Episode Empat: Hadiah Ulang Tahun Denova

“DENOVA BANGUN! Kamu ga sekolah?” lengkingan suara Maminya membuat Denova terperanjat dari tidurnya. Saking kagetnya, dia langsung bangun dan berdiri, mengerjap-ngerjapkan mata mengumpulkan setengah nyawanya yang masih tamasya di alam mimpi.

“DENOVA!!! Sudah hampir jam 7.”

Diliriknya jam berbentuk rakun yang nangkring di meja belajar. 6:45. Denova panik, segera diambilnya handuk dan bergegas ke kamar mandi. Untunglah Denova sudah terbiasa mandi super kilat, baru lima menit dia sudah rapi memakai seragam sekolahnya. Setelah memastikan kancing baju dan resleting celananya terpasang benar, Denova buru-buru menyambar ranselnya dan berlari ke luar kamar.

“HAPPY BIRTDAY TO YOU, HAPPY BIRTHDAY TO YOU. HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU!”

Papi, Mami, keempat kakaknya, dan tentu saja Rindang, berjajar rapi menyambut Denova di depan kamarnya. Rindang mendekati Denova sambil membawa kue tart dengan angka 17 di atasnya.

Denova yang masih belum sadar benar akan apa yang terjadi, hanya bisa melongo memandangi orang-orang terdekatnya satu persatu.

“Selamat ulang tahun Kakak,” ucap Rindang.

“Ngapain kamu di sini? Kok kamu ga pake seragam sekolah?” tanya Denova dengan pandangan tak mengerti.

Daniar, kakak sulung Denova terpingkal-pingkal. ” Ini kan hari Minggu, Denova. Dasar bodoh!”

Anggota keluarganya yang lain pun ikut tertawa. Menertawakan kebodohan Denova.

“Tapi tadi kata Mami,..” Denova tidak melanjutkan perkataannya, akhirnya dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Ah, tahu gitu kan Den bisa tidur lebih lama lagi.” Bukannya meniup lilin ulang tahunnya, Denova malah masuk kamar dan menutup pintu, meninggalkan keluarganya dan Rindang bengong melihat reaksi Denova.

—=—

“Kamu harus minta maaf sama Rindang,” Mami menasihati Denova.

“Males ah, lagian Denova ga salah.” Denova menganggap nasihat Maminya angin lalu. Harusnya Rindang yang minta maaf.

“Lho, ya jelas salah dong. Dia udah susah-susah nyiapin kejutan buat kamu, bawain kue, jauh-jauh ke sini, eh kamu malah dengan ga sopannya bertingkah kayak anak kecil tadi. Tadi dia pulang sambil nangis lho.” Mami menceritakan detail kejadian setelah Denova masuk kamar tadi pagi.

“Ya kan Den ga nyuruh dia ngasih kejutan, ga nyuruh dia bawain kue ke sini. Lagian kok Mami bisa kenal Rindang?” Denova bersikukuh.

“Ya kan Mamanya Rindang teman arisannya Mami. Minggu lalu Rindang telepon Mami, minta pendapat Mami tentang kejutan ulang tahunmu,” Mami menjelaskan.

“Nah itu lah yang paling bikin Den sebel. Udah berkali-kali Den bilang kalau bakal ngenalin Rindang ke Mami nanti kalau Den udah ngerasa siap, eh dia malah seenaknya sendiri datang ke sini tanpa persetujuan Den.” Denova mengutarakan penyebab utama kejengkelannya.

“Ya kan maksud Rindang baik, ga seharusnya kamu bersikap sekasar itu tadi.”

“Pokoknya Den ga bakal minta maaf. Bukan Den yang salah kok.”

Mami Denova hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak bungsunya itu memang keras kepala. Dia pun lebih memilih meneruskan memasak ke dapur daripada melihat tampang merajuk Denova seharian.

Melihat Maminya beranjak ke dapur, Denova menarik nafas panjang. Lega tidak perlu mendengar ceramah berkepanjangan. Dia tahu dia telah bertingkah kekanak-kanakan, tapi dia sendiri sebal pada Rindang yang tidak sabar menunggu sampai Denova siap mengenalkan Rindang pada keluarganya.

Masih uring-uringan, Denova terus menggonta-ganti saluran televisi, menjadikan remote televisinya sebagai pelampiasan. Sampai akhirnya dia sampai ke sebuah acara talkshow yang akhir-akhir ini memperoleh rating tertinggi di Indonesia. Denova mengucek matanya tidak percaya.

Tidak salah lagi. Itu pasti Dimi.

Sayangnya pembawa acara berambut kribo itu keburu menutup acaranya. Denova masih menatap layar televisi tak percaya.

—=—

Denova memutar ulang rekaman acara talkshow yang baru saja diunduhnya dari internet.

Dimitri Evarelia. Ini memang Dimi yang dikenalnya.

Selain bertambah tinggi, Dimi terlihat lebih berisi, tidak ceking seperti dulu. Denova sangat kagum pada Dimi yang berhasil meraih penghargaan internasional di bidang teknologi pangan dan kini kembali ke Indonesia untuk melanjutkan penelitiannya.

Sudah kubilang kan? Anak itu memang jenius.

Denova mengpause tayangan itu, mencatat alamat website yang tertera di sana. Dimitri sedang mencari asisten untuk penelitiannya.

—=—

Rindang sebal bukan main, sudah dari jauh hari dia menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Denova tapi malah hancur berantakan. Hari ini pun dia terlambat ke sekolah gara-gara Denova. Dia menunggu Denova menjemputnya seperti biasa, tapi sampai jam tujuh Denova belum juga datang. Ketika akhirnya dia mengalah, mengsms Denova duluan, Denova malah membalas bahwa dia sudah di sekolah. Rindang benar-benar tidak bisa fokus pada pelajaran, sibuk menahan air matanya agar tidak tumpah.

—=—

“Harusnya aku yang marah, Kak! Kok malah Kakak yang ngambek sama aku? Yang salah kan Kakak.” Rindang mencegat Denova di tempat parkir.

“Aku kan ga pernah minta kamu bikin kejutan di hari ulang tahunku.” jawab Denova ketus.

“Tapi kan aku..” Rindang tidak bisa menahan air matanya lagi.

“Dan aku belum pernah ngasih kamu izin ke rumahku.” Denova naik ke motornya, meninggalkan Rindang.

—=—

Denova masih terbayang percakapannya dengan Rindang tadi. Dia sadar dia keterlaluan. Rindang tidak sepenuhnya salah. Tapi sungguh, dia merasa Rindang telah melanggar batas privasinya.

Kalau urusan begini saja Rindang ga bisa bersabar, bagaimana nantinya. Semuanya kan ga bisa berjalan sesuai mau dia.

Denova menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir wajah sedih Rindang tadi siang.

Rindang bisa diurus nanti. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya aku menemui Dimi.

Entah kenapa ulang tahunnya kali ini benar terasa spesial. Kepulangan Dimi adalah kado paling spesial yang dia terima.

—=—

Catatan penulis: sebenarnya mau cuti dulu ngepost hari ini, tapi karena tadi Dhenok nanyain episode empatnya dan ternyata kerjaan saya ga banyak-banyak amat hari ini *tumben*. Jadinya ya iseng-iseng ngelanjutin. Dan entah apa yang mempengaruhi saya, di episode ini saya bikin Denova kesannya jadi jahat banget hehehhe.
Iseng-iseng ga berhadiah #4. Gimana ya reaksi Dimi saat ketemu Denova?

16 pemikiran pada “Episode Empat: Hadiah Ulang Tahun Denova

  1. *menyimak hidangan jumat sambil menunggu lanjutannya :D*

    Mel: kalau pening, mual2, mata berkunang, segera hubungi dokter mbak.. hati2 keracunan.. πŸ˜›

  2. jujur Mel, tu tingkah denova sama banget ma yang dhe lakuin pas cowok dhe dulu dateng jauh2 cuma buat ngerayain sweet seventeen nya dhe..speechless!! sumpah!! dan alasannya pun hampir sama, karena sama2 belum siap kalo tu pacar kita dateng ke lingkungan yang belum seharusnya dia terlibat. hwaaaa, muach muach deh untuk Amel. nggak sia2 ngebelain OL malem2 gini langsung nyelonong ke gubuk kamu.. ayooo, episode selanjutnya dhe tungguin, sambil nyeruput kopi tentunya.. πŸ˜€

    Mel: Iya? Wah tidak bermaksud lho Dhe… hehhehe kapan2 ditambahin tulisan :

    Cerita di bawah ini hanya fiktif saja, apabila ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja

    Wah, makasih ya dhe udah bela2in malem2 mampir sini *terharu*
    Muach2 juga deh buat Dhe..

  3. Wah ga ngerti.. -.-
    bagian pertama dan sebelumnya mana ini..

    maf ni ka ga nyimak..

    Mel: coba aja klik kategori cerita bersambung, Fi. atau search aja Episode, atau Denova di kolom search πŸ˜€

    • hiks2.. maksa nih ka.. T.T
      bikinin link-nya dong, wkwkwk..
      hehe.. πŸ˜€ peace kak..

      Mel: Hahaha, iya fi iya,, ga usah nangis gitu, hahaha coba klik di sini deh. :D..

  4. saya setuju sama sikap Denova, salah siapa ngasih kejutan bikin kue tart, kan ga ada yg minta. hehehehe..

    wah, bakalan seru nih ketemu sama dimi..

    Mel: Ehem, saya pernah ngalamin yang mirip kejadian itu mas.. Tapi di posisi yang beliin kue tart.. Ehem

  5. Ping balik: Zona Nggak Normal di Pagi Buta « Perjalanan Panjang
  6. baru komen di bagian ke 4. tp udh baca dr yg part 1 lho…. asik banget….. tp msh misterius tu si dimi. jd gak sabar nunggu klanjutannya……… ayo…… cepetannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn… *uupss… sory…… ^_^

    Mel: Wah, bersekongkol sama Dhenok nih, manas2in sya buat cepet apdet ceritanya.. itu baru keluar yang episode 5 :D, tapi bagian Diminya masih dikit.

  7. 21:31
    done, part 4 πŸ˜€
    reaksi si Dimi palingan lompat2, lari ke hutan terus belok ke pantai…hihihi

    Mel: hahaha.. imajinasinya luar biasa

  8. eh, di episode sebelumnya si dimi nyiptain padi yang umur panen 2 bulan
    #tuing.tuing.. sebagai anak pertanian aku g kepikiran sampe kesitu lho, hahhaa… iyalah spesialisasi aku fitopatologi,, penasaran nanti bakal muncul ras patogen baru g yah?klo padinya 2 bulan sekali panen

    Mel: jangan tanya saya, jangan tanya saya.. itu masih di dunia khayal saya.. tapi siapa tahu evan mau mewujudkannya,. biar harga beras bisa turun lagi.. πŸ™‚

  9. weeyy.. saya jg g bisa ngewujudin,, mungkin yang bisa wujudin anak2 jurusan pemuliaan tanaman,,, saya kan jurusan fitopatologi, Ilmu Penyakit Tanaman,, ya kasarnya Dokter Tanaman,, boleh tuh kayakna profesi saya dimasukin bwt nemein penelitian si Dimi, hahaha..
    oia td pagi sempet baca klo gak salah kakaknya si den, si damian itu jadi asisten Dimi yah? kan si dimi itu bikin varietas padi unggul.. super genjah ato panen cepet 2 bulan,, tapi kenapa si damian jurusannya teknologi pangan dan hasil pertanian,, kalo menurut sy jurusan itu kurang nyambung sama penelitian si Dimi, kan dimi bikin varietas baru, nah klo THP ato si damian penelitiannya lebih ke pasca panen,, kan g nyambung.jurusan yang cocok n pas buat damian klo pengen ngebantu penelitian dimi, kayakna yang lebih pas itu jurusan pemulian dan bioteknologi tanaman.. (cuman saran) biar kesannya lebih real.. kan klo anak pertanian yang baca jadi nyambung,heuheu…

    Mel; asiiik, dapat saran dari anak pertanian.. tapi tetep butuh dari teknologi pangan toh? buat evaluasi penelitiannya Dimi.. kan percuma bisa panen 2 bulan tapi ga bisa bikin kenyang #sotoy..inilah susahnya kalau nulis tentang tema yang bukan bidangnya…
    aah, ga sabar nungguin ending versi evan.. pasti keren :matabelo:

  10. yah pasti kenyang lah, emh.. mungkin yang perlu dikaji itu,, apakah hasil penelitian dimi yang padi panen dua bulan itu hasilnya lebiih maksimal dari pada sebelumnya, secara masa vegetatifnya dipotong n masa penyerapan kebutuhan nutrisi buat pengisian malai pada berkurang * huuu.. tambah sok tahu nih… padahal mah sama2 bukan bidangnya juga, saya kan fitopatolog,heu.. narsis
    pengen segera buat ending versi saya, tapi takuuut jeleekk…

    Mel: hohoho,, tapi setidaknya evan kan ngerti dikit,, kalau mel kan murni sotoy.. xixixi… ga usah takut atuh. lagian waktunya masih lama euy

  11. akhirnya pagi ini nyempetin mulai baca seri den dan dimi ini…pdhal mau ngomen terakhir2 aja..tapi gatel ngomen pas baca ini. jahat banget denovanyaa :O

    mel: hampir semua orang bilang gitu pas baca episode ini.. πŸ˜›

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s