Proyek-proyek saya

Dari dulu, saya itu suka nulis. Sampai sekarang punya cita-cita nerbitin novel. Masalahnya adalah, novel saya ga pernah selesai. Ide yang bergumul di kepala kalah sama kesibukan sehari-hari (tidur-makan juga adalah kesibukan buat saya).

Waktu kuliah, saya sempet nulis novel berjudul Gemintang. Ini novel pertama yang saya garap serius, tapi sampai sekarang belum selesai. Biasalah, mud-mudan saya nulisnya. Terus tiba-tiba ada ide cerita satu lagi, cuma baru saya tuangin di bab 1 di sini. Karena kakaknya (baca: Gemintang) belum lahir sempurna, jadi proyek yang ini saya pending, tapi jalan ceritanya udah terbayang 70%, menari-nari di kepala.

Akhirnya di awal tahun 2011, saya bertekad untuk setidaknya merampungkan Gemintang tahun ini. Hal ini pernah saya tuangkan di sini. Kemarin akhirnya saya bawa Gemintang ke kantor, soalnya Ms. Office saya ngambek, sekalian kalau pas lagi nganggur saya bisa lanjutin ceritanya. Soalnya kalau di rumah saya selalu tergoda kasur yang melambai-lambai di kamar.

Nah, ga tahu kenapa, kemarin tiba-tiba bikin cerita bersambung di Dunia Pagi.. Niatnya cuma cerita pendek, tapi tiba-tiba jadi bersambung #nahloh. Dan proyek yang ini bener belum kebayang ceritanya mau kayak gimana. Tiap kali nulis selalu spontan, dari otak langsung turun ke jemari, ga terkonsep sama sekali, dan sangat mentah idenya.

Entah apakah saya berhasil menyelesaikan proyek-proyek saya ini. Saat ini saya mengerjakan Gemintang dan Cerita bersambung tak berjudul itu berbarengan. sedangkan untuk Proyek kedua terpaksa mengalah pada kedua saudaranya.

Oh iya,, sampai saat ini Dunia Pagi udah sampai Bagian 2, hampir 100 halaman. Tapi masih perlu diedit sana-sini, soalnya ini masih draft, dan saya rasa masih setengah matang, soalnya penceritaannya masih ngambang dan terlalu teenlit,,

Saya lagi pingin minta pendapat orang nih, tapi malu kalau sama orang yang dikenal di dunia nyata. Kawan Blogger ada yang mau menumbalkan dirinya kah? kalau iya, bilang-bilang saya ya 😀 bisa lewat komen, bisa lewat email ke: tomel.cowel2@gmail.com

Episode Tiga: Empat Tahun Kemudian

Denova berlari tergesa menuruni tangga, meloncati dua anak tangga sekaligus. Sampai di anak tangga terakhir, dia baru teringat akan hapenya yang ketinggalan di kamar. Terburu-buru dia menaiki tangga kembali ke kamarnya.

“Denova!” panggil Maminya saat Denova melintasi ruang makan.

Denova segera menghampiri Maminya, cium tangan, ucap salam, lalu bergegas keluar.

“Denova! Kamu ga sarapan?” Maminya berteriak dari ruang makan.

Denova segera kembali ke ruang makan, mengambil roti bakar yang telah disiapkan Maminya dan segera menyumpalkannya ke mulut. Denova segera berlari ke luar, melambaikan tangan ke Maminya, berpamitan.

Sesampainya di garasi, Denova segera naik ke Honda CS1-nya. Hapenya bergetar lagi, Denova segera memacu motor kesayangannya.

—=—

Rindang melipat tangannya di dada, memasang wajah cemberut saat Denova datang. “Sudah jam 7 ini Kak!”

“Iya, tahu. Udah cepat naik!” Denova menjawab tak peduli.

Rindang tidak punya pilihan lain. Disisihkan rasa jengkelnya dan segera naik ke boncengan Denova. Hatinya komat-kamit membaca doa  saat kakak kelas yang sudah setahun ini dipacarinya itu meliuk-liukkan motornya di jalanan macet Jakarta.

—=—

“Masih ngambek?” Denova bertanya pada Rindang.

Rindang pura-pura tak mendengar, sibuk menikmati mie ayamnya.

“Kan tadi aku dah bilang, aku kesiangan gara-gara nonton bola semalem. Maaf,”

“Udah aku misscall berapa kali tadi pagi?” akhirnya Rindang bersuara, menumpahkan kekesalannya. Gara-gara Denova tadi dia di hukum berdiri di depan kelas selama pelajaran sejarah.

“Hapenya silent, Manis.. Maaf ya.”

“Udah berapa kali dibilang, kalau tidur hapenya dicek, jangan disilent!” ketus Rindang.

“Iya, nanti malem dicek deh. Dah ya ngambeknya?” Denova menatap Rindang dengan wajah memelas. Rindang mengangguk, tanda berdamai.

“Makasiih.. Nanti siang aku beliin coklat deh,” janji Denova sambil mencubit hidung pipi tembem Rindang.

—=—

“Dimitri, Ben jij er klaar voor? Apakah kamu sudah siap?” seorang pria setengah baya muncul dari balik pintu.

Dimitri menoleh kepada ayahnya, tersenyum dan  menganggukkan kepala. Dimitri menarik nafas dalam-dalam. Ini memang bukan pertama kalinya dia menerima penghargaan, tapi penghargaan kali ini sungguh berbeda. Dengan menerima penghargaan dari International Society for Plant Biologists, Dimitri mendapatkan pengakuan dari dunia Internasional. Selain itu dia akan mendapatkan kucuran dana segar untuk melanjutkan penelitiannya  mengembangkan jenis padi yang dapat dipanen dalam waktu dua bulan.

Dimitri masuk ke dalam mobil. Mulutnya memanjatkan doa, semoga semuanya berjalan lancar.

Ik ben zenuwachtig,” Dimitri menyuarakan kegugupannya pada ayahnya.

Rustig aan! Alles soepel zal verlopen,” Ayahnya berusaha meyakinkan Dimitri bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

—=—

Denova tak hentinya menggerutu, baru saja dia diomelin maminya karena kamarnya yang sangat berantakan. Walau dari keluarga berada, tak pernah Denova dimanja. Waktu SMP pun dia tidak diantar jemput sekolah, pulang pergi naik metromini. Papinya baru mau membelikan motor saat Denova kelas 2 SMA, sudah punya SIM. Segala urusan pribadi Denova harus diselesaikan sendiri. Mbok Yan dilarang membantu Denova membereskan kamarnya. Alhasil kamar Denova sekarang tidak ubahnya dengan kapal pecah: kertas berserakan, pakaian bertebaran, barang-barang bertaburan.

Denova mengelap keringat di keningnya, rupanya pekerjaan beres-beres ini lebih melelahkan dari yang dia kira. Dengan malas-malasan dipilahnya barang-barang yang sudah tidak dia butuhkan, barang-barang lamanya segera masuk kardus untuk disumbangkan.

Denova tertegun, dibukanya gulungan kertas itu. Diamatinya lukisan cendarawasih itu lamat-lamat.

Sekarang di mana ya Dimi? Apa dia masih sama dengan Dimi yang dulu aku kenal?

Sejak berpisah empat tahun lalu, dia tidak pernah mendengar kabar dari gadis aneh itu. Kehidupan SMAnya nyaris membuat Denova lupa akan gadis jenius itu. Denova mengulum senyum saat mengenang persahabatan singkatnya dengan Dimi.

Empat tahun. Ternyata sudah empat tahun.

Catatan penulis: Siapa Denova belum bisa terjawab gamblang di episode ini. tapi setidaknya ketahuanlah kalau Den anak orang kaya dan kini sudah kelas 3 SMA. Akhirnya saya menyimpulkan kalau Den dan Dimi pertama kali bertemu saat Den kelas 2 SMP. Ah, sampai episode tiga pun masih belum jelas inti ceritanya. Belum ketemu konflik penting, baru proses penciptaan karakter tokoh-tokohnya… Agak bingung  juga mau lanjut kalau kayak gini, tapi udah kepalang tanggung.
Iseng-iseng ga berhadiah #3: Kira-kira gimana ya caranya Den dan Dimi ketemu lagi?