Episode Tiga Belas: Lepaskan saja

Rindang memejamkan mata, berusaha menenangkan nafasnya yang memburu sehabis berolahraga. Dibetulkannya letak kuncirnya lalu berhitung satu sampai sepuluh sebelum akhirnya memutuskan keluar dari toilet.

Rindang memungut selebaran yang dia temukan di depan pintu toilet, penasaran membacanya sambil terus berjalan menuju kelasnya. Sampai akhirnya di persimpangan koridor, dia terlambat memilih jalan memutar, terlanjur melewati kelas Denova. Usai membaca selebaran itu, Rindang baru menyadari bahwa kini dia telah di depan kelas Denova, dan kini Denova berjalan ke arahnya

Biasanya Rindang selalu menghindari tempat-tempat di mana Den biasa berada, kalaupun melihat Den di kejauhan, dia selalu memilih jalan lain. Lebih baik dia berputar daripada harus bertemud Denova. Namun sekarang, dia terlambat, Denova sudah ada di depannya sambil membawa sekardus alat peraga.

Mereka berdua mematung, saling menatap dengan canggung. Jangankan berbicara, sejak kejadian tiga minggu lalu mereka baru bertatap muka kali ini.

Setelah beberapa detik yang canggung, Rindang mengumpulkan keberanian, terus berjalan menuju kelasnya, tidak memedulikan kehadiran Denova. Walaupun jantungnya berdegup kencang saat melewati Den, dia pura-pura tak peduli, pura-pura tak mengenal lelaki jangkung yang sedang mengamatinya.

Den hanya bisa menatap sedih pada Rindang. Merasa telah begitu jahat pada gadis itu. Bagaimanapun, Rindang pernah mewarnai masa-masa SMAnya, pernah menjadi bagian dari hari-harinya.

“Rindang!” suara bergetar Den memanggil, membuat langkah Rindang terhenti. Rindang menahan diri agar tidak menoleh.

“Aku tahu aku banyak salah sama kamu. Dan pasti kamu benci sama aku. Tapi tolong nanti, kalau hatimu udah ga perih lagi, kalau kamu udah bisa ngelupain rasa sakitnya, kalau kamu bisa ngelepasin kenangan kita, tolong maafin aku ya Ndang.”

Hening. Rindang meneruskan langkahnya, diiringi air mata yang kembali tumpah di pipi bersemu merahnya. Den hanya bisa mengawasi punggung Rindang yang makin menjauh sebelum akhirnya hilang ditelan kerumunan.

***

Dimi menciprat-cipratkan air sungai yang mengalir jernih di sela-sela jari kakinya. Mengenang masa-masa kecilnya, saat berlibur ke rumah kakeknya. Dirasakannya sejuk hawa pedesaan, desa yang kini menjadi tumpuan mimpi-mimpinya. Penelitiannya telah berjalan hampir dua bulan. Dimi tidak sabar menunggu musim panen, saat padi-padi menguning, dan dia bisa mengevaluasi kerja kerasnya setahun terakhir, menyempurnakan bibit unggul yang sedang dikembangkannya.

“Sepertinya kamu kedatangan tamu, Dim.” Ainin menunjuk ke arah bukit di depannya.

Dimi mendongak. Seseorang sedang melambaikan sebuah layang-layang biru ke arahnya, sayup-sayup terdengar namanya disebut. Walau pandangannya kabur karena tidak memakai kacamata, Dimi yakin orang itu adalah Mas Bagas.

“Lama sekali kamu baru ke sini, sudah dari tadi aku memanggil-manggil,” protes Bagas.

“Siapa suruh datang ke sini tanpa bilang-bilang dulu,” Dimi menjulurkan lidah.

Bagas menjitak Dimi dengan gemas, “Mau maen layang-layang ga?”

Dimi mengangguk. Diraihnya layang-layang dari tangan Bagas, lalu ditariknya menjauh. Dari dulu Dimi tidak bisa menerbangkan layangan, biasanya Bagas lah yang menaikkannya terlebih dulu, jika telah tinggi baru Dimi mengambil alih.

“Siap?” teriak Bagas.

Dimi mengangguk kencang. Diangkatnya layangan di tangannya tinggi-tinggi, menunggu aba-aba. Tak lama kemudian layangan itu pun terbang, Bagas selalu lihai menaikkan layangan.

Dimi berlari kecil mendekati Bagas, tanpa basa-basi langsung merebut gulungan benang dari tangan Bagas. Bagas tertawa.

“Dari dulu ya kamu itu, belum berubah. Tanpa permisi main rebut saja.”

“Biarin.” Dimi tak peduli, pandangannya fokus pada layangannya.

Bagas duduk selonjor di sebelah Dimi, memperhatikan Dimi yang sedang asyik menarik-ulur layangannya.

“Dim, kamu inget ga. Dulu pas layanganmu putus, kamu nangis terus minta aku mengejarnya? Sampe-sampe aku kecebur selokan, gatal-gatal kena ulat pohon manga, terus diteriakin maling sama pak haji Mabrur demi layanganmu.”

Dimi mengangguk, pandangannya masih tak teralih pada layangannya.

Bagaimana mungkin aku lupa Mas. Itulah awal aku menyukaimu.

“Terus waktu aku berhasil dapetin layangannya. Kamu seneng banget, terus meluk aku. Bilang kalau kamu sayaaaaaaaang banget sama aku,” lanjut Bagas.

Pipi Dimi memerah. Waktu itu dia masih sepuluh tahun, masih suka bertindak spontan tanpa pikir panjang.

“Waktu itu kamu masih anak ingusan, anak bawang. Yang digodain dikit aja langsung ngadu sama kakek kamu. Bagiku kamu seperti adikku sendiri Dim.”

Dimi tercekat, dia sudah bisa menduga ke mana arah pembicaraan ini. Tidak dihiraukannya lagi layangannya yang menari di antara awan, dia beralih menatap Bagas.

“Tapi sekarang kamu bukan anak kecil lagi Dim. Aku ga mau hubungan kita Cuma sebatas kakak-adik. Melihatmu kemarin dekat dengan Denova, buat aku sadar kalau aku sayang sama kamu. Bukan seperti kakak pada adiknya, tapi seperti seorang laki-laki pada perempuan pujaannya.”

Dimi terpaku, gulungan benang layangan terlepas dari genggamannya. Dia menatap Bagas dengan perasaan serba salah.

“Andai saja Mas Bagas bilang semua itu empat tahun lalu,” Dimi berkata lirih.

Bagas memandang Dimi tak mengerti, memohon penjelasan.

“Empat tahun lalu, Dimi ngerasain apa yang mas Bagas rasain ke Dimi sekarang. Gimana Dimi ngerasain kangen yang susah dijelasin. Gimana Dimi sering senyum-senyum sendiri kalau ingat mas Bagas. Tapi waktu Dimi mau berangkat ke Amsterdam, waktu Mas Bagas nelpon Dimi kalau ga bisa ketemu Dimi. Dimi udah buang semua perasaan itu jauh-jauh mas.”

“Ga ada yang tersisakah Dim? Sedikit aja?”

Dimi menggeleng lemah.

“Kalau gitu kasih aku kesempatan. Biar aku coba perbaiki semuanya, bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku,” Bagas memohon.

“Aku rasa aku ga bisa mas. Sekarang mas Bagas benar-benar Dimi anggap kakak Dimi sendiri, ga ada perasaan lainnya.”

Bagas tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Mengetahui bahwa dirinya terlambat sadar bahwa Dimi pun sempat menyukainya. Dipandanginya layangan biru yang kini terbang sangat tinggi, terbawa angin.

“Sekarang mas ga perlu ngejar layangan itu lagi buat Dimi. Biar aja layangannya terbang tinggi. Lepas. Bebas.”

17 pemikiran pada “Episode Tiga Belas: Lepaskan saja

  1. air mata Rindang tumpah di pipi nan bersemu merah…..
    waduhhh … saya kok gak tegaan ga bisaan ya ..lihat anak gadis orang namgisss … hiksss

    Mel: hahaha… apalagi kalau gadisnya manis ya mas.. :p

  2. ” ………Biar aja layangannya terbang tinggi. Lepas. Bebas.”

    Waahhhhh ….. endingnya gitu yaaa …. sutradaranya tega yaa … 😀

    Mel: eh, sapa bilang ini endingnya? belum ada kata end kok.. masih ada satu-dua episode lagi kok mas

    • Ooo bulat … gitcu ya 😉 … deg2an juga dah..
      di tangan sang sutradara ibaratnya ada ‘madu dan racun … zat manakah yg akan ‘in action??

      Mel: emmmmm… *mikir*

  3. jyaaaaaaaaaaaaahh, akhirnya masuk kesini juga tuh layang-layang.. dhe menunggu endingnya sajalah Mel.. sabaaarr, daripada menduga2.. :p

    Mel: hahaha.. maklum Dhe,, lagi pingin maen layang2

  4. Alhamdulillah sudah rada baikan ni mata saya… ghiiihihi

    owalah, ternyata ada nama saya dibawa-bawa mba,, hahaha
    Haji Mabrur,, galak gak orangnya tuh, bawa golok nggak kalau lagi marah2… hahah

    Espisode selanjutnya buat kuis yah…
    *Duuuhhhh

    Mel: Bukan golok yang dibawa, tapi parang mas 😛

  5. 22:20
    akhirnya selesai juga pantengin blog es krim ini…hihi.
    jadi pusing sendiri mikirin endingnya…btw, itu ending untuk giveaway..endingnya dibuat kayak postingan gini juga ya? berupa cerita atau langsung ngejelasin gimana endingnya dalam bentuk narasi?

    Mel: hemmm. kayaknya lebih asyik kalau bentuk cerita deh mbak.. jadi seolah-olah mbak penulisnya begitcu 😀

  6. kaget krn ternyata aku blm baca postingan inih hohoho… Nunggu ending versinya Mel dulu, baru bikin yg versiku *hahaha….pdhl mah blm nemu ide* 😛

    Mel: hohoho.. kalo gitu sabar nunggunya ya teh.. 😀

  7. kok kayaknya aku ngerasa jadi tokoh bagas yah? hahahaa…
    *garuk2 kepala
    endingnya gmn yah?? hmm.. sholat jum’at dulu deh.. smg bis itu dpt ide buat endingnya

    Mel: hayoo.. punya pengalaman serupa kayak Bagas ya? ayo semangat! 😀

  8. ah ini mah blm ending cyn, untuk give away endingnya di epsd 15 ya? atau gmn? rsnya ini masih jauh untuk diendingkan (loh kok saya yg ngatur?) eh dirimu perben ya? diriku BPK 😀

    Mel: ya udah, ga papa mbak.. dilanjutin sampe episode 15, dst. hiihi…
    iya mbak put, mel di perben

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s