Episode Enam: Rencana yang Gagal

Damian memandangi adiknya menyelidik, tak habis pikir kenapa tiba-tiba adik bungsunya itu berbaik hati ingin menemaninya wawancara, memberi dukungan katanya. Damian sudah mati-matian menolak, terakhir kali adiknya itu memberi dukungan padanya, dia menjadi bahan olok-olok sepanjang masa sekolah dasarnya. Waktu itu Damian sedang mengikuti lomba sepak bola antar-SD, waktu berteriak memberi semangat, Den menyebut-nyebut nama kakak kelas yang ditaksir Damian sejak kelas tiga. Membuat Damian kehilangan muka setiap kali berpapasan dengan gadis pujaannya.

“Den kan ingin memberi semangat pada Bang Damian, Mi. Den juga penasaran bagaimana suasana wawancara itu. Kan kalau Den mau dapat beasiswa ke luar negeri nanti, pasti ada tahap wawancaranya, setidaknya kan nanti Den bisa belajar dari wawancaranya Bang Dam besok, Mi.” Kelit Den saat Damian mengadukan adiknya itu ke Maminya.

Sejak kapan Den mau sekolah ke luar negeri? Ditinggal Mami ke luar kota saja dia malas makan.

Mami yang tentu saja paling sayang pada si bungsu hanya bisa manggut-manggut mendengar alasan Denova, “Sudahlah Dam, ajak saja adikmu. Itung-itung jadi teman ngobrol sambil kamu nunggu panggilan. Ga ada larangan bawa suporter kan?”

Damian tentu saja tidak dapat berkutik. Kalau Mami sudah bilang begitu, mana berani dia melawan, bisa kena omel seharian. Damian menarik nafas panjang, diliriknya Denova yang sedang asyik main PSP, “Pulang nanti kamu yang nyetir!” Yang disuruh tentu saja meng-iyakan dengan semangat, tumben-tumbenan abangnya itu membolehkan Denova menyetir mobilnya.

—=—

Damian mendengus kesal, boro-boro jadi teman ngobrol, adiknya itu malah asyik main PSP. Masih ada empat orang lagi sebelum giliran Damian, dia dapat nomor antrian terakhir gara-gara terlambat tadi. Biang keroknya tentu saja Denova. Entah kenapa, menemani Damian wawancara saja Denova berdandan lama.

Daripada moodnya kacau memikirkan tingkah aneh Denova dua hari terakhir, Damian memutuskan untuk mempelajari lagi makalahnya, mempersiapkan diri untuk wawancara pentingnya ini.

“Damian Ardianingrat!” resepsionis memanggil nama Damian. Yang dipanggil, saking sibuknya belajar, tidak mendengar. Denova bangkit dari duduknya, mengacungkan tangan. Sebelum Damian menyadari apa yang terjadi, adik bungsunya telah masuk ke dalam ruang wawancara.

—=—

Denova telah merencanakan semua ini dari kemarin, dia sudah menebak abangnya itu pasti akan sibuk belajar sebelum wawancara dan kemungkinan besar tidak akan mendengar saat dipanggil. Tebakannya tidak meleset, saat nama Damian dipanggil, Denova lebih dulu berdiri sebelum abangnya itu menyadari. Dia akan memberi kejutan untuk Dimi.

Resepsionis mempersilahkan Denova masuk ke ruangan, meninggalkan Damian yang masih bengong, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Di ruangan sudah menunggu dua orang pria setengah baya dan satu orang wanita berusia awal 30 tahunan. Denova memandang berkeliling, mencari-cari sosok Dimi. Nihil.

“Damian?” wanita berkacamata yang duduk di tengah bertanya.

Denova menggeleng kikuk, salah tingkah. Perempuan tadi mengerutkan kening tak mengerti.

“Saya Denova, adiknya. Abang saya masih di ruang tunggu.” Denova menggaruk kepalanya dengan gugup.

Ketiga pewawancara itu saling berpandangan, tak mengerti.

“Sebentar saya panggilkan dulu abang saya,” Denova beringsut keluar, wajahnya merah padam karena malu.

—=—

Damian terus mengomeli Denova sepanjang perjalanan pulang, dia marah besar. Sudah dia sangka adiknya ini tidak tulus ingin mendukungnya. Denova malah menghancurkan wawancaranya hari ini, padahal dia telah mempersiapkan semuanya matang-matang.

Denova sendiri hanya diam tak mempedulikan celotehan Damian, berusaha fokus ke jalanan di depannya. Ah, dia sadar dia yang salah. Kali ini Mami pasti tidak akan membela Denova.

—=—

Makanannya enak?” tanya Ainin pada Dimi. Dimi mengangguk, bukan sekedar untuk menghargai tuan rumahnya, tapi masakan Ainin memang benar-benar enak. Ainin adalah pakar edafologi -ilmu yang mempelejari kesuburan tanah- di Indonesia, salah satu yang terbaik dan termuda. Dia akan menjadi partner penelitian Dimi selama dua tahun ke depan.

“Tadi ada kejadian lucu pas wawancara,” kata Ainin, memecah kesunyian di meja makan

Dimi mendongak, mengalihkan perhatian dari daging rendang yang berusaha dipotongnya.

“Tadi ada cowok yang masuk ke ruang wawancara…” Ainin terhenti, menahan tawa.

“Wajar kan? Pasti dari salah satu pendaftar ada yang berjenis kelamin laki-laki.” Dimi heran, bagian mananya yang lucu.

“Awalnya kami kira begitu, kami kira dia salah satu peserta yang diwawancara. Tapi pas kami tanya, dia malah jawab -Bukan, saya adiknya, abang saya masih di luar. Bentar saya panggilkan dulu.- Coba kamu di sana, ekspresi mukanya itu lho, lucu sekali, kelihatan bloon banget.” Ainin kembali tertawa, teringat kejadian tadi siang.

Dimi tersenyum tipis, “Siapa namanya?”

“Nama siapa nih? Kakaknya kalau tidak salah sih bernama Demian, kalau adiknya aku lupa.” Ainin berusaha mengingat-ingat. “Deni? Dino? Danova? Entahlah, pokoknya terdengar seperti itulah.”

Senyum terkembang di bibir Dimi sekilas. Mereka melanjutkan makan, tidak membahas lagi kejadian tadi siang.

—=—

Diana, saudari kembar Damian, mengetuk pintu kamar Denova. Tidak ada jawaban. Diketuknya sekali lagi. Masih tidak ada jawaban. Diraihnya gagang pintu. Tidak terkunci.

“Den, boleh aku masuk?” Diana melongokkan kepala dari balik pintu. Denova diam, Diana memutuskan masuk.

“Sudahlah, kamu tahu Dam kan? Bentar lagi marahnya pasti reda,” Diana duduk di sebelah Den, berusaha menghibur adik bungsunya. Diserahkannya coklat batangan yang sengaja dibelinya di supermarket tadi pada Denova.

“Bukan masalah kak Dam…” Denova mulai bersuara, tangannya sibuk merobek kertas bungkus coklat kesukaannya.

“Lalu?”

Denova menatap kakak perempuannya, menimbang-nimbang. Di antara mereka sekeluarga, Diana lah yang paling perhatian dan penyabar, bertolak belakang dengan kembarannya. Tidak ada yang bisa menyimpan rahasia darinya.

Iklan

16 pemikiran pada “Episode Enam: Rencana yang Gagal

  1. lanjuuuuuuuuuuuutt, episode enam sudah selesai dibaca.. btw, mo bikin sampe episode berapa mel??

    Mel: Ga tahu Dhe, belum kebayang endingnya siih.. Kayaknya masih long way to go.. hehhe

  2. wew,,, tuh kan gagal ketemu.,,,,

    lanjuuutttt… πŸ˜€
    pokoknya Denova mpe akhir cerita ga ketemu sama Dimi lah,, ahahaha

    Mel: Hedeh, hahaha, iya y? g usah diketemuin aja kali ya? #senyum licik#

  3. lanjutkan………….. bacanya cm 10 menit gak nyampeeeeeeeeeeeeee………………..
    gawat nih! kykny aku dh terkena virusnya Mel…………………………….

    Mel: Wah, cepat diobati mbak, sebelum tambah parah πŸ˜›

  4. emh… enak yah klo punya kakak kayakna πŸ˜€
    sayang aku terlahir bukan sebagai adik..
    *wey gak bersyukur, dipukulin orang tar,hahaha.. ngaco

    Mel: samaa. mel juga anak sulung.. πŸ™‚

  5. so far, aku suka sama cerita kakak ! baca ku elelt banget, 2 bukan baru sampe chapter segini-__- tapi pasti bakal aku tametin kaak ! nggak berminat bikin lagi kak ? πŸ˜€

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s