Episode Sepuluh: Satu hati yang patah

Ndang, kmu plang sndiri dlu y, q mw srvice mtor.

Rindang menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Dibacanya lagi sms dari Denova, tak habis pikir kenapa pacarnya itu tidak memberitahunya waktu  makan siang tadi saja,sehingga dia bisa pulang bareng Rania teman dekatnya

“Kok belum pulang Ndang?”

Rindang menoleh ke lelaki di sebelahnya, Faridh, teman sekelasnya.

“Iya, bentar lagi,” jawab Rindang. Lesung pipit meliuk di pipinya ya chubby.

“Ga bareng Denova?”

Rindang menggeleng lemah, kuncir kudanya bergoyang menggemaskan.

“Bareng aku aja yuk. Aku anterin pulang,” tawar Faridh.

Rindang menimbang-nimbang tawaran Faridh. Ragu. “Err..Ga usah deh Ridh,” tolak Rindang halus.

“Emangnya pacar kamu marah kalau kamu digonceng cowok lain?” selidik Faridh.

“Ga juga sih. Kak Den ga pernah ngelarang. Cuma akunya aja yang ga enak. Makasih ya udah nawarin,” Rindang tersenyum berterima kasih lalu pamit pulang.

—=—

Bagas menyesap kopi susu buatan Dimi.

Satu sendok kopi, satu sendok gula, satu  setengah sendok susu. Dimi masih hafal kebiasaannku.

“Kamu jadi berangkat Sabtu depan?” tanya Bagas setelah meletakkan cangkir kopinya di meja.

“Iya, hari-hari ke depan bakal penuh tantangan. Semoga hal-hal yang kutakutkan ga bakal terjadi. Mas Bagas kapan balik ke Papua?” Dimi balik bertanya.

“Besok. Sayang sekali ga bisa ikut nganter kamu. Maaf ya.”

Renyah tawa Dimi menggema, “Ga papa kali mas. Doain aja penelitian Dimi lancar.”

Hening. Bagas menggigit bibir, tak berani menatap Dimi.

Sekarang Bagas! Sekarang atau tidak sama sekali!

“Dim!”

Dimi menoleh, menatap heran pada Bagas yang sibuk memuntir ujung taplak meja.

“Err.. Kamu. Sebenarnya kamu, nganggep aku apa Dim?”

Ah, Bodoh Bagas! Kenapa tidak langsung bilang saja?

Dimi mengerutkan kening, berusaha mencerna pertanyaan aneh Bagas.

“Maksud Mas Bagas?” tanya Dimi memastikan.

Keringat dingin membasahi tubuh Bagas, dia benar-benar gugup. Ditariknya nafas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian.

“Ya, maksudnya kamu itu nganggep aku sekedar kenalan, sahabat, atau..”

“Mas Bagas ya mas Bagas. Dimi udah anggep kakak Dimi sendiri,” potong Dimi.

Bagas tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Dia patah hati sepatah-patahnya. Bukan itu jawaban yang dia harapkan dari Dimi. Suasana di antara mereka pun menjadi canggung.

“Memangnya mas Bagas anggep Dimi apa?” bola mata Dimi membulat, menanti jawaban.

Bagas gelagapan mendengar pertanyaan Dimi. “Ya sama. Dimi udah seperti adikkku sendiri.” Sekuat hati dia berusaha menyembunyikan perasaan nyerinya dari Dimi.

—=—

Sepulangnya Bagas, percakapan tadi masih terngiang-ngiang di telinga Dimi. Dimi tersenyum simpul, dia tahu bukan jawaban itu yang diinginkan Bagas sebenarnya.

Coba kamu tanya empat tahun lalu mas, tentu jawabanku akan berbeda.

Setelah menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, Dimi langsung mengusir jauh-jauh perasaannya pada Bagas. Dan kini, Bagas memanglah tak lebih dari seorang kakak lelaki baginya. Tidak ada lagi perasaan berbunga-bunga tiap kali ia bertemu dengan lelaki yang telah dikenalnya sejak berusia empat tahun itu.

Hapenya mendengking nyaring, lamunan Dimi buyar karenanya. Diraihnya handphone yang tergeletak di meja dengan malas.

“Dim! Besok keluargaku mau ngadain acara makan-makan. Tasyakurannya Bang Dam. Kamu dateng ya?” ajak Denova bersemangat.

“Tapi kan itu acara keluarga kamu Den,” jawab Dimi ragu.

“Ya kan kamu bosnya Bang Dam sekarang, dan ini kan tasyakuran karena Bang Dam terpilih jadi asisten penelitiannya kamu. Ah, pokoknya kamu harus dateng! Besok sore aku jemput.”

Sambungan telepon terputus sebelum Dimi sempat menolak tawaan Denova.

—=—

Rindang baru saja pulang dari salon langganannya, naik taksi. Den mana mau mengantarnya creambath dan fasial, adanya mereka pasti berantem gara-gara protes Den tentang ga penting dan terlalu lama kegiatan mempercantik diri itu. Padahal kan kalau Rindang yang tambah cantik, Den juga kan yang senang.

Ah, Rindang sudah tidak mempermasalahkan itu, lebih baik dia mengalah daripada harus berantem lagi sama Den. Lagian kalau Den tidak ikut, tidak ada yang cerewet mengomentari betapa jeleknya dia saat pakai masker.

Langkah Rindang terhenti begitu melihat seorang perempuan setengah baya melangkah keluar dari rumahnya. Perempuan itu melambai ke arah Mama Rindang lalu berjalan anggun ke mobilnya.

“Eh, kebetulan ketemu kamu di sini,” perempuan itu mengurungkan niat masuk ke mobil, tersenyum sumringah ke arah Rindang.

“Sore, Tante,” Rindang tersenyum kikuk ke arah Mami Den.

“Besok sore jangan lupa dateng ya Rindang!” ujar Mami Den.

Rindang memandang Mami Den tak mengerti, “Dateng ke mana, Tante?”

“Aah, si Den pasti belum bilang sama kamu. Besok kan ada tasyakurannya Damian, kita sekeluarga mau ngadain acara makan-makan gitu deh. Kamu bisa dateng kan?”

Rindang menggigit bibir, teringat janjinya pada Denova beberapa minggu lalu. “Tapi Te, Kak Den ngelarang saya ke sana tanpa izinnya.”

“Ah, Denova itu memang. Pokoknya besok kamu dateng deh ya, besok biar Den yang jemput. Kalau Tante yang bilang dia pasti mau. Kakak-kakaknya pada bawa pacar masing-masing kok, masak kamu ngga diajakin. Dateng ya?”

Rindang mengiyakan. Mami Den pun masuk ke mobilnya, melambai ramah saat melintas di depan Rindang.

17 pemikiran pada “Episode Sepuluh: Satu hati yang patah

  1. kalo dhe lebih suka besok si Den hanya berdua bareng Dimi, tanpa ada si Rindang.. selingkuh kan enak Mel.. hahahahahahaha😛

    Mel: Aih, ternyata Dhe ya….

  2. ini cerpen yah mel?….
    wah saya melewatkan bagian-bagiannya nih….
    harus nyimak dari awal deh kalo gitu….
    ciaooo…

    Mel: cerbung mas,,,.🙂 iseng2 ga berhadiah.. hehehe

  3. Dimi udah anggep kakak Dimi sendiri …😉 … cintanya bertepuk sebelah tangan,
    benarkah kalimat mendakan ‘pernyataan cinta Bagas ditolak? …hiks
    btw Amela – jelasin ya – kemaren teman saya dapat jawaban persis seperti itu … pliss …😛

    Mel: em, kalau dalam kasus Dimi sih itu emang penolakan halus, artinya Dimi sayang sama Bagas seperti keluarga, bukan sebagai pasangan. ya, artinya Bagas itu spesial, Dimi nyaman dekat sama dia, tapi ga kepikiran buat menjalin hubungan serius..
    tapi kalau dalam kehidupan nyata sih,, bisa banyak kemungkinan mas..

    • Oooo … salah satu kemungkinan itu … masih terbuka harapan 🙂
      or memang benar2 ditolak – gitu yaa…😛

      Mel: harapan itu selalu ada mas…

  4. Amela – kok ‘latar thema blogmu ini ‘cuman warna kuning doank? Bagaimana caranya sehingga layar batik gak muncul? Thema blog kita kembar kan? 😀

    Mel: bisa ganti di appearance-background/ tampilan-latar belakang. di situ bisa aplot gambar ataupun pilih kode warna buat latar belakangnya mas.

  5. Tuh, kan lebih sakit terlambat menyampaikan jatuh cinta dari pada ditolak. Hmm.

    Mel: Iyaa… kalau terlambat bikin nyesel

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s