Episode Satu: Halte

“Hey Kamu!”

Den melirik sekeliling, hanya ada dia dan seorang gadis berkuncir kuda di halte itu, tidak ada orang lain. Ah, mungkin aku salah dengar.

“Hey!”

Den menoleh ke gadis berkuncir kuda itu, sumber suara cempreng yang mengganggu aktivitas melamunnya. Den menatap gadis itu tak mengerti, minta penjelasan: Memanggilku?

“Iya, kamu. Siapa lagi? Tidak ada orang selain kita kan di sini?”

“Ada apa?” tanya Den kebingungan. Den sama sekali tidak merasa mengenal gadis itu.

“Kamu ngapain di sini?” gadis aneh itu malah balik bertanya pada Den.

“Nunggu metromini lah. Emang kamu kira ngapain aku duduk di sini? Kamu sendiri lagi ngapain?” Den mulai sebal pada gadis itu. Buat apa dia mau tahu urusanku, sok kenal segala.

“Yang aku lihat dari tadi kamu lagi ngelamun, tadi udah dua metromini lewat kamu malah diem aja. 61 kan?”

Den tersentak. Benarkah aku tidak menyadarinya? Tiba-tiba Den merasa malu, dia tersenyum kikuk pada gadis itu.

“Kamu sendiri kenapa ga naik metromini itu?” Den berusaha bersikap lebih ramah pada gadis itu.

“Yang bilang aku lagi nunggu metromini siapa?”

“Terus kamu ngapain di sini?”

Gadis itu menunjuk gang di seberang jalan, “Rumahku di situ. Kalau aku lagi kesepian, aku ke sini buat lihat lalu-lalang kendaraan.”

—=—

“Kesepian lagi?” Den menyapa gadis di depannya.

Gadis itu menoleh kaget, tidak menyangka Den ada di dekatnya. Kali ini dia yang terpergok sedang melamun. Gadis itu tersenyum malu.

“Denova,” Den mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.

“Dimitri, panggil saja Dimi,” gadis itu membalas uluran tangan Den, tersenyum memamerkan gigi kelincinya.

“Memangnya kamu ga sekolah?” tanya Den sambil mengambil posisi di sebelah gadis yang baru dikenalnya itu.

Homeschooling,” jawab Dimi lirih.

“Pantas kamu kesepian, pasti kamu ga punya teman. Kenapa ga sekolah umum aja? Kan bakal dapat banyak teman di sekolah.”

Raut muka Dimi berubah murung seketika. Den jadi merasa bersalah dibuatnya, takut Dimi tersinggung karena ucapannya barusan.

“Maaf kalau kamu tersinggung, aku cuma bercanda kok,” Den menatap Dimi dengan perasaan bersalah, berharap gadis itu tidak marah padanya.

Hening. Tidak ada tanggapan. Den pun membiarkan metromini yang ditunggunya lewat begitu saja, bertekad tidak akan pulang sebelum kenalan barunya itu memaafkannya.

“Kamu kelewatan satu metromini lagi tuh,” akhirnya Dimi bersuara.

“Habisnya dari tadi kamu diem aja, aku kira kamu marah.”

Renyah tawa Dimi mengambang di udara, merayu Den untuk ikut tertawa.

“Kenapa ikut tertawa?” Dimi menghentikan tawanya tiba-tiba, membuat Den lagi-lagi merasa serba salah.

“Entah. Pingin aja.”

” Dasar cowok aneh!”

“Dasar cewek aneh!”

—=—

Den berlari kecil menuju halte bus di sudut jalan, tak sabar untuk bertemu Dimi. Dua minggu terakhir dia merasa betah berlama-lama duduk di halte bus itu, ditemani Dimi, tak pernah lagi dia habiskan waktu menunggu metromini dengan melamun.

“Den!! Pulang bareng ga?” Aldi, teman sekelas Den, memanggil Den dari atas motornya.

“Ga deh, gue naek metromini aja. Thanks tawarannya Di!” jawab Den tergesa-gesa, tidak ingin membuat Dimi terlalu lama menunggu.

Terlihat Dimi memainkan ikal rambutnya, menunggu Den. Kali ini rambutnya diurai lepas.

Begitu mendengar langkah kaki Den mendekat, Dimi menoleh, tersenyum menyambut Den. Den membalas senyumnya dan segera duduk di samping Dimi.

“Bawa makanan apa kamu sekarang?” Den melirik bungkusan di tangan Dimi.

“Bukan makanan, dan bukan buat kamu.”

Den berusaha merebut bungkusan itu, penasaran isinya. Dimi membiarkan, tak peduli.

“Whoaa, cantik!” mulut Den ternganga saat membuka gulungan kertas di tangannya, sebuah lukisan burung cendrawasih. Den tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada perpaduan warna lukisan tersebut.

“Kamu yang lukis Dim?”

Dimi mengangguk tanpa ekspresi.

“Buat siapa?”

“Sudah kubilang bukan buat kamu.”

“Ah, gitu aja marah,” Den mengerucutkan bibirnya, pura-pura ngambek.

“Aku ga marah, Den. Kenapa sih kamu selalu menganggap aku itu marah?” tanya Dimi.

“Habisnya kamu suka tiba-tiba diam dan masang muka jutek.”

Dimi tersenyum jahil, “Aku ga marah kok, tapi aku suka ngelihat tampang serba salahmu, makanya aku pasang muka jutek.”

 —=—

“Den!”

“Hem,” sahut Den sambil lalu, sibuk membalas sms dari temannya.

“Kamu nyadar ga sih kalau dari dulu aku hampir tiap hari ke sini? Jauh sebelum kita saling kenal.”

Den menatap heran pada Dimitri, “Ngga. Kenapa?”

“Aku nyadar. Makanya aku tahu kalau kamu biasa naik metromini 61.”

“Kamu pasti naksir aku ya? Makanya kamu perhatiin aku,” goda Den.

“Ngga. Aku perhatiin tiap orang yang datang ke halte ini kok, ga cuma kamu. Masalahnya kamu itu yang paling sering ketinggalan metromini gara-gara suka ngelamun, makanya aku inget.”

Muka Den memerah, malu karena ketahuan hobi melamun.

“Eh, Den! Kalau waktu itu kamu ga ketinggalan metromini, kalau waktu itu aku ga nyapa kamu duluan, kita bakal sering ngobrol kayak gini ga ya?”

Den terdiam, berusaha mencerna perkataan Dimi. Pikirannya setengah terbagi dengan tugas kelompok biologinya.

“Kayaknya ga bakalan deh, soalnya akunyadar ada kamu ya baru waktu itu.”

“Mungkin seharusnya aku ga nyapa kamu ya waktu itu,” ujar Dimi setengah berbisik.

Den menatap heran pada Dimi, tak mengerti. “Kenapa?”

“Ga papa. Bakal lebih mudah kalau kita ga saling kenal.”

Catatan Penulis: Entahlah, proyek satu dan dua saya masih terbengkalai tak terselesaikan, tiba-tiba memunculkan proyek tiga. Tadi tiba-tiba pingin nulis ini, sebuah episode pendek dari sebuah cerita yang belum tertebak lanjutannya. Saya sendiri yang nulis beneran belum tahu Episode duanya mau dibawa kemana. Malah kepikiran buat bikin tebak-tebakan, iseng-iseng ga berhadiah #plak.
Menurut anda, siapakah Dimitri sebenarnya??
a. Hantu
b. Agen Rahasia
c. Orang Gila
d. Pembunuh Bayaran
e. …………………………..
*Berharap ada yang lagi iseng mau berpartisipasi, karena sungguh saya ga tahu mau dibawa ke mana cerita ini*

Satu masalah telah berlalu

Pernah baca curhatan saya yang ini? Tentang saya yang stres menghadapi printer dotprint-nya kantor yang biasa saya pakai cetak LKP. Yup, sekarang printernya mau bekerja dengan normal, hasil cetakannya ga naik-naik sesuka hati lagi, sekarang bisa cetak banyak sekaligus *jogetpisang*..

Mau tahu penyebabnya?

Jadi, ternyata, selama ini, printernya error gara-gara ada serpihan kertas yang nyangkut, jadi menggulungnya tersendat-sendat dan tentu saja cetakannya jadi naik-naik terus.. Kemarin sudah dibersihin sama mas-mas senior, dan satu masalah telah berlalu. Sekarang saya bisa cetak laporan sore-sore tinggal pulang baru tengok selepas maghrib ~syalalalala

Kalau ada yang mengalami kejadian serupa, saran saya adalah: Bongkar printernya (pastikan anda bisa merakitnya lagi) –> bersihkan komponennya, pergunakan kuas agar hasilnya lebih memuaskan –> rakit lagi deh..

~dubidambidambidamdam