Episode Tujuh:

Denova mengaduk es tehnya, bosan. Sekolah sudah sepi tapi dia terpaksa menunggu Rindang yang masih ada latihan tari untuk perlombaan tingkat provinsi bulan depan. Dua teman sekelasnya lewat dan melambaikan tangan, Denova membalas sekenanya. Malas. Kalau bukan karena rasa bersalahnya tempo hari pada Rindang, dia sudah pulang dari tadi. Diliriknya jam tangan hadiah dari Maminya, sudah jam empat sore.

“Itu artinya kamu suka sama Dimi, Den.” Ucapan kak Diana kemarin terngiang-ngiang di kepala Denova.

“Ga lah Kak! Den itu cuma penasaran sama dia, soalnya dia misterius. Wajar kan kalau Den ini ketemu Dimi setelah empat tahun ga pernah ketemu?”

“Sampe kamu bela-belain mempermalukan diri sendiri dan dingambekin Bang Dam?”

Denova berusaha mengusir suara rekaman percakapan kemarin dari otaknya. Dia yakin dia tidak ada perasaan apa-apa pada Dimi. Hanya penasaran, ingin tahu. Seperti anak kecil yang penasaran  akan wajah di balik topeng badut, tapi bukan berarti anak itu cinta sama badutnya kan? Ah, Den memang tidak pandai membuat perumpamaan.

Dia yakin, dia hanya menganggap Dimi itu sebagai teman yang misterius. Tidak lebih dan tidak kurang. Toh, sekarang sudah ada Rindang kan?

“Baguslah kalau kamu yakin tidak ada perasaan apa-apa sama Dimi. Tapi kalau di kemudian hari kamu menyadarinya, itu artinya kamu sudah jahat banget sama Rindang. Semakin lama kamu bersama Rindang, semakin patah hati dia nanti ketika kamu tinggalkan.”

Lamunan Denova terputus ketika seseorang menepuk punggungnya.

“Hayo ngelamun apa? Sori ya Kak, udah bikin nunggu lama banget,” Rindang tersenyum pada Denova, senyum yang membuat siswa SMA Bakti Mulya lainnya iri pada Denova.

—=—

“Damian?”

Damian mengangguk ketika ditanya gadis muda di depannya. Gadis itu lebih muda darinya, mungkin sepantaran dengan adik bungsunya, tapi untuk dua tahun ke depan gadis itulah yang akan menjadi “Bos”nya.

“Ah, padahal tadi aku sudah berharap kamu menggeleng dan bilang Damian yang asli masih di ruang tunggu,” Dimi tersenyum menyapa Damian.

“Adik saya tidak ikut hari ini,” jawab Damian kikuk.

“Sayang sekali, padahal sudah lama aku tidak melihat Denova,” gumam Dimi.

Damian bertanya heran, “Anda kenal adik saya?”.

“Beberapa tahun yang lalu. Panggil saja Dimi, ga usah terlalu resmi. Sebenarnya bisa dibilang kamu sudah lulus seleksi, tapi ada beberapa hal yang harus aku tanyakan sendiri.”

Damian mengangguk, tanda siap memulai wawancara kedua.

“Tidak keberatan diperintah-perintah orang yang lebih muda?” tanya Dimi sambil memainkan pulpen di tangannya.

—=—

Damian masuk ke kamar Denova tanpa permisi, tanpa basa-basi langsung melempar sebuah kotak, tepat mengenai kepala Denova. Denova mengaduh.

“Apa-apaan sih Bang?” Denova mengambil kotak itu, hendak melempar balik pada abangnya. Mata Denova membulat begitu melihat isi kotak itu, action figure Erza, salah satu tokoh fairy tail, yang sudah lama diincarnya. Ditatapnya Damian dengan pandangan tak percaya.

Damian duduk di samping adiknya yang masih asik mengamati hadiah pemberiannya, “Heh, ga tahu sopan santun, bilang terimakasih kek!”

“Abang udah ga marah lagi nih? Kok malah tiba-tiba jadi baik kayak gini?” selidik Denova.

Damian tertawa, melempar guling ke adiknya, “Enggak. Itu hadiah, mumpung abangmu lagi seneng.”

“Seneng kenapa?”

“Seneng karena ga perlu liat muka nyebelinmu tiap hari.” Damian terbahak melihat ekspresi bloon di wajah Denova.

“Minggu depan aku ke Jawa, memulai penelitian bersama nona manis jenius itu, Dimitri.”

“Abang lulus?” Denova memastikan dia tidak salah dengar.

“Yap, usahamu mengacaukan wawancaraku kemarin sayangnya gagal, Den.” Damian memasang eskpresi pura-pura khawatir.

Puas menggoda Denova, Damian bangkit meninggalkan Denova yang masih bengong tak percaya. Sampai di pintu, Damian berbalik dan tersenyum jahil, “Oh iya, tadi Dimi titip salam buat kamu.”

Wajah Denova memerah. “Abang habis bertemu dengannya?”

—=—

Dimi tergesa keluar dari kamar mandi, menyambar handphonenya yang dari tadi terus menjeritkan jingle Happy Tree Friends. Ayahnya menelepon.

“Ayaaah, apa kabar?” Dimi setengah berteriak menyapa ayahnya.

“Kamu sendiri apa kabar di sana? Tidak pernah sms, tidak pernah telepon. Ik ben erg ongerust.” Ayah Dimi mulai mengomel di seberang sana.

Ik ben geen kind meer. Ayah tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diri sendiri.”

Terdengar gelak tawa Ayah Dimi dari telepon. “Sampai kapanpun kamu akan tetap jadi putri kecil ayah, Dimitri.”

Dimi mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk, tidak menyadari bahwa ayahnya tidak dapat melihat ekspresi wajahnya sekarang.

“Oh ya Dim. Kemarin Ayah tidak sengaja berpapasan dengan Bagas waktu sedang jalan-jalan di Waterlooplein. Dia menanyakanmu.”

Jantung Dimi berdegup kencang, sudah lama dia tidak mendengar kabar dari Mas Bagas.

“Mas Bagas, Yah?”

“Iya. Bagas yang sering mengajakmu main layangan waktu kecil. Tetangga kakekmu dulu.”

Otak Dimi langsung memutar ulang ingatan tentang masa kecilnya, tentang Mas Bagas, dan tentang kenangan menyakitkan empat tahun lalu.

catatan penulis: akhirnya keluar juga episode tujuhnya.. tokoh2 baru banyak yang bermunculan y? hehehe. Dari anggota keluarga Den, Airin, hingga Bagas.. Siapa lagi tuh Bagas? Rahasia dong. Eh, ada yang berminat ikut kuis kisah ramadhan nih? lumayan lho, yang terpilih tulisannya diterbitin.. siapa tahu anda yang beruntung.. info lebih lengkap klik di sini ya! Kalau mau sekalian add FB saya yuk monggo mari silahkan :D, tapi di message tulis nama penanya biar saya ga pangling (kayak ada yang mau add aja deh mel #kick) Salam semerbak selalu dari Baubau, FYI: Saya ga lupa absen pulang kok. 🙂

Iklan

13 pemikiran pada “Episode Tujuh:

  1. siapa lagi tu bagas?? 😀
    bertambah lagi tokoh, makin panjang brarti nanti episodenya… hihihi

    Mel: Iya, saya itu ga pernah bisa bikin cerita yang tanggung. sekalinya pendek, pendek sekali, kalau panjang ya panjang sekali

  2. Wah.. sudah episode 7 😀
    Saya paling nggak sanggup bikin cerita yang puanjang2 dan selalu kagum pada orang yang bisa melakukannya.. Kok bisa sih, memproduksi kata2 sebanyak itu 😀

    Mel: Saya juga masih belajar kok mbak, biasanya suka bosen dan berhenti di tengah jalan.. ini sedang berusaha menyelesaikan

  3. hahahahahha, sepertinya nih cerita makin panjang.. jangan terlalu panjang yaa Mel, biar nggak menyimpang jauh dari awal ide cerita.. ntar kayak si amira tu udah ngelantur aja jalan ceritanya, hehe.. 😀

    Mel: maunya sih begitu sih Dhe, makin panjang makin banyak tanggungan.. rencananya sih dibikin ending ngambang dulu.. bagian selanjutnya di lanjut manual saja

    • waduuh jangan dong, kalo ngambang ntar saya dan lain2 pada penasaran gimana coba.. selesain aja dulu, sampe bener2 ending, trus kalo mo lanjut manual kan bisa diperluas jalan ceritanya..

      Mel: Hemmm… *mikir*

  4. wah, udah banyak ketinggalan nih Mel. jadi males ngulang bacanya.
    skip ke endingnya aja g bisa y? hehe

    Mel: Bisa, bisa,.. nanti kalau sudah ending aku kasih tahu, heheh

  5. wah, saya baru berkunjung ksini dah episod 7, ketinggalan 6 berarti.
    maafkan baru sempat berkunjung, karena kesibukan sebagai FTM yg super sibuk.
    salam hangat

    Mel: Ga papa mbak, masih belum jauh kok.. Makasih udah berkunjung 😀

  6. 21:45
    typo alert…!!!
    Ah, Den memang tidak pandai membuat PERUTAMAAN…

    perutamaan apa perumpamaan? 😉

    Mel: Typo telah diperbaiki 😀

  7. emh… tar bisa juga ke belanda g yah? heu.. impian tertunda.. Wageningen University.. *maaf komennya gak nyambung, 🙂

    Mel: semoga bisa.. semoga bisa.. 😀 ayo semangat!!!

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s