Kenapa Harus Bayar Pajak?

sumber gambar: kompasiana

sumber gambar: kompasiana

Masih santerkah pemberitaan kasus pajak DW di televisi?? Sudah lama saya ga nonton di televisi, dan gara-gara pemberitaan ga berimbang itu saya pun jadi makin males ngelirik televisi. Kenapa? Malu? Hei, ngapain saya harus malu, yang salah bukan saya kok, saya kerjanya udah sebaik dan sekeras yang saya bisa.

Saya cuma heran aja sih, kenapa kalau alumni STAN yang tersandung masalah, media langsung heboh memberitakannya, malah terkadang kehilangan fokus, yang dibahas malah disangkut-pautin sama almamater saya. Nah, kalau koruptor-koruptor kelas kakap itu, kok almamaternya ga dibawa-bawa ya? Pas boomingnya kasus GT, kampus saya jadi sering disatroni awak media.

Belum lagi komentar miring tentang almamater saya itu. Yang emang mahasiswanya diajarin korupsi lah, (Woy, kurikulum yang mana itu??), yang semua lulusannya koruptor lah, (*ngelus dada*, yang ngomong gini sadar ga sih kalau dia udah memfitnah ribuan orang, tanpa bukti?). Korupsi itu tergantung pribadi masing-masing lho ya. Bukan karena didikan waktu kuliah dulu, wong ketahuan mencontek aja langsung di-DO lho. Jadi tolong deh jangan sembarangan menuduh.

Saya ga mau berpendapat benar atau salahkan mas DW itu, ga mau membahas kasus yang membelitnya juga. Karena jujur saya itu ga kenal mas DW, ga mengikuti perkembangan kasusnya, dan saya lulus mata kuliah pajak dengan nilai pas-pasan. Kalau mau baca pendapat temen saya chachu dan tyas, monggo mampir ke blog mereka.

Lalu intinya tulisan ini apa mel?

Jadi begini, efek samping dari kasus ini adalah terbentuk opini di masyarakat untuk ga bayar pajak. Banyak yang menganggap percuma bayar pajak, toh duitnya di korupsi juga. Nah ini nih yang perlu dilurusin.

Yang termakan opini tersebut, kemungkinan besar adalah orang-orang yang belum pernah bayar pajak. Kenapa saya bilang begitu? Lah, soalnya kalau udah pernah bayar pajak pasti tahu kalau duit pajaknya ga mungkin dikemplang.

Jadi begini saudara-saudari, DJP itu, secara kasarnya, adalah menangani pelaporan dan penagihan pajak. Nah, kalau yang mengurus penerimaan negara, salah satunya adalah pajak, itu termasuk tupoksinya kantor saya, lebih khususnya lagi seksi bank/giro pos. Kerjaan saya tiap sore itu ya ngurusin penerimaan negara, ngebukuin, dan seterusnya, dan sebagainya.

Jadi yang berpotensi “nyomot” duit pajak itu KPPN dong? Ya ngga gitu juga kalii. Penerimaan negara yang saya urusin itu cuma bukti fisiknya aja, hitam di atas putihnya, surat setorannya. Duitnya? ada di bank lah.

Secara gampangnya, proses bayar pajak itu begini:

  1. Wajib pajak menghitung utang pajaknya
  2. Wajib pajak datang ke bank/pos yang ditunjuk, bawa duit, bawa surat setorannya
  3. Teller bank/pos menerima pembayaran, meminta NTPN lewat aplikasinya (NTPN itu nomor transaksi penerimaan negara, bukti bahwa uang yang diterima sah sebagai penerimaan negara). Biasanya satu lembar surat setoran dikembalikan ke WP sebagai arsip.
  4. Bank/Pos tiap sore melimpahkan duit yang diterimanya itu ke kas negara di BI
  5. Tak lupa Bank/Pos melaporkan penerimaannya hari itu ke KPPN. Bawa ADK (arsip data komputer) sama surat setorannya..
  6. Nah, saya KPPN menatausahakan penerimaan, memastikan bahwa duitnya udah dilimpahkan ke rekening kas negara. Membukukan penerimaan hari itu.

Terus dari mana coba ngemplang duitnya? Dalam kasus GT itu, dia bukannya “menyalahgunakan” duit pajak yang disetor wajib pajak, melainkan dia “kerja sama” dengan wajib pajak buat “merekayasa” laporan pajaknya si wajib pajak. Jadi misal nih ya, pak AB mestinya bayar pajak 1M, nah dengan bantuan GT, pak AB ini “mengedit” laporannya, jadinya seolah-olah utang pajaknya cuma 200juta, sebagai “ucapan terimakasih” pak AB ngasih GT satu unit mobil. Ini cuma misal lho ya.

Jadi, ga perlu ragu buat bayar pajak. Duit yang disetorkan aman masuk ke rekening kas negara kok. Dan, nyetor pajak itu gratis, ga dipungut biaya di bank/pos persepsi, karena biayanya udah dibayarin negara, 5000/surat setoran.

Pajak yang disetor itu besar manfaatnya lho buat orang banyak, soalnya mau ga mau harus diakui kontribusi paling besar dalam penerimaan negara itu ya dari pajak. Dari duit pajak yang kalian setor, negara membiayai kehidupannya, dari mulai bayar gaji PNS macam saya, buat dana proyek pembangunan, sampe subsidi-subsidi di berbagai sektor. Kalau ternyata duit-duit tersebut dikorupsi saat dikeluarkan, ya tolong ya sekali lagi, itu tergantung pribadi masing-masing.

Jadi kalau kalian ga mau bayar pajak, berarti ga berhak lho ya protes tarif TDL naik, harga BBM naik, biaya pendidikan makin mahal. Lah wong dengan pendapatan pajak 800 sekian trilyun aja harga-harga masih mahal, apalagi kalau wajib pajaknya pada ogah bayar pajak. Bisa-bisa utang kita makin membengkak. Mau anak cucu kita dibebani hutang tujuh turunan?

Akhir kata, sudahkah kalian punya NPWP? Sudahkah bayar pajak? Sudahkah lapor SPT Tahunan?

Oh iya, sekarang ada produk terbaru lho di DJP. E-filing, buat lapor SPT Tahunan secara elektronik. Tapi tetep sih mesti ke KPP terdekat buat daftarnya, cuman kan lumayan untuk tahun-tahun ke depannya ga perlu repot ke KPP buat lapor SPT, cukup isi aja secara online.

(buat informasi lebih lanjut tentang pengisian SPT secara online silahkan berkunjung ke: http://bagaimana-cara.blogspot.com/2012/02/lapor-spt-tahunan-online.html)

*tulisan ini adalah opini pribadi, silahkan sampaikan kritik dan saran melalui kolom komentar*

Iklan

87 pemikiran pada “Kenapa Harus Bayar Pajak?

  1. Aku udah daftar e-filing, Dek. Tinggal nunggu kuncinya aja, nih. Jadi bisa dipake mulai tahun depan. Hwehe. πŸ˜€

    Setuju sekali, Dek. Udah lama pengen nulis semacam ini, melawan orang-orang “kurang informasi dan pengetahuan mengenai perpajakan atau bisa jadi kurang nasionalisme atau barangkali terindikasi upaya makar kecil-kecilan” yang berkoar-koar menghimbau orang-orang lainnya untuk tidak membayar pajak. Gak ada hubungannya sama sekali kasus korupsi orang DJP itu dengan pajak yang kita bayar. Kalau mereka benar-benar muak dengan kasus ini, boikotlah perusahaan-perusahaan besar yang terlibat, jangan sekali-kali pakai produknya.

  2. sip mel, mantaaaaaffff πŸ˜›
    setuju banget dah saya.
    satu catatan, Pak AB? hahahahaha… kayaknya saya tahu maksud anda wihihihihi

  3. aku belum lapor SPT tahunan, minggu depan ajah πŸ˜€
    aku setuju Mel sama cerita kamu, kalo mau korupsi sih ngga usah jadi pegawai pajak dulu. karyawan swasta aja bisa kok kalo mau korupsi. balik ke masingmasing orangnya lagi. yang pasti sih emang mesti kuatkuatin iman, banyakbanyak bersyukur biar ngga tergoda sama setansetan materi itu πŸ˜›

  4. Hehehe,,sabar Mel, tidak semuanya kok lulusan STAN itu koruptor, toh sifatnya pribadi bukan untuk sebuah organisasi apalagi sebuah perguruan tinggi πŸ™‚

    Alhamdulillah saya dan temanΒ² yang lain orang yang taat pajak, soalnya kalau ada BPK yang di smperin dulu pasti pajak hehe..seandainya bisa laporan pajak orang pribadi online kan enak ya, tanpa harus ke KPP, soalnya Kantor Pajaknya disini jauhhhhhh hehehe,

  5. kira2 klo ngomong di sini bakal ditangkep gak ya Mel?
    Aku punya pengalaman lho yang mungkin akan kalian bilang itu pekerjaan OKNUM
    tapi sejak aku mengenal pajak sampai detik ini,
    yaaaa … tetep sih aku akan bilang BUAT APA BAYAR PAJAK klo duitnya DIKEMPLANG sama yg kalian bilang OKNUM itu???

    sepertinya hampir semua departemen selalu tersedia OKNUM2 yang dijadikan ‘martir’? entah itu resmi entah tidak
    tapi sedikitnya ada 2 instansi yang saya tau yaaaa … gitu deh ..

    masalahnya, klo ngomong apa adanya, gak mau aja jadi kasus prita ke-2
    klo cuma masuk bui? lah klo di bui saya diapa2in? hehehe

    jadi yaaa … masing2lah … aku maklum ada generasi Amel yg taat pajak
    tapi aku LEBIH MAKLUM lagi generasi yang merasa mbayar pajak itu seperti DIPALAKIN aja

    wesssssss pagi2 sih Amel ngajakin omongin pajak xixixixi

    eh tapi saya tetep sih mbayar pajak klo pas makan di resto πŸ˜›

    • waah, pengalaman apa itu mbak? sebenarnya sekarang kalau pas penyetoran (penerimaan) pajak ga ada kesempatan ngemplang sih mbak,, soalnya kan disetornya kan langsung ke bank.. di kantor pajak sendiri sudah direformasi setahu saya..
      tapi kalau pas pengeluaran APBN, ya memang harus jujur sih,, belum bersih bener..
      sama kalau belanja di supermarket ya mbak?
      hehehhe

  6. Mel, se7 banget kenapa mesti malu..? itu kan perbuatan si oknum …
    ulah si oknum yang miring itu sejak zaman kuda gigit besi kayaknya sudah ada …
    lihat deh pepatah lama … ulah setitik nila rusak susu sebelanga … πŸ™‚

  7. yang pasti, bayar pajak emang kewajiban kita. jadi ya emang harus dibayar…
    masalah orang2 yang korup itu ya tetep harus ditindak…

  8. Nah, ‘kan, saya jadi ingat, argumen saya dan adik saya mulai terbukti, Mel. :mrgreen:

    Beberapa waktu lalu, saya dan adik saya pernah diskusi mengenai hubungan antara kebiasaan mencontek saat sekolah dan kuliah dengan korupsi saat nanti kerja. Kenapa kami membicarakan hal ini? Kami gerah dengan begitu getolnya kampanye larangan mencontek di kampus kami. Dan yang membuat kami gerah adalah, bahwa “mencontek pangkal korupsi”. 😐

    Kami sepakat, bahwa dua hal itu —mencontek dan korupsi— tidak nyambung! Tak ada hubungan yang pasti antara suka mencontek di saat kuliah, atau jadi anak nakal saat kuliah, dengan menjadi koruptor saat bekerja. Tidak ada! 😑

    Orang bisa saja alim saat kuliah, bergabung di unit keagamaan, bergaul dengan orang baik2, tapi tidak menutup kemungkinan dia gak bakal terbawa arus kotor di lingkungan kerjanya, ya ‘kan? Mau contoh, itu lihat aja Anas Urbaningrum. Dia dulu punggawa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dan saya yakin masa kecilnya dia lewati dengan sangat alim. Eh anu, saya tidak membenci dia, ya, saya hanya ingin menjadikan ini sebuah contoh saja, terlepas dari belum terbuktinya Anas main kotor, ya.

    Nah, soal DW ini, mungkin begitu juga. Siapa tahu DW ini dulu dikenal sebagai mahasiswa cerdas di almamaternya, IP tinggi, dan rajin berorganisasi. Tapi, dahulu kala, siapa sih yang bakal menyangka DW jadi korup? Gak ada, ‘kan? 😦

    • Hahaha, iya sop.. Jangankan dalam waktu bertahun-tahun.. wong dalam semalam aja orang bisa berubah kok, dari yangs semula baik dan alim tiba2 jadi jahat, begitu juga sebaliknya..

      Yang mau kutekankan sih bahwa opini kalau di STAN itu emang diajarin cara-cara korupsi adalah SALAH BESAR.. Waktu masa pendidikan, lembaga udah berusaha maksimal untuk membiasakan mahasiswanya jujur, setidaknya pada diri sendiri, ya salah satunya dengan ancaman DO kalau ketahuan mencontek,,

      Nah kalau setelah lulus, alumni-alumninya ternyata membohongi banyak orang buat kepentingan pribadi, tentu itu bukanlah karena peran serta almamaternya dong.. Seperti kata asop tadi, siapa tahu seseorang dikenal kebaikannya semasa kuliah, tapi pas udah kerja ternyata berubah..
      Mungkin juga mahasiswa yang dulunya suka mencontek, ketika kerja nanti jadi orang yang baik dan bersih

      • Iya, lagipula ketahuan mencontek langsung DO, itu mana mungkin terjadi di kampus saya?? 😦 Itu luar biasa sekali….
        Paling banter skorsing. πŸ˜€

        Dan saya pun akan marah juga kalau almamater saya diejek seperti itu… πŸ‘Ώ

  9. ow, soal pajak. saya gak bisa banyak comment cz saya belum jadi wajib pajak
    motor punya ibu saya, kerjaan masih mahasiswa, usaha pribadi juga belum punya
    jadi saya gak mau bingung soal pajak

    hehe…ng-autis πŸ˜†

  10. Wajar Mel kalau kamu emosi melihat dan/atau mendengar pemberitaan di media massa yang memojokkan STAN. Karena ya memang mereka sebenarnya tidak boleh memojokkan dan sebenarnya boleh lho STAN itu menuntut pemberitaan yang cenderung memojokkan.

    Yang penting sekarang, menurutku, selama kamu bekerja sebaik mungkin itu udah cukup. Semangat kakakkkk πŸ™‚

  11. tiap tahun taat pajak ya, si Ezy itu buktinya, Mel hehehe..

    yang sedang dak pikirkan bagaimana dengan pajak penghasilan, hmm, akan menjadi dilema kalau penghasilan tipis, masih saja dipotong pajak. jadi kepikiran, kenapa ya ndak sekalian tiap bulan ada potongan penghasilan 2,5% untuk zakat dan dikelola macam pajak. kan yang berkelebihan bisa mensubsidi yang kekurangan.

    • kan ada PTKPnya mbak.. berarti kalau penghasilan kita kena pajak, udah diatas PTKP, artinya menurut pemerintah kita udah dianggap mampu (walaupun ga selamanya begitu ya)

      iya mbak, saya juga setuju kalau ada potongan zakat begitu.. biar ga kelupaan.. Tapi ya sudah, harus ingat2 sendiri nih untuk menyisihkan jatah buat zakat

  12. Dulu sekali ada seorang teman juga yang menceritakan bagaimana seorang pengusaha bermain mata untuk memanipulasi pajaknya, dan oknum yang pns pun dapat fee dari situ.
    Eniwei….. sebenarnya lulusan manapun, kalau dikasih kesempatan untuk mendapatkan materi lebih dengan cara yang (mungkin) tidak baik tapi tak ketahuan, kemungkinan besar mereka akan berpikira untuk melakukannya. Kenapa? Karena mereka manusia. Manusia masih tak sanggup menolak godaan…. jelas….
    Jadi membentengi diri itu wajib…. semoga berhasil… hehee..

  13. haduh mel,saya mah gak paham amel menjelaskan apa. yg saya paham, saya itu WNI dan wn yg baik harus patuh sama peraturan dan hukum yg ada dinegaranya termasuk bayar pajak. ya sudah, saya bikin npwp, potong tiap bulan, dan laporan tiap 1 th sekali. kaga mau mikir yg berat2 sm susah2 ah…

    suatu saat saya pernah posting foto npwp saya dijejaring sosial, ada slh satu teman saya coment ”rela ngempani koruptor?” (red-rela kasih makan koruptor?). saya mah cuma balas, terserah ah, yg penting niat saya jd wn yg baik. hidup tenang, aman, damai, sentosa, sejahtera lahir batin. mungkin saya harus menyodorkan tulisan amel ke dia kali ya?? πŸ˜€

    eh mel, km alumni thn brp??teman saya juga byk lho berasal dr almamater yg sama sm km

    • saya cuma pingin meluruskan aja sih mbak.. kan pemahaman publik, yang dikorupsi itu duit setoran pajaknya.. padahal kalau duit yang disetor itu ya langsung masuk kas negara lewat bank yang ditunjuk..jadi duitnya aman..

      saya lulus 2010 mbak πŸ˜€

    • kalau udah punya penghasilan yang di atas PTKP sih wajib..
      sebenernya sih ga papa kalau mau bikin dari sekarang..
      kalau belum punya penghasilan ya nanti SPTnya nihil, ga perlu bayar pajak,, hehe

  14. eh SPT itu kalau PNS udah diurusin sama kepegawaiannya gak mel? soalnya klo gak diurusin berarti aku blm lapor dong ~_~ beneran bingung apa fungsinya buat NPWP itu deh.. pas lulus PNS aku disuruh buat ya buat aja gt.. hehehehe..

    dan aku baca postingan kamu pas ngantri mau rekon di KPPN :MRgreen: karena aku pengelola keuangan dana TP jadi tahu proses mulai dari dipa sp2d spm dan kawan2. memang gak ada uang tunai dari proses tersebut.. kalau mau korupsi malah aku berfikir lebih berpeluang adalah kontraktor yg pihak swasta itu.. sayangnya selalu saja yg ditangkap.dinegeri ini PNSnya dulu.. swastanya? masih berkeliaran dg dengan gelimang harta toh :p

    btw aku waktu lulus SMA daftar STAN loh.. tapi gak lulus :p

    • tergantung kantornya masing-masing mbak.. kalau di kantorku, bendaharanya cuma bikinin lembar A2nya buat lampiran SPT.. SPTnya nanti ngisi sendiri berdasarkan lembar A2 itu..kalau alamat mbak nie masih sama kayak yang terdaftar di kantor pajak, daftar efiling aja, biar bisa ngisi SPT online
      NPWP itu fungsinya buat identitas wajib pajak, mirip KTP itu, tapi dipakenya cuma dalam urusan perpajakan.. Tiap PNS emang diwajibkan punya, soalnya kan tiap gajian dan terima honor2 dipotong pajaknya

      Iya mbak, di instansiku sendiri udah ada yang jadi korban, sedangkan perusahaan fiktif yang terima duitnya malah ga diusut2, masih bebas bertualang.. Tapi herannya ga diblow up sama media

      Rezeki orang kan beda2 mbak niee,, kalau lulus STAN nanti ga jadi cewek gaul seantero pontianak lagi, hihihi

  15. alhamdulillah ada juga yang mencerahkan tentang pajak nih. betul banget saya sempet tersirat pikiran, malah sering denk mikir “ngapain bayar pajak kalau ada kasus gelapin pajak kayak gini”

    tapi semenjak saya kerja dan punya NPWP, saya gak pernah loh sekalipun lewatin bayar pajak. meski ada pikiran itu, saya tetep bayar pajak..toh dibayarin kantor kan pajaknya, hehehe…jadi saya cuman konfirmasi aja bahwa pajak sudah dibayar πŸ˜€

    mas DW kan masih tersangka. mudah2an tidak salah, amin..insyaAllah almamater tidak tercoreng ya dengan oknum2 penggelap pajak, amin…semangat πŸ˜‰

  16. Pas banget nih mbak ameel ngebahas SPT soalnya memang lagi musimnya bulan ini ngurusin SPT. Soal oknum sih disemua institusi (apapun itu namanya) pasti ada saja dan saya setuju bahwa tidak bisa kita menyalahkan sekolahan tempat seorang koruptor sebelumnya mencari ilmu.

  17. Mantap Mel postingnya, semakin mencerahkan pengetahuan kita akan pajak. Jadi kalau kita bayar pajak gitu memang pasti masuk kas negara ya πŸ™‚ Maksudnya, setelah kita bayar di bank-nya gitu, duit otomatis masuk kas negara dan ga bisa dimain-mainin. Berarti kasusnya GT itu dia bukannya mengakali sistem tersebut, tapi mengakali langkah sebelum WP membayar pajak??

    • iya kak, jadi kalau kasus mafia pajak itu biasanya mengakali jumlah yang seharusnya dibayarkan.. kalau yang sudah disetor kan udah masuk sistem perbankan terus tercatat di sistem penerimaan, sorenya langsung ditransfer.. jadi kalau ada yang mau main2in langsung kedetect

  18. orang bijak bayar pajak…tapi takutnya pajak itu di selewengkan sebelum nyampai ke kas negaara….kapan lah indonesia ini bebas dari korupsi yah πŸ™‚

    • coba dibaca lagi postingan saya πŸ˜€
      penyetoran pajak kan dilakukan di bank yang ditunjuk, bukan di kantor pajaknya.. kalau sudah disetor di bank, otomatis masuk ke rekening negara, tiap sore langsung ditransfer ke rekening kas negara di BI..
      biar amannya, pastikan aja setorannya udah dapat NTPN dan Bukti Penerimaan Negara (BPN)

  19. Diakui atau tidak, media merupakan alat yang paling berpengaruh untuk membentuk sudut pandang dan opini masyarakat. Hal tersebut sangat disayangkan bila mengarah pada hal hal yang kurang baik. Karena statement yang dikeluarkan oleh media mampu menggerakkan semua orang yg membaca dan melihatnya. Sabar ya Mel…

    • kalau ga salah sih ada dendanya 100ribu kalau terlambat lapor SPT Orang Pribadi, kalau badan malah 1juta..
      ayo mas segera dilaporkan,, masih ada waktu kok

  20. saya gak punya NPWP Mel. tapi saya kan dah sisihin uang rokok saya, apa itu bukan pajak.

    hmmm kalau omongin koruptor.. piye yo.. mau usul hukuman mati, pasti komnas HAM mencak-mencak. Tapi kalau hukumnya masih kayak gini di negara ini, yo wis lah mending kita menjaga diri kita sendiri aja semoga enggak terjangkit juga dengan sebuah virus bernama KORUPSI

    • haha, kalau rokok itu sih seingat saya cukainya yang gede.. tapi ada pajaknya juga sih, PPN 10%..

      saya sih juga setuju uncle kalau para koruptor dihukum seberat-beratnya.. walau ga hukuman mati, tapi diusutlah setuntas-tuntasnya,

  21. sebenernya sih mbak amel, menurut saya sih, tergantung pribadi dan AHLAK si petugas pajak. bukan dari almamater mana, atau kurikulum mana si petugas pajak yang tukang gelapin pajak yang jadi masalah kenapa tu petugas pajak bisa korupsi.

    kalo emang ahlaknya baik dan betul betul ngerti kalo nantinya apa apa yang diperbuat akan dipertanggungjawabkan di akhirat dengan SEADIL ADILNYA mah gak mungkin tuh orang punya keinginan buat gelapin duit duit rakyat buat keuntungan sendiri.

  22. yah… pokoknya kita bayar, menunaikan kewajiban sesuai peraturan pemerintah. kalau disalahgunakan yah… biar ditanggung yang menyalahgunakan πŸ˜€

    BTW, pegawai pajak kan ngga dari STAN aja ya Mel, temenku lulusan UGM juga ada yang di kantor pajak πŸ˜€

  23. Mba Amel, ini yang peribahasa sebut bahwa satu makan cempedak semua kena getahnya..Yah emang lucu juga orang yang korupsi disangkut pautkan dengan almamaternya…

  24. jadi inget dulu aku teratur laporan SPT

    heran knp bgt ya Mel, disama ratakan begitu, nggak fair lah

  25. Ameeell..
    Aku suka banget tulisan kamu. Bener-bener ngelurusin opini publik yang salah kaprah selama ini.
    Sejak pemberitaan DW ini banyak yg ter-demotivasi, termasuk aku. Ketemu temen-temen lama yang kesannya mandang rendah pegawai pajak. Bahkan keluarga besar. 😦

  26. kalau saya dan teman2 dikantor sudah puna semua mbaaa. . .
    dan alkhamdulillah kami (Kab. Banjarnegara) masih antri kalau mau membayar pajak. πŸ˜€

    untuk masalah korupsi yang bersangkutan dengan pajak, saya belum menghiraukan mba?
    yang penting saya sebagai WNI sudah memenuhi kewajiban saya membayar pajak. πŸ˜‰

    paling seneng kalau diundang di KPPN untuk sosialisasi pajak karena banyak doorprizenya. πŸ˜€

  27. Hm….kalau saya ngeliatnya ish opini publik itu “pegawai pajak lebih punya kans besar buat korupsi” walaupun selalu ada pengecualian…

    Tapi, saya sendiri bukan yang termasuk taat pajak sih, heeee

  28. kalaupun saya diwajibkan untuk membayar pajak, saya akan menuaikan hal tersebut, namun bukan karena saya merasa berkewajiban tapi karena “keterpaksaan”

  29. Saya merasa belum bisa menikmati fasilitas yang sesuai dengan pajak yang telah saya bayarkan (>60 Juta / tahun)… saya akan rela bayar pajak jika kami para wajib pajak diberikan timbal balik yang sesuai dengan yang kami bayarkan.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s