Episode Lima: How to meet her?

Sehabis mengandangkan motor kesayangannya di garasi, Denova bergegas menuju kamarnya. Dengan tergesa, Denova menyalakan komputernya, sibuk mengetukkan jarinya ke meja sembari menunggu proses booting selesai. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka emailnya. Matanya berbinar waktu menemukan email yang ditunggu-tunggunya.

Dengan ini kami beritahukan bahwa nilai tes tertulis anda tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Semoga beruntung di lain kesempatan.

Dimitri Evarelia

Binar di mata Denova langsung meredup, tidak ada alamat yang tercantum di email itu. Kemarin Denova sengaja mendaftar menjadi asisten Dimi dan mengisi tes tertulis secara online. Tapi tentu saja Denova menjawab soal-soalnya secara serampangan, mana tahu dia tentang Fitoremediasi dan Sodium Adsorption Ratio, yang dia tahu dia hanya ingin bertemu dengan Dimi. Di website tersebut tidak tercantum alamat Dimi ataupun tempat penelitiannya, jadi satu-satunya cara menemui gadis itu adalah mengikuti wawancara seleksi asisten penelitian Dimi. Tapi kini Denova telah gagal.

Ah ya, kenapa aku tidak kirim email saja? Semoga saja Dimi masih mengingatku.

Denova segera sibuk membalas email Dimi. Hapus-ketik-hapus-ketik lagi, Denova sibuk menyusun kata. Setelah membaca ulang emailnya untuk yang kelima kalinya, Dia akhirnya mengirimkan email tersebut. Send!

Tidak sampai semenit kemudian, komputer Denova bersuara, memunculkan notifikasi email baru.

Maaf, anda tidak diizinkan  mengirim email balasan ke alamat ini.

Denova menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

—=—

Denova sibuk memikirkan rencana agar dapat menemui Dimi. Tidak diperhatikannya Bu Karin yang sibuk menjelaskan tentang zat radioaktif.

Entah kenapa Denova ingin sekali menemui gadis itu, dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran akan Dimi. Empat tahun lalu saat baru mengenal Dimi, Denova sangat ingin tahu tentang gadis itu, sangat ingin lebih mengenalnya. Sayangnya pertemanan mereka tidak berlangsung lama, Dimi pindah ke luar negeri. Dan kini begitu Dimi kembali, rasa penasaran Denova kembali muncul. Baginya, Dimi adalah sebuat teka-teki yang sangat ingin dia pecahkan. Gadis itu begitu misterius dan tidak bisa ditebak.

Lamunan Denova terputus ketika mendengar suara deheman di sebelahnya. Bu Karin melotot pada Denova, “Denova, silahkan kerjakan soal di depan!”

—=—

Lagi-lagi Rindang mencegat Denova di tempat parkir, kali ini tidak dengan ekspresi marah dan tidak terima seperti minggu lalu.

Denova menaikkan sebelah alisnya, menunggu Rindang menjelaskan apa maunya.

“Kak Den masih marah?” Rindang bertanya salah tingkah. Denova menggeleng.

“Terus sekarang mau Kakak gimana?” Rindang memainkan ujung sweaternya, tidak berani memandang Denova.

“Mau apanya?” Denova malah balik bertanya.

“Ya maunya kita gimana sekarang?”

“Ya terserah kamu. Kamu maunya gimana?”

“Aku maunya sih kita baikan aja. Ga usah bahas masalah kemarin lagi.” Rindang menggigit bibir, gugup.

“Ya udah kalau gitu. Baikan. Tapi bukan berarti kamu bisa main ke rumahku seenaknya lagi lho ya,” tegas Denova. Rindang mengangguk malu.

“Ya udah. Sekarang naik! Aku antar kamu pulang.”

—=—

Dimi tersenyum simpul menatap layar laptopnya. Pikirannya melayang ke kejadian empat tahun lalu di halte bus dekat rumahnya.

Den. Ah, rupanya dia masih selalu ingin tahu seperti dulu.

Dimi menutup laptopnya, masih banyak yang harus dia persiapkan untuk acara besok.

—=—

“Den, aku pinjam printermu!” Damian, salah satu dari kakak kembar Denova, menyeruak masuk ke kamar Denova.

Denova yang sedang bergulingan baca komik menatap sebal ke arah abang ketiganya itu. “Kan di kamar Abang ada?”

“Tiba-tiba ngadat. Numpang dulu lah ya Den?” Damian menatap Denova memelas.

Den mengangguk. “Selembar 500 perak tapi,” ujar Denova sambil lalu.

“Matre banget sih lu jadi orang? Sama abang sendiri juga.” Damian melemparkan bantal ke adik bungsunya sebelum akhirnya berkutat di depan komputer.

Denova yang baru saja menyelesaikan komiknya penasaran dengan apa yang sedang dicetak Damian. Dia bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri kakaknya yang sedang sibuk mengetik. Denova meraih selembar kertas yang telah tercetak. Makalah. Den langsung kehilangan minatnya.

“Heh, seenaknya pegang-pegang. Makalah penting itu,” Damian langsung merebut kertas di tangan Denova.

“Halah, palingan juga tugas kuliah. Udah numpang ngeprint, belagu lagi,” cibir Denova.

“Heh, kalau abang kamu ini diterima di proyek ini, masa depan abang kamu ini bakalan cerah, kamu juga bakal kecipratan. Ini proyek kelas internasional,” pamer Damian, tidak terima diejek Denova.

Denova tiba-tiba menyadari sesuatu, segera diperiksanya kertas-kertas yang berserakan di meja, mencari sebuah nama.

to Miss Dimitri Evarelia.

Den menatap abangnya tak percaya, tak habis pikir kenapa dia bisa lupa kalau abangnya itu mahasiswa jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Senyum cerah menghias wajah Denova.

“Kapan wawancaranya Bang?” Den bertanya penasaran.

“Besok.”

“Di mana?”

Damian menatap adiknya heran. Kenapa anak ini tiba-tiba antusias?

Catatan penulis: Entah kenapa episode kali ini agak berantakan, lagi ga bisa fokus saya hari ini. Mungkin karena itu kalimat-kalimatnya kurang singkron. Terharu saat tahu ada beberapa orang yang ngikutin serial geje ini *ambil sapu tangan*. InsyaAllah bakal terus dilanjutin deh. Oh iya, kalau sebelumnya saya belum tahu apa-apa tentang lanjutannya, sekarang saya udah bisa mengira-ngira untuk dua episode ke depan, hehehe. Hari ini ga ada iseng2 ga berhadiah dulu deh.. -,-a

Menjawab Tantangan Mas Jier

Kenal Mas Jier? Saya pun baru kenal sama orangnya, itupun sebatas berkunjung ke Ruang belajarnya Mas Jier. Mas Jier ini adalah salah satu orang yang beruntung dapat blog berbayar dari PakDhe Cholik , kalau penasaran silahkan mampir ke mari. Dan ternyagta Mas Jier ini ga menyia-nyiakan kesempatan, blog barunya sudah terisi banyak postingan.

Nah, dalam rangka tasyakuran nih, Mas Jier lagi mau bagi-bagi buku dengan main tebak-tebakan. Waktu SMP udah pernah diajarin persegi ajaib kan? Itu lho, kotak ukuran 3*3 yang diisi angka 1-9 kalau dijumlahkan baik secara horizontal, vertikal, maupun diagonal hasilnya akan sama. Nah, sekarang tebak-tebakan Mas Jier ini juga berupa persegi ajaib, tapi dengan ukuran 7*7.

Mungkin memang terlihat sulit menyelesaikannya, mesti menjumlahkannya satu-persatu, mencoba segala probabilitas.

Ah, bukan, bukan begitu, tanpa perlu menghitung-hitung, kita sudah bisa mengisi kotak ajaib itu, dengan mempelajari polanya. Ya, angka-angka itu memiliki pola unik, ada alurnya. Dulu waktu SD saya pernah diajarin sepupu saya, dan waktu SMP dapat pelajaran persegi ajaib itu, saya sukses jadi anak sok pintar dengan pamer kemampuan mengisi kotak berukuran 11*11. Saya sukses bikin teman-teman saya penasaran waktu itu.

Nah, ternyata kotak ini bukan sembarang kotak teka-teki, selain membuat kita tertantang olehnya, kita bisa mengambil beberapa pelajaran darinya.

Mengutip tulisan Mas Jier: “Penyusunan angka ini mengandung makna bahwa jika segala sesuatu ditempatkan pada tempat yang tepat, maka hasilnya pun akan tepat.” Contohnya ya waktu, kalau kita membagi waktu secara adil dan sesuai peruntukannya, insyaAllah hasil akhirnya pun akan memuaskan dan kita pun mendapatkan kehidupan yang seimbang di segala aspek.

Selain itu, melalui kotak ajaib ini kita juga belajar untuk cermat memperhatikan sesuatu, kalau kita belum menemukan polanya, kita pasti penasaran kan, berusaha menemukan benang merah bagaimana mengisi kotak ajaib itu. Nah saya harap ga cuma urusan dengan kotak ini saja kita berusaha peka membaca situasi, tapi juga dalam kehidupan sosial. Sebagai makhluk sosial kita itu harus peka terhadap orang lain, harus memperhatikan orang lain. Nah, kalau kita ga cermat dan menempatkan angkanya sembarangan, tentu kotak ini tidak terisi benar. Begitu juga dalam kehidupan. kalau kita sembarangan dalam bertindak, otomatis akan merusak tata nilai di masyarakat dong, merusak keseimbangan.

Hem, poin selanjutnya tentu saja adalah usaha dan pantang menyerah. Coba nih ya dibandingkan, kita berhasil menjawab kotak ajaib itu karena sudah dikasih tahu polanya dari awal dengan kita menjawab karena seharian ini sibuk melototin kotak ajaib itu. Beda kan rasanya? Sama-sama berhasil, tapi kepuasannya beda. Begitu juga dalam kehidupan, sesulit apa pun tantangannya kita harus tetap berusaha, berusaha, dan berusaha, jangan cepat menyerah. Minta bantuan orang lain memang tidak ada salahnya, tapi selama kita mampu menyelesaikan sendiri ya lebih baik kita selesaikan sendiri. Kalau kita memperoleh sesuatu dengan instan, ga bakal banyak yang bisa kita pelajari darinya.

Oh iya, berikut adalah penampakan kotak ajaib yang telah saya isi. Saya tidak akan membocorkan polanya sekarang, biar yang baca penasaran dan usaha. Mungkin sedikit hint saja. Angka 1 selalu di kotak paling tengah bagian tepi, pengisian angka selanjutnya itu selalu berarah diagonal, nah diagonal ke arah mananya itu yang perlu ditebak. Hem, coba perhatikan angka 1, 2, dan 8, kalau sudah bisa membaca polanya dari situ pasti bisa ngisi kelanjutannya deh.

Postingan ini ditulis untuk memeriahkan acara Tasyakuran dan Giveaway-nya Mas Jier