Episode Dua: Sedikit tentang Dimi

“Dim, rumahmu dekat ga dari sini?”

“Itu di gang sebelah sana,” jawab Dimi sambil menunjuk ke seberang jalan.

“Boleh numpang kamar mandir ga, Dim? Mules nih…” pinta Den memelas, berusaha menahan rasa mulas di perutnya.

Dimi berdecak, menggelengkan kepalanya geli melihat ekspresi Den. Dia beranjak dari duduknya, menyeberang jalan. Den mengikuti di belakangnya.

—=—

Mereka sampai ke rumah sederhana bercat putih. Lengang. Den tercengang begitu Dimi mempersilahkannya masuk, di sudut ruang tamu berdiri rak kaca yang penuh berisi plakat dan medali.

“Kamar mandinya di ujung lorong, kalau nanti papasan sama Bik Asih, bilang saja teman Dimi.”

Den mengangguk tanda mengerti, dia setengah berlari menuju kamar mandi. Perutnya sudah tidak mau berkompromi.

Setelah memastikan Den tidak salah masuk ruangan, Dimi masuk ke kamarnya, mengambil buku yang belum selesai di bacanya. Saking asiknya membaca, Dimi sampai tidak menyadari bahwa Den telah kembali ke ruang tamu, sibuk memperhatikan isi rak kaca di sudut ruangan.

“Dimitri Evarelia? Kenapa tidak dipanggil Eva saja? Dimitri kan terlalu maskulin,” Den berkata lantang, memecah keheningan. Sekarang dia tahu kenapa Dimi lebih memilih homeschooling. Di antara plakat-plakat itu, terdapat sedikitnya sepuluh penghargaan yang beratasnamakan Dimi, sisanya milik laki-laki yang kemungkinan besar adalah ayah Dimi.

Dimi mendongakkan kepalanya, menatap Den lekat-lekat. “Dimitri nama pemberian almarhumah ibuku. Dulu waktu di-USG, dokter bilang aku laki-laki, makanya ibuku memberi nama Dimitri. Ibuku tidak pernah tahu kalau ternyata anak yang dilahirkannya perempuan. Makanya ayah memanggilku Dimitri, mengenang ibuku.”

“Maaf, aku bikin kamu inget ibumu ya?” Den menggigit bibir, lagi-lagi merasa serba salah di hadapan Dimi.

“Ga papa. Aku ga punya ingatan sama sekali tentang ibuku,” jawab Dimi.

Setelah puas melihat-lihat puluhan plakat dan medali itu, Den duduk di sebelah Dimi, penasaran dengan buku yang dibacanya.

Baca apa?” tanya Den penasaran.

Dimi diam tak menjawab, dia hanya mengangkat sedikit cover buku yang dia baca agar Den dapat melihatnya. The Little Balance, Galileo Galilei. Mulut Den membentuk O panjang.

“Pantesan kamu ga butuh sekolah umum, kamu kepinteran sih. Ngelihat penghargaan yang kamu dapat, aku malah curiga kamu lebih pintar dari guru-guru di sekolahku,” Den membuka toples di depannya tanpa izin, langsung mencomot permen jahe di dalamnya.

“Ayahmu? Ilmuwan ya, Dim?”

Dimi mengangguk, masih sibuk membaca, sedikit terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Den.

“Terus sekarang kemana?”

“Konsorsium di Jenewa.”

“Berarti kamu tinggal sendirian di sini?”

“Ada Bik Asih.”

“Terus sekarang Bik Asih kemana? Kok sepi banget?”

“Jam segini biasanya lagi nyetrika di belakang.”

“Oooo, emang kamu ga kesepian ya Dim?”

Dimi menutup bukunya, menatap sebal kepada Den. Dia paling tidak senang diganggu saat membaca.

“Kayaknya udah waktunya kamu pulang deh Den, udah sore.”

—=—

Hari ini Den terlambat pulang, terpaksa ikut rapat OSIS sepulang sekolah. Tadi dia sudah berniat untuk mangkir untuk kesekian kalinya, tapi sayangnya dia bertemu dengan Roni, sang ketua OSIS, di gerbang sekolah. Den tidak bisa berkelit.

“Baik, jadi Denova setuju ya untuk jadi kabid perlengkapan?” tanya Roni. Semua anggota rapat menatap Den, menunggu persetujuan.

Den yang sedang asyik melamun hanya bisa bengong mendengar tawaran Roni. Kenapa aku tiba-tiba ditunjuk jadi kabid perlengkapan?

“Yak, kalau begitu susunan panitia MOS sudah lengkap. Mengenai tugas masing-masing bidang kita bahas di rapat besok,” Roni terburu menyimpulkan sebelum Den sempat menjawab.

Den menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa dijebak.

—=—

Den menarik nafas lega saat dia melihat Dimi duduk di halte, menunggunya. Dia segera mempercepat langkahnya, menghampiri Dimi.

“Kirain kamu dah pulang, Dim.”

Dimi tersenyum pada Den, menyerahkan sebuah bungkusan padanya. Lukisan cendrawasih kapan hari.

“Katanya bukan buat aku?” tanya Den saat melihat isi bungkusan itu.

“Buat kamu saja, orang yang mau kukasih itu ga pernah datang.”

Den menatap Dimi dengan berbinar-binar, berterimakasih.

“Mulai besok mungkin aku bakal telat pulang terus, Dim. Tadi dijebak anak-anak jadi panitia MOS.”

“Mulai besok aku juga ga bakal ke halte ini.”

Den menaikkan alisnya, berusaha mencerna kata-kata Dimi, “Kenapa, Dim? Marah?”

Dimi tertawa geli. “Lagi-lagi kamu menganggap aku marah. Aku ga sepemarah itu kali Den.” “Aku besok pindah ke Amsterdam, ikut Ayah. Ayahku ada penelitian di sana.”

Den menatap Dimi tak percaya. Bukankah mereka baru saja bertemu dan berkenalan? Den merasa nyaman tiap kali bersama Dimi, mereka baru saja bersahabat, tiba-tiba sekarang harus berpisah.

“Kapan kembali?”

“Entah, mungkin juga tidak kembali. Di sini ilmu ayahku sia-sia, tidak dihargai dan didukung.”

Hening. Masing-masing kehabisan kata.

“Makanya dulu sempat kubilang kan, akan lebih mudah kalau kita tidak saling mengenal,” Dimi menutup pembicaraan lalu menyeberang pulang.

Catatan penulis: Penulisnya pun masih bingung kelanjutan ceritanya, masih belum tertebak walau udah di episode dua. Mari kita sama-sama menunggu sambungan ceritanya.
Iseng-iseng ga berhadiah #2: Setelah ngintip sedikit kehidupan pribadinya Dimi, sekarang kita tebak Siapakah sebenarnya Denova menurut anda?

Iklan

13 pemikiran pada “Episode Dua: Sedikit tentang Dimi

  1. denova adalah seorang pelajar yang ikut organisasi osis, yg pulang pergi ke sekolah naek metro mini. sebenernya si den tempat TK dimi, tp mereka kurang saling mengenal dan blum terlalu ingat, padahal orang tua mereka sudah setuju dgn jalinan kasih mereka, tragis!

    Mel: Pintar sekali dirimu Ciir.. Yang masalah temen TK, kok jadi mirip teenlit yang dulu aku baca ya?

  2. pokoknya saya tunggu episode 3, kalau mau syuting striping juga boleh hahaha #duh apa2 ini saya 😀

    Mel: Hohoho,, penulisnya juga masih bingung nyusun skenario ini

  3. Denova? kira2 siapa yah,,,
    emang baru ketemu sama Dimitri, atau teman main waktu kecil..
    entahlah,,
    saya serahkan saja sama penulisnya.. hehehe

    Mungkin Dimitri akan nyusul ayahnya ke jeneva ya mba? 😀

    Mel: ke Amsterdam mas, kan yang di Jenewa kemarin cuma konsorsium,,. penelitiannya di Belanda

  4. kayaknya bakalan jadi cerita yg agak berat, bacaannya dimitri aja bukan favorit gua 😀
    mngkin dy seorg wanita? *kena gampar Amel
    yg gagal jdi astronout? *ngapus air mata duka cita

    Mel: ga kok bang, kan bulan puasa, ga boleh gampar2an.. :p
    itu juga bukan buku favorit saya kok bang.. tahu judulnya baru kemarin hasil gugling.. hehehe

  5. mel, dhe ketinggalan nih cerita.. haaaah gk sopan lu ah, bikin part 2 pas dhe lagi tekapar gk bisa OL.. 😦

    Mel: Wuiih, mel kan ga tahu klo Dhe lagi ga bisa OL, emangnya kenapa ga bisa Dhe?

  6. ahaa.. inget!! aku punya temen cewek karakternya persis kayak si dimi,, jutek, cuek,, suka bikin aku keki, takut klo dia marah, abis gak bisa bedain saat dia marah atau nggak.. hemm.. kangen sikap juteknya, 😀

    Mel: Eaa, nostalgila

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s