Episode sembilan: Love?

Denova menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Rindang, menjemput berangkat sekolah seperti biasanya. Tapi tidak tampak tanda-tanda kehadiran Rindang, padahal biasanya jam setengah tujuh gadis itu sudah berdiri di depan gerbang dengan bibir manyun menunggu Denova. Denova melirik jam tangannya: 6.45. Denova menelpon Rindang, sudah siap mengomel karena gadis itu belum stand by di depan gerbang. Direject.

Dilajukannya motor menjauhi rumah Rindang. Berangkat sekolah tanpa Rindang di boncengannya.

—=—

“Kamu ngambek kenapa sih Ndang?” Denova bertanya pada Rindang saat berpapasan di koridor sekolah.

“Kakak pikir kenapa?” Rindang malah balik bertanya dengan nada ketus, menatap Denova marah.

“Ditanya malah balik tanya. Ya kalau aku salah, bilang! Jangan diem aja!” suara Denova meninggi, sebal pada tingkah Rindang.

“Ya Kakak tanya sama diri kakak sendiri!” Rindang melengos berbelok ke arah toilet perempuan. Denova menarik tangan Rindang, menahannya pergi.

“Kalau aku tanya sama diri aku sendiri, ya aku ngerasa ga salah apa-apa,” suara Denova kembali melunak, membujuk Rindang agar mau bicara.

Rindang menatap Denova dengan mata berkaca-kaca, tak sanggup menahan luapan rasa cemburunya. “Ya Kakak kenapa tega banget selingkuh? Jalan sama cewek lain. Emangnya Rindang kurang apa Kak? Selama ini Rindang kan udah banyak ngalah sama Kakak. Kak Den jahat banget sama Rindang,” jawab Rindang lirih.

Denova menatap Rindang lamat-lamat, mencoba mencerna perkataannya. “Maksud kamu Dimi?” Denova malah tertawa. Rindang menatapnya jengkel.

“Dimi itu teman lamaku Ndang. Ga ada apa-apa, cuma teman. Karena dah lama ga ketemu, kemarin kita janjian makan bareng. Kan aku udah pamit kemarin?”

“Tapi Kakak ga bilang kalau teman Kakak itu cewek. Terus ngapain pake acara boncengan segala?” cecar Rindang.

“Ya kan nganterin dia pulang, Ndang. Aku juga ga pernah ngelarang kamu bonceng cowok lain kan? Aku percaya sama kamu, harusnya kamu ya percaya sama aku.”

Rindang terdiam, kehabisan alasan untuk marah.

—=—

“Maaf ya Dimi. Mas Bagas sama sekali ga bisa ke sana. Jadwal pelatihannya beneran padat, ga bisa keluar asrama seenaknya.” Bagas berusaha membujuk Dimi lewat telepon.

“Besok pagi aku berangkat ke Amsterdam mas. Ga tau kapan bisa ketemu lagi.” ujar Dimi lirih, menahan tangis. Ditatapnya lukisan cendrawasih di tangannya. Sia-sia dia kurang tidur untuk menyelesaikannya.

“Maaf sekali ya Dimi. Mas juga ingin sekali mengantar Dimi ke bandara, tapi sayangnya beneran ga sempat. Moga aja kita masih ada kesempatan ketemu lagi. Hati-hati ya nanti, barangnya jangan sampe ada yang..”

Dimi menutup telepon. Kecewa. Kini Dimi benar-benar sadar, Bagas jelas tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya. Diliriknya jam dinding, 14.oo.

Den pasti sudah menungguku di halte.

—=—

Bagas menatap foto di dompetnya, fotonya bersama Dimi enam tahun lalu, sedang menerbangkan layangan di bukit “berawan”. Waktu itu Dimi masih berusia 12 tahun, sedangkan dirinya sendiri  20 tahun. Dimi masih terlihat seperti anak kecil, Bagas hanya menganggapnya sebagai adik yang menyenangkan. Tapi kini gadis itu sudah banyak berubah. Jelas-jelas Dimi bukan anak kecil lagi.

Bagas menghembuskan nafas, meraih handphonenya dan memencet nomor gadis yang sedang dipikirkannya.

“Ya, ada apa Mas?” suara yang sangat familiar menyapanya dari seberang telpon.

“Err.. Nanti malam sibuk ga? Jalan yuk!” ajak Bagas,  menggigit bibirnya gugup.

“Wah, aku lagi prepare buat pindahan minggu depan Mas. Banyak yang harus dipersiapin. Ini juga masih nunggu sebagian paket dari Wageningen.”

“Emmm, Kalau gitu biar aku yang main ke tempatmu. Kamu mau titip makan apa?”

“Ga usah mas,. Ngerepotin,” tolak Dimi halus.

“Ga repot kok, jam lima aku ke sana ya.”