Episode Tujuh:

Denova mengaduk es tehnya, bosan. Sekolah sudah sepi tapi dia terpaksa menunggu Rindang yang masih ada latihan tari untuk perlombaan tingkat provinsi bulan depan. Dua teman sekelasnya lewat dan melambaikan tangan, Denova membalas sekenanya. Malas. Kalau bukan karena rasa bersalahnya tempo hari pada Rindang, dia sudah pulang dari tadi. Diliriknya jam tangan hadiah dari Maminya, sudah jam empat sore.

“Itu artinya kamu suka sama Dimi, Den.” Ucapan kak Diana kemarin terngiang-ngiang di kepala Denova.

“Ga lah Kak! Den itu cuma penasaran sama dia, soalnya dia misterius. Wajar kan kalau Den ini ketemu Dimi setelah empat tahun ga pernah ketemu?”

“Sampe kamu bela-belain mempermalukan diri sendiri dan dingambekin Bang Dam?”

Denova berusaha mengusir suara rekaman percakapan kemarin dari otaknya. Dia yakin dia tidak ada perasaan apa-apa pada Dimi. Hanya penasaran, ingin tahu. Seperti anak kecil yang penasaran  akan wajah di balik topeng badut, tapi bukan berarti anak itu cinta sama badutnya kan? Ah, Den memang tidak pandai membuat perumpamaan.

Dia yakin, dia hanya menganggap Dimi itu sebagai teman yang misterius. Tidak lebih dan tidak kurang. Toh, sekarang sudah ada Rindang kan?

“Baguslah kalau kamu yakin tidak ada perasaan apa-apa sama Dimi. Tapi kalau di kemudian hari kamu menyadarinya, itu artinya kamu sudah jahat banget sama Rindang. Semakin lama kamu bersama Rindang, semakin patah hati dia nanti ketika kamu tinggalkan.”

Lamunan Denova terputus ketika seseorang menepuk punggungnya.

“Hayo ngelamun apa? Sori ya Kak, udah bikin nunggu lama banget,” Rindang tersenyum pada Denova, senyum yang membuat siswa SMA Bakti Mulya lainnya iri pada Denova.

—=—

“Damian?”

Damian mengangguk ketika ditanya gadis muda di depannya. Gadis itu lebih muda darinya, mungkin sepantaran dengan adik bungsunya, tapi untuk dua tahun ke depan gadis itulah yang akan menjadi “Bos”nya.

“Ah, padahal tadi aku sudah berharap kamu menggeleng dan bilang Damian yang asli masih di ruang tunggu,” Dimi tersenyum menyapa Damian.

“Adik saya tidak ikut hari ini,” jawab Damian kikuk.

“Sayang sekali, padahal sudah lama aku tidak melihat Denova,” gumam Dimi.

Damian bertanya heran, “Anda kenal adik saya?”.

“Beberapa tahun yang lalu. Panggil saja Dimi, ga usah terlalu resmi. Sebenarnya bisa dibilang kamu sudah lulus seleksi, tapi ada beberapa hal yang harus aku tanyakan sendiri.”

Damian mengangguk, tanda siap memulai wawancara kedua.

“Tidak keberatan diperintah-perintah orang yang lebih muda?” tanya Dimi sambil memainkan pulpen di tangannya.

—=—

Damian masuk ke kamar Denova tanpa permisi, tanpa basa-basi langsung melempar sebuah kotak, tepat mengenai kepala Denova. Denova mengaduh.

“Apa-apaan sih Bang?” Denova mengambil kotak itu, hendak melempar balik pada abangnya. Mata Denova membulat begitu melihat isi kotak itu, action figure Erza, salah satu tokoh fairy tail, yang sudah lama diincarnya. Ditatapnya Damian dengan pandangan tak percaya.

Damian duduk di samping adiknya yang masih asik mengamati hadiah pemberiannya, “Heh, ga tahu sopan santun, bilang terimakasih kek!”

“Abang udah ga marah lagi nih? Kok malah tiba-tiba jadi baik kayak gini?” selidik Denova.

Damian tertawa, melempar guling ke adiknya, “Enggak. Itu hadiah, mumpung abangmu lagi seneng.”

“Seneng kenapa?”

“Seneng karena ga perlu liat muka nyebelinmu tiap hari.” Damian terbahak melihat ekspresi bloon di wajah Denova.

“Minggu depan aku ke Jawa, memulai penelitian bersama nona manis jenius itu, Dimitri.”

“Abang lulus?” Denova memastikan dia tidak salah dengar.

“Yap, usahamu mengacaukan wawancaraku kemarin sayangnya gagal, Den.” Damian memasang eskpresi pura-pura khawatir.

Puas menggoda Denova, Damian bangkit meninggalkan Denova yang masih bengong tak percaya. Sampai di pintu, Damian berbalik dan tersenyum jahil, “Oh iya, tadi Dimi titip salam buat kamu.”

Wajah Denova memerah. “Abang habis bertemu dengannya?”

—=—

Dimi tergesa keluar dari kamar mandi, menyambar handphonenya yang dari tadi terus menjeritkan jingle Happy Tree Friends. Ayahnya menelepon.

“Ayaaah, apa kabar?” Dimi setengah berteriak menyapa ayahnya.

“Kamu sendiri apa kabar di sana? Tidak pernah sms, tidak pernah telepon. Ik ben erg ongerust.” Ayah Dimi mulai mengomel di seberang sana.

Ik ben geen kind meer. Ayah tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diri sendiri.”

Terdengar gelak tawa Ayah Dimi dari telepon. “Sampai kapanpun kamu akan tetap jadi putri kecil ayah, Dimitri.”

Dimi mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk, tidak menyadari bahwa ayahnya tidak dapat melihat ekspresi wajahnya sekarang.

“Oh ya Dim. Kemarin Ayah tidak sengaja berpapasan dengan Bagas waktu sedang jalan-jalan di Waterlooplein. Dia menanyakanmu.”

Jantung Dimi berdegup kencang, sudah lama dia tidak mendengar kabar dari Mas Bagas.

“Mas Bagas, Yah?”

“Iya. Bagas yang sering mengajakmu main layangan waktu kecil. Tetangga kakekmu dulu.”

Otak Dimi langsung memutar ulang ingatan tentang masa kecilnya, tentang Mas Bagas, dan tentang kenangan menyakitkan empat tahun lalu.

catatan penulis: akhirnya keluar juga episode tujuhnya.. tokoh2 baru banyak yang bermunculan y? hehehe. Dari anggota keluarga Den, Airin, hingga Bagas.. Siapa lagi tuh Bagas? Rahasia dong. Eh, ada yang berminat ikut kuis kisah ramadhan nih? lumayan lho, yang terpilih tulisannya diterbitin.. siapa tahu anda yang beruntung.. info lebih lengkap klik di sini ya! Kalau mau sekalian add FB saya yuk monggo mari silahkan :D, tapi di message tulis nama penanya biar saya ga pangling (kayak ada yang mau add aja deh mel #kick) Salam semerbak selalu dari Baubau, FYI: Saya ga lupa absen pulang kok. 🙂

Menyapa Jumat Gembira

Giliran saya bangun pagi, ke kantor berangkatnya ga buru-buru alias ga pake acara lari-lari kecil segala, eh sayanya malah lupa absen :suram. Biasanya kan, karena saya datang di detik-detik terakhir dan malas pagi-pagi belum mandi absen dulu ke kantor terus pulang lagi, saya pake acara lari-lari ala cinta ngejar rangga tuh, tapi kalau yang saya kejar mesin absen handprint yang padahal mesinnya ga lari ke mana-mana. Nah, karena tadi saya datangnya lima menit lebih awal, saya jalannya nyante, sempet mampir dulu ngobrol sama salah satu pegawai kantor, dan habis itu saya langsung lenggang kangkung ke meja saya, tanpa absen.

Saya baru inget buat absen setelah diingetin ibu-ibu yang biasanya ngerekap absen. Jadilah saya baru absen pukul 07.54, aah, alamat potong TC ini..
Tapi ya sudahlah, rezeki orang beda-beda, udah diatur sama Yang Di Atas. Mungkin saya dibikin lupa absen karena memang rezeki saya bulan depan ga sebanyak bulan-bulan sebelumnya. Keep positive kan ya?

Semua ada hikmahnya, dari kejadian ini saya bisa mengambil pelajaran kalau saya itu memang ditakdirkan untuk datang 1-2 menit sebelum jam 07.30, jadi kan pasti buru-buru dan langsung menuju mesin absen, ga bakalan lupa.. :hammer

Eh, ngomong-ngomong mengenai Den dan Dimi, saya sempat ingkar janji sama beberapa orang, bilangnya kemarin mau post lanjutannya terus ga jadi. Ternyata kemarin saya lagi banyak kerjaan, jadi ga sempet ngerecokin kehidupan dua tokoh khalayan saya itu. Kan pekerjaan itu harus didahulukan ya saudara-saudari? :kedipgenit

Kalau hari ini agak lowong dan mas ide mau mampir ke saya, insyaAllah lanjutannya bakal di tulis deh (kayak ada yang penasaran baca lanjutannya aja sih mel #plaak). Dikit spoiler, ga selamanya kok saya bikin mereka berdua ga ketemu, kalau gitu ceritanya bisa-bisa nih cerbung ngalah-ngalahin Tersanjung dong..

Dan, kabar baiknya minggu depan saya pulang, Yeeeeeey… Walau Cuma dapat jatah libur seminggu tetep aja pulang. Makan masakan mama, makan junk food berkelas (bukan sekedar mie instan), ngopi film bajakan sebanyak-banyaknya, belanja baju kerja yang unyu-unyu dan tentunya book shoping di Gramedia.. Uyeee!!! *nari hulahula*

Karnita yang sedang dilanda rindu
Karnita yang sedang dilanda rindu

Sayangnya si om genit belum bisa memastikan bisa maen ke rumah pa ga, padahal kan Karnita (netbook ijo imut saya) udah kangen sama Karno (netbook item manis si om) katanya.. Kasihan kan udah lama ga ketemu sama belahan jiwanya itu #lebay.

Hem, saatnya bekerja yang rajin, biar nanti siang sudah beres kerjaannya dan bisa ngerecokin Den dan Dimi plus blogwalking ke rumah para sahabat..
Jumat Gembira! Yeeey!!

Rindu Merah Putih

Hari ini stop dulu bahas masalah Denova dan Dimi, biarkan mereka menjalani hidupnya masing-masing tanpa perlu saya ribetin dengan ide-ide gila saya yang mengacak-ngacak hidup mereka.

Well, sebenarnya saya sedang males posting hari ini, ga ikut-ikutan bahas hari kemerdekaan di blog saya. Gagal. Ternyata blogwalkin ke  sana- ke mari, baca postingan yang ga jauh-jauh dari rasa nasionalisme, saya tergoda. Puncaknya setelah membaca postingannya Asop di sini, melihat bendera itu menari-nari berwarna-warni, tiba-tiba saya menyadari ada yang hilang. Sampai sekarang saya ga melihat kibaran bendera di jalan-jalan, hiasan merah-putih di pemukiman penduduk, apalagi di rumah perseorangan.

Yah, mungkin ada satu-dua, tidak mencolok. Sungguh berbeda dengan di dua kota yang sempat jadi rumah saya -Jember- Jakarta-. Sejak tanggal masih bertengger di angka satu, jalanan pasti sudah mula ramai dengan penjual bendera. Gedung perkantoran pasti sibuk menghias diri dengan ornamen merah putih, di permukiman penduduk menggantung hiasan merah-putih. Semarak.

Entah saya yang terlalu kuper, hidup hanya berkisar antara kantor-rumah dinas, atau memang beginilah kebiasaan di sini. Tidak ada perayaan.

Memang sih, rasa nasionalisme tidak bisa diwakili hiasan-hiasan merah putih itu. Saya sendiri merasa cukup saya yang tahu seberapa tinggi rasa nasionalisme saya, tidak perlu diumbar. Saya hanya merasa ada sesuatu yang kurang saja di 17 Agustus kali ini. Kehilangan corak merah-putih itu. Dan ternyata saya merindunya.

Karena saya tidak punya bendera dan ornamen merah-putih lainnya. Untuk melepas rindu, mari memasak puding merah putih *bergegas ke dapur*

Semoga saya tidak kelupaan pamer di sini kalau sudah masak nanti, seperti nasib gorengan yang tidak jadi dibahas di blog gara-gara saya sudah tidak mood lagi membahasnya 😀

Episode Enam: Rencana yang Gagal

Damian memandangi adiknya menyelidik, tak habis pikir kenapa tiba-tiba adik bungsunya itu berbaik hati ingin menemaninya wawancara, memberi dukungan katanya. Damian sudah mati-matian menolak, terakhir kali adiknya itu memberi dukungan padanya, dia menjadi bahan olok-olok sepanjang masa sekolah dasarnya. Waktu itu Damian sedang mengikuti lomba sepak bola antar-SD, waktu berteriak memberi semangat, Den menyebut-nyebut nama kakak kelas yang ditaksir Damian sejak kelas tiga. Membuat Damian kehilangan muka setiap kali berpapasan dengan gadis pujaannya.

“Den kan ingin memberi semangat pada Bang Damian, Mi. Den juga penasaran bagaimana suasana wawancara itu. Kan kalau Den mau dapat beasiswa ke luar negeri nanti, pasti ada tahap wawancaranya, setidaknya kan nanti Den bisa belajar dari wawancaranya Bang Dam besok, Mi.” Kelit Den saat Damian mengadukan adiknya itu ke Maminya.

Sejak kapan Den mau sekolah ke luar negeri? Ditinggal Mami ke luar kota saja dia malas makan.

Mami yang tentu saja paling sayang pada si bungsu hanya bisa manggut-manggut mendengar alasan Denova, “Sudahlah Dam, ajak saja adikmu. Itung-itung jadi teman ngobrol sambil kamu nunggu panggilan. Ga ada larangan bawa suporter kan?”

Damian tentu saja tidak dapat berkutik. Kalau Mami sudah bilang begitu, mana berani dia melawan, bisa kena omel seharian. Damian menarik nafas panjang, diliriknya Denova yang sedang asyik main PSP, “Pulang nanti kamu yang nyetir!” Yang disuruh tentu saja meng-iyakan dengan semangat, tumben-tumbenan abangnya itu membolehkan Denova menyetir mobilnya.

—=—

Damian mendengus kesal, boro-boro jadi teman ngobrol, adiknya itu malah asyik main PSP. Masih ada empat orang lagi sebelum giliran Damian, dia dapat nomor antrian terakhir gara-gara terlambat tadi. Biang keroknya tentu saja Denova. Entah kenapa, menemani Damian wawancara saja Denova berdandan lama.

Daripada moodnya kacau memikirkan tingkah aneh Denova dua hari terakhir, Damian memutuskan untuk mempelajari lagi makalahnya, mempersiapkan diri untuk wawancara pentingnya ini.

“Damian Ardianingrat!” resepsionis memanggil nama Damian. Yang dipanggil, saking sibuknya belajar, tidak mendengar. Denova bangkit dari duduknya, mengacungkan tangan. Sebelum Damian menyadari apa yang terjadi, adik bungsunya telah masuk ke dalam ruang wawancara.

—=—

Denova telah merencanakan semua ini dari kemarin, dia sudah menebak abangnya itu pasti akan sibuk belajar sebelum wawancara dan kemungkinan besar tidak akan mendengar saat dipanggil. Tebakannya tidak meleset, saat nama Damian dipanggil, Denova lebih dulu berdiri sebelum abangnya itu menyadari. Dia akan memberi kejutan untuk Dimi.

Resepsionis mempersilahkan Denova masuk ke ruangan, meninggalkan Damian yang masih bengong, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Di ruangan sudah menunggu dua orang pria setengah baya dan satu orang wanita berusia awal 30 tahunan. Denova memandang berkeliling, mencari-cari sosok Dimi. Nihil.

“Damian?” wanita berkacamata yang duduk di tengah bertanya.

Denova menggeleng kikuk, salah tingkah. Perempuan tadi mengerutkan kening tak mengerti.

“Saya Denova, adiknya. Abang saya masih di ruang tunggu.” Denova menggaruk kepalanya dengan gugup.

Ketiga pewawancara itu saling berpandangan, tak mengerti.

“Sebentar saya panggilkan dulu abang saya,” Denova beringsut keluar, wajahnya merah padam karena malu.

—=—

Damian terus mengomeli Denova sepanjang perjalanan pulang, dia marah besar. Sudah dia sangka adiknya ini tidak tulus ingin mendukungnya. Denova malah menghancurkan wawancaranya hari ini, padahal dia telah mempersiapkan semuanya matang-matang.

Denova sendiri hanya diam tak mempedulikan celotehan Damian, berusaha fokus ke jalanan di depannya. Ah, dia sadar dia yang salah. Kali ini Mami pasti tidak akan membela Denova.

—=—

Makanannya enak?” tanya Ainin pada Dimi. Dimi mengangguk, bukan sekedar untuk menghargai tuan rumahnya, tapi masakan Ainin memang benar-benar enak. Ainin adalah pakar edafologi -ilmu yang mempelejari kesuburan tanah- di Indonesia, salah satu yang terbaik dan termuda. Dia akan menjadi partner penelitian Dimi selama dua tahun ke depan.

“Tadi ada kejadian lucu pas wawancara,” kata Ainin, memecah kesunyian di meja makan

Dimi mendongak, mengalihkan perhatian dari daging rendang yang berusaha dipotongnya.

“Tadi ada cowok yang masuk ke ruang wawancara…” Ainin terhenti, menahan tawa.

“Wajar kan? Pasti dari salah satu pendaftar ada yang berjenis kelamin laki-laki.” Dimi heran, bagian mananya yang lucu.

“Awalnya kami kira begitu, kami kira dia salah satu peserta yang diwawancara. Tapi pas kami tanya, dia malah jawab -Bukan, saya adiknya, abang saya masih di luar. Bentar saya panggilkan dulu.- Coba kamu di sana, ekspresi mukanya itu lho, lucu sekali, kelihatan bloon banget.” Ainin kembali tertawa, teringat kejadian tadi siang.

Dimi tersenyum tipis, “Siapa namanya?”

“Nama siapa nih? Kakaknya kalau tidak salah sih bernama Demian, kalau adiknya aku lupa.” Ainin berusaha mengingat-ingat. “Deni? Dino? Danova? Entahlah, pokoknya terdengar seperti itulah.”

Senyum terkembang di bibir Dimi sekilas. Mereka melanjutkan makan, tidak membahas lagi kejadian tadi siang.

—=—

Diana, saudari kembar Damian, mengetuk pintu kamar Denova. Tidak ada jawaban. Diketuknya sekali lagi. Masih tidak ada jawaban. Diraihnya gagang pintu. Tidak terkunci.

“Den, boleh aku masuk?” Diana melongokkan kepala dari balik pintu. Denova diam, Diana memutuskan masuk.

“Sudahlah, kamu tahu Dam kan? Bentar lagi marahnya pasti reda,” Diana duduk di sebelah Den, berusaha menghibur adik bungsunya. Diserahkannya coklat batangan yang sengaja dibelinya di supermarket tadi pada Denova.

“Bukan masalah kak Dam…” Denova mulai bersuara, tangannya sibuk merobek kertas bungkus coklat kesukaannya.

“Lalu?”

Denova menatap kakak perempuannya, menimbang-nimbang. Di antara mereka sekeluarga, Diana lah yang paling perhatian dan penyabar, bertolak belakang dengan kembarannya. Tidak ada yang bisa menyimpan rahasia darinya.

Episode Lima: How to meet her?

Sehabis mengandangkan motor kesayangannya di garasi, Denova bergegas menuju kamarnya. Dengan tergesa, Denova menyalakan komputernya, sibuk mengetukkan jarinya ke meja sembari menunggu proses booting selesai. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka emailnya. Matanya berbinar waktu menemukan email yang ditunggu-tunggunya.

Dengan ini kami beritahukan bahwa nilai tes tertulis anda tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Semoga beruntung di lain kesempatan.

Dimitri Evarelia

Binar di mata Denova langsung meredup, tidak ada alamat yang tercantum di email itu. Kemarin Denova sengaja mendaftar menjadi asisten Dimi dan mengisi tes tertulis secara online. Tapi tentu saja Denova menjawab soal-soalnya secara serampangan, mana tahu dia tentang Fitoremediasi dan Sodium Adsorption Ratio, yang dia tahu dia hanya ingin bertemu dengan Dimi. Di website tersebut tidak tercantum alamat Dimi ataupun tempat penelitiannya, jadi satu-satunya cara menemui gadis itu adalah mengikuti wawancara seleksi asisten penelitian Dimi. Tapi kini Denova telah gagal.

Ah ya, kenapa aku tidak kirim email saja? Semoga saja Dimi masih mengingatku.

Denova segera sibuk membalas email Dimi. Hapus-ketik-hapus-ketik lagi, Denova sibuk menyusun kata. Setelah membaca ulang emailnya untuk yang kelima kalinya, Dia akhirnya mengirimkan email tersebut. Send!

Tidak sampai semenit kemudian, komputer Denova bersuara, memunculkan notifikasi email baru.

Maaf, anda tidak diizinkan  mengirim email balasan ke alamat ini.

Denova menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

—=—

Denova sibuk memikirkan rencana agar dapat menemui Dimi. Tidak diperhatikannya Bu Karin yang sibuk menjelaskan tentang zat radioaktif.

Entah kenapa Denova ingin sekali menemui gadis itu, dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran akan Dimi. Empat tahun lalu saat baru mengenal Dimi, Denova sangat ingin tahu tentang gadis itu, sangat ingin lebih mengenalnya. Sayangnya pertemanan mereka tidak berlangsung lama, Dimi pindah ke luar negeri. Dan kini begitu Dimi kembali, rasa penasaran Denova kembali muncul. Baginya, Dimi adalah sebuat teka-teki yang sangat ingin dia pecahkan. Gadis itu begitu misterius dan tidak bisa ditebak.

Lamunan Denova terputus ketika mendengar suara deheman di sebelahnya. Bu Karin melotot pada Denova, “Denova, silahkan kerjakan soal di depan!”

—=—

Lagi-lagi Rindang mencegat Denova di tempat parkir, kali ini tidak dengan ekspresi marah dan tidak terima seperti minggu lalu.

Denova menaikkan sebelah alisnya, menunggu Rindang menjelaskan apa maunya.

“Kak Den masih marah?” Rindang bertanya salah tingkah. Denova menggeleng.

“Terus sekarang mau Kakak gimana?” Rindang memainkan ujung sweaternya, tidak berani memandang Denova.

“Mau apanya?” Denova malah balik bertanya.

“Ya maunya kita gimana sekarang?”

“Ya terserah kamu. Kamu maunya gimana?”

“Aku maunya sih kita baikan aja. Ga usah bahas masalah kemarin lagi.” Rindang menggigit bibir, gugup.

“Ya udah kalau gitu. Baikan. Tapi bukan berarti kamu bisa main ke rumahku seenaknya lagi lho ya,” tegas Denova. Rindang mengangguk malu.

“Ya udah. Sekarang naik! Aku antar kamu pulang.”

—=—

Dimi tersenyum simpul menatap layar laptopnya. Pikirannya melayang ke kejadian empat tahun lalu di halte bus dekat rumahnya.

Den. Ah, rupanya dia masih selalu ingin tahu seperti dulu.

Dimi menutup laptopnya, masih banyak yang harus dia persiapkan untuk acara besok.

—=—

“Den, aku pinjam printermu!” Damian, salah satu dari kakak kembar Denova, menyeruak masuk ke kamar Denova.

Denova yang sedang bergulingan baca komik menatap sebal ke arah abang ketiganya itu. “Kan di kamar Abang ada?”

“Tiba-tiba ngadat. Numpang dulu lah ya Den?” Damian menatap Denova memelas.

Den mengangguk. “Selembar 500 perak tapi,” ujar Denova sambil lalu.

“Matre banget sih lu jadi orang? Sama abang sendiri juga.” Damian melemparkan bantal ke adik bungsunya sebelum akhirnya berkutat di depan komputer.

Denova yang baru saja menyelesaikan komiknya penasaran dengan apa yang sedang dicetak Damian. Dia bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri kakaknya yang sedang sibuk mengetik. Denova meraih selembar kertas yang telah tercetak. Makalah. Den langsung kehilangan minatnya.

“Heh, seenaknya pegang-pegang. Makalah penting itu,” Damian langsung merebut kertas di tangan Denova.

“Halah, palingan juga tugas kuliah. Udah numpang ngeprint, belagu lagi,” cibir Denova.

“Heh, kalau abang kamu ini diterima di proyek ini, masa depan abang kamu ini bakalan cerah, kamu juga bakal kecipratan. Ini proyek kelas internasional,” pamer Damian, tidak terima diejek Denova.

Denova tiba-tiba menyadari sesuatu, segera diperiksanya kertas-kertas yang berserakan di meja, mencari sebuah nama.

to Miss Dimitri Evarelia.

Den menatap abangnya tak percaya, tak habis pikir kenapa dia bisa lupa kalau abangnya itu mahasiswa jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Senyum cerah menghias wajah Denova.

“Kapan wawancaranya Bang?” Den bertanya penasaran.

“Besok.”

“Di mana?”

Damian menatap adiknya heran. Kenapa anak ini tiba-tiba antusias?

Catatan penulis: Entah kenapa episode kali ini agak berantakan, lagi ga bisa fokus saya hari ini. Mungkin karena itu kalimat-kalimatnya kurang singkron. Terharu saat tahu ada beberapa orang yang ngikutin serial geje ini *ambil sapu tangan*. InsyaAllah bakal terus dilanjutin deh. Oh iya, kalau sebelumnya saya belum tahu apa-apa tentang lanjutannya, sekarang saya udah bisa mengira-ngira untuk dua episode ke depan, hehehe. Hari ini ga ada iseng2 ga berhadiah dulu deh.. -,-a