Episode Sepuluh: Satu hati yang patah

Ndang, kmu plang sndiri dlu y, q mw srvice mtor.

Rindang menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Dibacanya lagi sms dari Denova, tak habis pikir kenapa pacarnya itu tidak memberitahunya waktu  makan siang tadi saja,sehingga dia bisa pulang bareng Rania teman dekatnya

“Kok belum pulang Ndang?”

Rindang menoleh ke lelaki di sebelahnya, Faridh, teman sekelasnya.

“Iya, bentar lagi,” jawab Rindang. Lesung pipit meliuk di pipinya ya chubby.

“Ga bareng Denova?”

Rindang menggeleng lemah, kuncir kudanya bergoyang menggemaskan.

“Bareng aku aja yuk. Aku anterin pulang,” tawar Faridh.

Rindang menimbang-nimbang tawaran Faridh. Ragu. “Err..Ga usah deh Ridh,” tolak Rindang halus.

“Emangnya pacar kamu marah kalau kamu digonceng cowok lain?” selidik Faridh.

“Ga juga sih. Kak Den ga pernah ngelarang. Cuma akunya aja yang ga enak. Makasih ya udah nawarin,” Rindang tersenyum berterima kasih lalu pamit pulang.

—=—

Bagas menyesap kopi susu buatan Dimi.

Satu sendok kopi, satu sendok gula, satu  setengah sendok susu. Dimi masih hafal kebiasaannku. – Baca ini sambil minum kopi?>

Iklan