Semua ini hanya masalah kecil

Malam ini lagi-lagi menggalau, masih masalah yang sama dengan hari-hari sebelumnya: keputusan yang telah kami ambil bersama beberapa bulan yang lalu, yang akhir-akhir ini seringkali saya pertanyakan. Pemicunya masih hal yang sama dengan sebelum-sebelumnya, akan menikahnya seseorang yang saya kenal. Pernikahan menjadi masalah yang sangat sensitif buat saya sekarang.

Saya itu orang yang terlalu banyak berpikir, sekalinya otak saya menyinggung masalah pernikahan, saya jadi berpikir banyak tentang rencana saya, makin saya berpikir makin saya ragu dan tidak yakin pada diri sendiri, makin saya ragu makin saya ingin membicarakan hal ini, makin banyak saya bicara makin berat beban mental yang saya pikul. Lingkaran Setan!!

Tiap kali dapat undangan, saya selalu bertanya-tanya akan rencana saya sendiri, begitu banyak yang mesti dipersiapkan. Kadang saya ingin waktu berputar penuh satu putaran, tiba-tiba saja semua sudah siap dan saya sudah berstatus istri orang. Tapi tiap kali saya sadar bahwa jarum jam terus bergerak maju dan saya pun mulai mendekati hari keramat itu, otak saya berteriak, mempertanyakan keras-keras “Siapkah saya?”

Bertumpuk, membukit, menggunung. Jarak yang jauh membuat saya tidak mungkin duduk berhadapan dengan si om genit, berbicara dari hati ke hati seperti yang kami lakukan waktu saya masih di Jakarta. Kami bisa dibilang tidak pernah membahas tuntas masalah ini lagi. Perbedaan waktu, sinyal yang buruk, dan kesibukan masing-masing membuat kami lebih senang menunda membahasnya.

Apa yang membuat saya kembali ragu? Jarak! Betapa banyak hal yang saya takutkan dari jarak yang membentang ini, mengingat kemungkinan berjauhan pascamenikah sama besar dengan kemungkinan usulan mutasi ikut suami saya disetujui. Saya sendiri pun belum memutuskan apakah kelak akan langsung menyusul ke Jakarta atau menunggu panggilan tugas belajar setahun dua tahun lebih lama demi menghemat kesempatan saya mengajukan mutasi. Masing-masing pilihan sama-sama memberatkan.

Sampai akhirnya blogwalking saya bermuara ke blog Armitha. Kami berdua sama-sama alumnus STAN, satu angkatan, tapi tidak saling mengenal secara langsung. Namun saya kenal orang-orang yang mengenalnya, saya tahu cerita tentang dia, saya tahu ketika tak lama setelah Mitha menikah, suaminya harus bertugas ke TObelo.

Membaca tulisan Armitha, membuat saya malu akan diri sendiri.Betapa saya ini manja dan kekanakan

Mitha begitu sabar dan nrimo, begitu ikhlas. Sedangkan saya, begitu seringnya mengeluh ini itu. Membaca tulisannya, saya tersadar bahwa yang saya alami ini masih permulaan,, masih banyak tantangan yang menunggu untuk saya kalahkan di ujung sana.Sungguh saya merasa kekanakan, begitu seringnya saya mengeluh dan  menggerutu akan masalah yang tidak ada apa-apanya ini.

Terimakasih Mitha atas tulisannya yang menyadarkan, selamat atas kehamilannya dan semoga selalu diberi kesehatan.

Terima kasih om genit kangmas yang tidak pernah mengeluh saat saya mempertanyakan banyak hal.

Terimakasih Gusti Allah yang sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui cara yang tak terduga. Mengutip kata-kata Armitha:  Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah bila Engkau mudahkan.

Aah, hari ini saya bercerita terlalu banyak.. Tak apalah,, sekali-kali, siapa tahu bermanfaat buat orang-orang yang mengalami keraguan yang sama.

Masih beberapa purnama yang harus dilewati, semoga seiring waktu berjalan, langkah saya pun semakin mantap.

Iklan

11 pemikiran pada “Semua ini hanya masalah kecil

  1. kebetulan saya lagi ronda malam mba,,, hihihih

    ciee yg lagi galau.. hihih
    tenang mba, banyak berdoa aja pada yg kuasa..

    meskipun LDR-an, kalau kita serahkan padaNya insya Allah tetep akan baik2 aja. Saya pernah punya buku yg judulnya Long Distance Love, itu buku berisi cerita2 ttg orang2 yang menjalani hubungan jarak jauh. Sudah tau kali ya mba bukunya.. hehehe

    Nah gitu dong mba, panggilannya diganti kang mas aja, jangan om genit.. lebih maknyus kayanya.. hhihihih

    • pernah denger tapi belum baca bukunya…
      iya nih,,, masih belum terbiasa LDR, masih galau…
      di dunia nyata saya manggilnya emang kangmas kok,, cuma klo nulis di blog aja saya nyebutnya om genit.. hehehhe

  2. yg sabar mbak, psti ada jalan trbaek deh,
    klo calon is3q jg bsk resign dari t4 krjax & ngikut aq

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s