilang tidak punya uang? Sama kakak sendiri saja dia pelit,” ibu melanjutkan mencuci sambil menyumpahi pamanku satu-satunya.

“Ada apa lagi?” tanya ibu saat melihatku masih menempel erat pada pintu sumur.

“Err.. aku dapat tugas menulis ibu,,”

“Lalu?” bulu kudukku meremang saat ibu menatapku dengan pandangan menyelidik.

“Buku tulismu habis? Atau pensilmu?”

Aku menggeleng.

“Lalu apa?” tanya ibu tak sabaran.

“Aku harus menulis tentang ayah, Bu.”

Ibu terdiam sejenak. “Ya sudah tulis saja ayahmu sudah mati 12 tahun yang lalu.”

“Bukan begitu Bu. Bu Ajeng bilang aku harus menceritakan seperti apa sosok ayahku, bagaimana sifatnya, dan lain sebagainya Bu.”

Ibu bergegas mencuci tangannya yang penuh sabun, lalu melintas cuek menuju dapur. Aku mengejarnya hingga ke dapur.

“Bagaimana rupa ayah semasa hidup, Bu?”

“Ibu lupa,” jawab ibu ketus.

“Tidak ada fotonya kah?” aku terus mengejar.

“Kau lihat ada foto ayahmu kah di rumah ini?” ibu balik bertanya, retoris.

“Tinggikah ayah Bu? Atau pendek seperti ayah Ridwan? Apakah dia berkulit hitam seperti aku Bu?” aku membuntuti ibu ke ruang makan.

Ibu menatapku marah, aku langsung gemetar. Ibu berjongkok hingga kami sama tinggi, menatapku langsung ke kedua bola mataku.

“Ibu tidak tahu Ali. Ibu benar-benar tidak tahu. Dia bisa saja tinggi, bisa pula pendek. Tapi kurasa kau benar, mungkin dia berkulit hitam. Tak mungkin kulit hitammu itu menurun dari ibu yang kuning langsat ni kan? Tulis saja sesukamu Ali, kau bisa memilih sosok ayah seperti apa yang kau mau.”

Aku menatap ibu tak mengerti. Bingung.

“Paling tidak beri tahu aku namanya Bu! Agar bisa kutuliskan di ceritaku.”

“Bahkan nama ayahmu saja ibu tak tahu Ali. Ibu tak tahu yang mana dari sepuluh lelaki bejat itu yang menjadi ayahmu. Maafkan ibu Ali. Maafkan.”

Air mata membanjiri wajah ibu, ibu memelukku. Pipi ibu bertemu pipiku. Air mata ibu berbaur dengan air mataku. Aku tak mengerti maksud ibu, tapi aku dapat mengerti kesedihan yang tengah dirasakan ibu. Kami berpelukan, menangis bersama.

****

Aku tidak peduli lagi tentang ayahku, tidak penasaran lagi seperti apa rupanya, bagaimana sifatnya. Aku juga tidak pernah lagi iri pada teman-temanku yang tiap hari minggu diajak jalan-jalan oleh ayahnya, ataupun sekedar menonton televise bersama. Aku tidak butuh ayahku. Karena kini yang aku tahu, siapapun dia, ayahku bukanlah sosok yang baik. Ayah telah membuat ibu menangis kemarin, bahkan hanya dengan mengingatnya. Pastilah saat masih hidup ayah jauh lebih jahat lagi dan membuat ibu menangis tiap hari.

Aku tetap mengerjakan tugas menulisku, tapi jika biasanya aku bisa menulis berlembar-lembar, kali ini aku menulis tak sampai satu halaman. Ketika Bu Ajeng menyuruhku maju untuk membacakan tulisanku, aku maju tanpa ragu-ragu. Aku tak malu lagi.

Semua Tentang Ayah

Sejak kecil, aku tak pernah bertemu dengan ayahku, melihat fotonya pun belum pernah. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya atau bagaimana cara bicaranya. Aku tak pernah mengenal ayahku, bahkan namanya pun aku tak tahu.

Kadang aku membayangkan ayahku bakal seganteng David Beckham, atau mungkin biasa saja seperti Pak Saleh tetanggaku. Mungkin dia tinggi besar atau berbadan tanggung sepertiku. Aku tak tahu.

Tapi yang aku tahu, ibu adalah ayah bagiku. Ibu lah yang bekerja membanting tulang untukku, supaya aku tetap bisa makan dan bersekolah. Ibu pula yang membelikanku baju dan peralatan sekolah. Ibu yang membelaku saat anak-anak tetanggaku mengusiliku. Ibu yang melindungi dan menjagaku.

Mungkin aku memang tak tahu apa-apa tentang ayahku. Tapi aku tak butuh seorang ayah. Ibu sudah cukup bagiku. Ibu sudah lebih dari cukup bagiku.

Dan coba tebak Teman! Aku dapat nilai tertinggi lagi.

60 pemikiran pada “Semua Tentang Ayah

  1. Waaah … ibu sampai hati “jujur” sama si Ali … padahal suatu saat kan, Ali bakal tahu maksud 10 lelaki bejat itu. Padahal kalau gak disebut, pembaca bakal asyik menduga-duga 😀
    Tapi, Keren banget, Mbak Mel … fiksinya selalu punya kejutan kayak si Sasmi itu hehe 😀

  2. merinding bacanya…meski fiksi, bisa jadi kisah nyatanya ada.
    jadi lebih serem kalo di akhir cerita ada catatan #based on true story.

    dan bagiku, pemerkosa layak dihukum mati !

  3. tersentuh.. 😥
    saya juga di-tag, tapi sedang tidak ingin menuliskannya dalam tenggat sesingkat itu.

    selamat & sukses untuk lombanya, Mel 🙂

  4. Postingannya
    bikin aku kangen ayahku..
    ” Sejak kecil, aku tak pernah bertemu dengan ayahku, melihat fotonya pun belum pernah. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya atau bagaimana cara bicaranya. Aku tak pernah mengenal ayahku, bahkan namanya pun aku tak tahu.”

    beruntungnya aku masih bisa melihat foto beliau dan lukisannya..

    keren postingannya mba..

  5. ali pandai… hmm… alhamdulillah kita hidup dalam keadaan yang baik, dengan kedua orang tua kita yang masih ada ya mbak 😦

  6. awalnya biasa aja tapi endingya bagus banget…Suka banget bagian saat ali membacakan tulisannya

  7. Keren ceritanya Mel. Tapi itu kenapa ibunya membeberkan cerita 10 lelaku bejat itu ya?? Hmmm. Ali masih kecil sih, jadi nggak papa. Tapi nanti setelah ia bertumbuh lebih dewasa, ia kan bakal jadi lebih tahu, hehehe 😛

  8. Pernah baca “Pelajaran Mengarang”-nya Seno Gumira Aji Darma ga, Mel?
    Baa tulisanmu yang ini jadi keinget cerpenis favoritku itu.
    cuma terakhrnya, “Ibuku seorang pelacur”
    hehe
    Btw, kalau ada proyek antologi lagi, mbok ya ajak2 😀

    • belum.. eh udah belum y? *bingung sendiri*
      ini juga ditag di facebook kok bang, mel ga jadi ikutan proyeknya, heheh
      yadeh kapan2 nanti kalau ada notes2 begini abang sulung ganteng mel tag dah

  9. wahhhh aku beruntung masih punya ayah :)… tapi ali pintar ya mbak melihat rasa sedih dihati ibunya ia tidak lagi memikirkan ayahnya… padahal anak kecil orang keras dan maunya harus dituruti, bagaimana perasaan ali melihat hati ibunya menangis dengan hatinya sampai masuk kedalam hati ali kali ya mbak hehehehe

    nilai tertinggi dari ku 🙂

  10. jelas aja dapat nilai tertinggi, orang gaya menulisnya aja bagus banget..
    jadi ingat ayahku nih
    dulu saya kira beliau doyan marah2 ke saya, eh ternyata emang intonasinya aja yang ketinggian..hehehehe

  11. Loh, tulisan ini gak jadi dikirim?
    Ini mah bagus banget, Mel… #ngintip cerpenku yang awut2an
    ehm, aku termasuk deadliners sih 😦
    Jadinya nge-tag teman2 juga pas udah mepet banget waktunya….

  12. keren postingannya mewakili kehidupan ku tp yg membedakan ayah ku ayahyang sangat bai kelak aku akan menjumpainya dengan jutaan rindu yang ingin terlontar,,,

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s