Kisah Dudubida dan Bubudiba #5

Minggu pagi yang cerah, benderang cahaya mentari menerobos celah-celah jendela. Burung-burung menyanyikan lagu selamat pagi bagi kawanan kupu-kupu, dan para kupu-kupu menarikan tarian suka cita bagi serumpun mawar yang baru saja mekar di tepi pagar. Cerah, pagi ini begitu cerah, namun tak mampu mencerahkan hati Dudubida.

Dudubida mengerahkan sekuat tenaga mendorong kardus televisi penuh berisi barang ke halaman depan, keringatnya bercucuran, nafasnya tersengal. Acara beres-beresnya belum selesai, masih terlalu banyak kenangan yang harus disisihkan. Dudubida telah bertekad untuk melupakan Bubudiba, kesabarannya sudah mencapai batas, hubungan mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

Dudubida membuka pintu kamar Bubudiba, kosong, hatinya benar-benar terasa kosong tanpa kehadiran kekasihnya. Dudubida menatap sayu ke dalam kamar, masih tersisa sedikit aroma Bubudiba, tak terasa mata Dudubida berkaca-kaca.

Dudubida menarik nafas dalam-dalam. Aku harus kuat, aku harus kuat. Diambilnya kardus yang telah ia sediakan untuk menampung barang-barang Bubudiba. Dudubida mulai dari meja di sudut kamar, dimasukkannya jam weker, pigura foto, bola tenis bertanda tangan pemain favorit Bubudiba dan barang lainnya ke dalam kardus. Dudubida tak membiarkan dirinya berpikir terlalu lama, dia tak ingin membangkitkan kenangan-kenangan bersama Bubudiba, dia ingin acara “bersih-bersih” ini lekas selesai.

Setelah sukses membersihkan tempat tidur tanpa air mata, Dudubida melanjutkan ke lemari baju. Dudubida terpaku memandangi kemeja warna-warni yang tergantung di lemari, aroma tubuh Bubudiba masih kuat menempel di baju-baju itu, perpaduan antara wangi rerumputan, daun mentol, dan perkamen tua. Wangi yang sudah sangat Dudubida hafal.

Jemari Dudubida perlahan menyentuh kemeja-kemeja itu. Yang ini hadiah dariku waktu acara wisudanya, kemeja batik ini kami beli waktu jalan-jalan ke Jogjakarta, ah, yang ini kan dibeli dengan gaji pertamanya. Ribuan kenangan meruak, membanjir memenuhi ruangan.

“Aaah, aku tidak boleh gini. Fokus Dudu! Fokus!” Dudubida berteriak pada dirinya sendiri.

Dengan serampangan Dudubida mengeluarkan isi lemari dan memindahkannya ke dalam kardus. Baju-baju itu berjejalan tak karuan di dalam kardus. Dudubida menyeret kursi untuk mengosongkan rak paling atas yang berisi kaus kaki kolek Bubudiba. Kaus kaki-kaus kaki itu pun tertumpuk tak berdaya di dalam kardus.

Ujung mata Dududiba tertumbuk pada secarik amplop yang tergeletak di antara kaus kaki, warnanya sudah kekuningan. Dengan penasaran Dudubida merobek amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Tertanggal lima tahun yang lalu.

Dudu sayang, maaf, maafkan aku. Jika kamu sampai menemukan surat ini, tentu kamu sudah benar-benar marah padaku. Kalau kamu mau bersusah-susah “membereskan” kaus kaki-kaus kaki itu, tentu pertengkaran kita kali bukanlah karena jejak lumpur di keset depan atau botol selai yang lupa ditutup.

Jika boleh memilih, tentu aku tidak ingin kamu menemukan surat ini. Sedih rasanya membayangkan bahwa kita akhirnya sampai pada masa di mana kita tak lagi saling memahami, ketika kita akhirnya tidak tahu apa yang harus kita bicarakan.

Dudubida kekasihku, maukah kamu menambah sedikit kesabaran dalam menghadapiku, maukah kamu memberiku kesempatan lagi? Jangan keburu kamu buang barang-barangku, tunggulah satu-dua hari lagi, tunggulah aku pulang. Percayalah, saat kau membaca surat ini, kita berdua sedang sama-sama kebingungan, jangan keburu mengambil keputusan. Beri aku dan dirimu sedikit waktu untuk berpikir ulang.

Simpanlah dulu kardus-kardus itu! Ya? Ganti baju, dan berjalan-jalanlah ke perpustakaan atau toko buku. Bacalah buku apa saja yang pertama kali kamu lihat, lupakan dulu pertengkaran kita, bersenang-senanglah!

Beri aku sedikit waktu lagi, dan jika ternyata satu dua hari telah lewat sedangkan aku tak pulang juga, barulah kamu boleh mengeluarkan kardus-kardus itu. Tapi berjanjilah, berjanjilah untuk mengantarkannya sendiri ke hatiku! Tolong jangan kirim lewat pos, ataupun kamu titipkan orang lain. Izinkan aku untuk setidaknya berterimakasih secara langsung atas segala perasaan bahagia yang telah kamu berikan.

When I wrote this letter, I love U as much as I can.

I’m sorry if I hurt U.

I’m sorry

-Bubudiba-

Iklan

23 pemikiran pada “Kisah Dudubida dan Bubudiba #5

  1. Wah, masih bersambung nggak nih? Penasaran sama ending-nya (kalau ini bukan ending-nya sih 😛 ).

    Yang ide surat itu perasaan aku juga pernah lihat di acara apa gitu ya?

    mel: belum ending, eh lupa ditulis to be continuednya 😀

  2. Jadi pengen tahu bagaimana perasaan Dudu membaca surat itu…. Apakah Dudu akan melanjutkan beresin barang dengan kardusnya itu?

    mel: lanjut mas, tanggung katanya.. hahaha

  3. Waaa, sudah episode kelima. Tapi terus terang aku lom baca, Melaa, suka gak tahan nunggu lanjutannya, ntar aja ah diborong kalo dah mo tamat :mrgreen:

    mel: hahaha,, silahkan ditunggu

  4. huwaaaaaaaaaa…………. bbrp episode terlewat krn kesibukanku. cie…. lebay ya. seblm baca, absen dulu ah…… skalian ksh tau klo ada PR buatmu Amel cantik…. hehhee… diambil ya…….. tq……

    mel: waah, belum2 dapet peer..

    • yang ini mba :
      Beri aku sedikit waktu lagi, dan jika ternyata satu dua hari telah lewat sedangkan aku tak pulang juga, barulah kamu boleh mengeluarkan kardus-kardus itu. Tapi berjanjilah, berjanjilah untuk mengantarkannya sendiri ke hatiku! Tolong jangan kirim lewat pos, ataupun kamu titipkan orang lain. Izinkan aku untuk setidaknya berterimakasih secara langsung atas segala perasaan bahagia yang telah kamu berikan. 😀

      OOOO bulet

  5. Artinya si bubudiba sudah merencanakan hal ini. Ayo Dudubida, masa mau dipermainkan begini? Ini masalah hati, Dudu!! (lho?)

    seenaknya kamu main tuduh? apa buktinya? *sewot* 😛

    • Lha, buktinya kok bisa ada surat semacam itu? Artinya Bubu memang merencanakan ini. Ayo Dudu… Bukannya semestinya kamu yang sadar sendiri tentang hal semacam itu? Kenapa harus surat yang memberitahumu? *ngajak berantem nih gue kayaknya*

      iya deh iya.. hahahahhaha

  6. eh, ini endingnya bukan Mel?….
    ahhhhh…saya bener-bener terharu….
    serasa saya berada dalam posisi Bubudiba…
    hahahahaha…
    di cerita ke-5 ini saya sudah menyadari siapa cewe siapa cowo…
    ceritanya mirip dengan yang saya alami..
    🙂

    eaa,, malah curcol.. hahaha.. ini ending sementara, kalau ada mud sih dilanjut, kalau tidak yaa, yaa. hahah

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s