Episode Delapan: Pertemuan

Denova menatap pintu di depannya tak sabaran. Seolah-olah takut pintu itu tak akan pernah terbuka dan Dimi tak akan pernah menemuinya. Kemarin Dimi menitipkan pesan pada Damian agar Denova menemuinya di kantor perwakilan ISPB Jakarta. Setelah Dimi menyelesaikan urusannya di sana, mereka akan makan siang bersama.

Pintu terbuka, orang-orang berkeluaran dari pintu jati berukir khas jepara itu. Denova berdiri, mengamati masing-masing orang yang lewat di depannya. Seorang gadis berkacamata tersenyum pada Denova, memamerkan gigi kelincinya. Gadis itu berlari kecil ke arah Denova, rambut kuncir kudanya bergoyang tiap dia melangkah.

“Apa kabar Den?” sapa Dimi.

“Ba..baik. Kamu bagaimana Dim?” jawab Denova gugup.

“Aku mendengar kejadian waktu wawancara, kenapa sampai senekat itu?” Dimi balik bertanya, mengabaikan pertanyaan Denova sebelumnya.

Denova menggaruk kepalanya, salah tingkah. “Kita makan sekarang saja yuk, aku lapar.” tawar Denova, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Dimi mengangguk. Mereka berdua berjalan bersisian menuju pintu keluar. Diam. Berbagai cerita dan pertanyaan yang ingin disampaikan Denova pada Dimi, entah kenapa menguap begitu saja.

Tiba-tiba langkah Dimi terhenti. Denova menoleh ke belakang, memandang Dimi tak mengerti.

“Kenapa, Dim?”

Seorang lelaki berkulit kecoklatan berlari menuju Dimi. “Ayahmu bilang kamu lagi final presentation di sini. Untung saja kamu belum pulang.”

Dimi tak berani membalas tatapan lelaki bermata elang di depannya, menarik nafas dalam-dalam berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak berkhayal.

“Mas Bagas ngapain di sini?”

—=—

“Lusa Dimi pindah ke Amsterdam, Mas. Ikut ayah.” Dimi menjelaskan.

“Iya, kemarin Pak Lik sudah cerita. Barang-barangmu sudah kamu siapkan kan?” lelaki di ujung telepon sana setengah berteriak, berusaha mengatasi keributan di sekelilingnya.

“Sudah. Mas Bagas ga bisa mampir ke sini? Mumpung lagi di Jakarta mas.” Dimi memainkan  kabel telepon, berharap Bagas mau memenuhi permintaannya.

“Ingin sekali Dim. Tentu mas pingin ketemu kamu sebelum kamu berangkat. Tapi jadwal pelatihannya padat sekali Dim. Mas tidak yakin bisa mencuri waktu.

Dimi menghembuskan nafas kecewa. “Tidak usah mampir rumah Mas. Lewat saja di jalan depan, nanti Dimi tunggu di halte seberang. Bagaimana?” Dimi berusaha menawar, diliriknya lukisan yang dua minggu terakhir menyita waktunya.

“Iya, nanti mas usahakan Dim. Tapi kalau ternyata tidak bisa, Dimi jangan marah ya?”

—=—

Makan siang hari ini tidak berjalan sesuai rencana Denova. Tiba-tiba saja lelaki bernama Bagas itu datang mengganggu, mengacaukan semuanya. Untungnya Dimi lebih memilih diantarkan Denova pulang. Denova tersenyum penuh kemenangan. Entah kenapa dia tidak menyukai Bagas. Lelaki itu sudah mencuri perhatian Dimi sepanjang makan siang.

“Makasih, Den,” ucap Dimi setelah turun dari boncengan, diserahkannya helm yang dipakainya pada Denova.

“Kapan kita bisa ketemu lagi, Dim?” tanya Denova.

Dimi terdiam sejenak, “Entahlah, minggu depan aku harus berangkat ke Jawa Tengah. Banyak yang harus dipersiapkan. Aku bukan gadis kesepian kayak dulu, Den.”

“Benarkkah? Menurutku kamu tetap aja kesepian Dim, cuma sekarang kamu punya banyak kesibukan buat mengalihkan perhatian. Kalau butuh teman main, sms atau telepon aku aja ya. Aku pulang dulu.”

Dimi menatap punggung Denova yang makin lama makin terlihat kecil sampai akhirnya berbaur dengan kendaraan lainnya dan menghilang.

Den benar. Aku masih saja kesepian.

—=—

Rindang berlari ke kamarnya, membenamkan kepala ke bantal hello kittynya lalu menangis keras-keras. Dia tidak menyangka Denova tega berselingkuh. Dilihatnya sendiri tadi Denova berboncengan dengan seorang cewek yang tidak dia kenal. Padahal tadi pagi Denova hanya berpamitan bertemu teman lama.

Aku sudah banyak ngalah, tapi kenapa Kak Den tetap aja tega.

Terdengar ketukan dari luar. Rindang tak peduli. Sayup-sayup terdengar suara Mamanya yang khawatir karena Rindang tiba-tiba pulang dengan berurai air mata.

“Rindang baik-baik aja kok Ma!” Rindang berbohong.

Mamanya bergumam tidak jelas dari balik pintu lalu kembali memasak di dapur. Rindang melempar foto Denova yang terpajang di sebelah tempat tidurnya. Framenya pecah berantakan.

Aku benci Kak Den. Benci sekali.

—=—

Denova melempar handphonenya ke tempat tidur. Rindang tak mengangkat teleponnya, tak juga membalas smsnya dari tadi.

Kenapa lagi sih tuh anak? Ngambek kok dijadiin hobi. Denova menggerutu.

Setelah berganti baju, Denova naik ke tempat tidur, bergulingan. Di bibirnya tersungging senyum saat mengenang percakapannya dengan Dimi tadi siang.

Aah, coba tadi si Bagas itu tidak datang, pasti lebih mengasyikkan.

Denova menatap lukisan cendrawasih pemberian Dimi yang kini terpigura rapi dan cantik menghias dinding kamarnya. Tiba-tiba Denova bangkit dari tidurnya. Teringat sesuatu.

“Bulan lalu kami berhasil menangkarkan Paradisaea Raggiana salah satu jenis yang mulai langka, Dim. Cantik sekali. Sesekali kamu harus mengunjungiku ke Papua.”

Bagas, seorang ornitolog, dia bekerja di penangkaran burung cendrawasih.

Dimi tersenyum pada Den, menyerahkan sebuah bungkusan padanya. Lukisan cendrawasih kapan hari.
“Katanya bukan buat aku?” tanya Den saat melihat isi bungkusan itu.
“Buat kamu saja, orang yang mau kukasih itu ga pernah datang.”

Lukisan itu harusnya buat Bagas. Bukan buat aku.

Entah kenapa hati Den terasa nyeri saat menyadari hubungan Dimi dan Bagas lebih dekat dari yang dia kira

Iklan

18 pemikiran pada “Episode Delapan: Pertemuan

  1. oooohh, ternyata Bagar pacarnya Dimi toh….

    Trs Den gimana kelanjutannya? masihkah mengejar Dimi?? 😀

    Mel: Dibilang pacar juga bukan sih,, hehehe.. tapi lihat saja nanti

  2. hiks …. seperti sebuah kado yang teronggok berdebu di pojok lemari
    yang tak pernah diterima yang namanya tercantum di kotak berwarna biru itu
    hiks .hiks … tapi kotak yg ini tidak rela jika diberikan pada orang lain …. *lebay*

    more more mor e……. 😀

    Mel: nah lho, kadonya buat saya aja sini mbak.. heheh

  3. Walah2 >.<
    Jadi gimana tuh yak dengan keadaan rindang dan bagas nantinya? Jadi penasaran ih, hehe 😀

    Mel: hehehe,, saya belum tahu juga nasib mereka, tergantung mood saya pas nulis nanti lagi mihak siapa

  4. waaah makin banyak pemain tambahan disini.. hahahaha.. dhe sampe mengerutkan dahi baca episode delapan Mel.. tapi asyik, penuh kejutan di tiap episodenya.. lanjuuuuuutttt..

    Mel: hehehe,, soalnya bakal sepi kalau cuma dua.. tapi kayaknya nih pemain udah keluar semua…
    ga usah sampe berkerut Dhe, nanti keriput

  5. Mau baca-baca dari episode sebelumnya dulu non.
    Met puasa.

    Mel: silahkan, met puasa juga ya mas…

  6. Saya harus baca episode sebelumnya dulu ya..
    Tapi cerita ini mengingatkan saya akan masa-masa remaja, hahaiii… 🙂

    Mel: monggo mbak, silahkan.. ya maklum yang nulis masih remaja jadi ceritanya teenlit abis #lupaumur

  7. wah..udah episode delapan aja
    belum baca nih episode sebelumnya

    *hehe, sorry jarang BW*

    Mel: silahkan dibaca episode sebelumnya

  8. Duh.. harus siap2 mw kuliah dulu nih, heu… tar aku lanjut lg ya Mel,hheehee..

    Mel: kuliah yang rajiin ya.. biar bisa ke Wageningen 😀

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s