Tips Menyiapkan Hidangan Pembuka Selama Ramadhan

Hidangan Pembuka atau dalam bahasa gaulnya appetizer adalah sesuatu yang tidak lazim di Indonesia. Orang Indonesia biasanya  langsung menuju ke makanan utama, semua makanan langsung  tumplek bhleg menjadi satu di piring (meminjam istilah Pakdhe Cholik). Sebagai bangsa yang kaya akan masakan lezat, kita tidak perlu lagi hidangan pembuka, makanan utama yang terhidang di meja sudah dapat membangkitkan selera makan kita. Makan ya makan, pembukanya yang bacaan basmalah, penutupnya bacaan hamdalah.

Tapi ada satu bulan pengecualian di mana kita mau repot-repot dan bersusah-susah menyiapkan hidangan pembuka (atau yang biasanya kita yang spesial: Bulan Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan, yang kurang dari seminggu lagi akan menyapa kita, mampu membuat kita merubah kebiasaan. Kita yang biasanya langsung makan nasi tanpa basa-basi, saat berbuka puasa masih menyapa dulu kolak, setup, dan berbagai macam es. Bahkan ada makanan/minuman tertentu yang hadirnya memang hanya di bulan suci itu, di tempat saya sendiri ada yang namanya Bongko: campuran mutiara, nangka, agar-agar, roti tawar, tajin, yang disiram santan lalu dikukus. Bahkan masyarakat nonMuslim pun sering menggunakan momen ini untuk wisata kuliner.

sumber: kaahil.files.wordpress.com

sumber: kaahil.files.wordpress.com

sumber: duniadanie.wordpress.com

sumber: duniadanie.wordpress.com

Saya juga tidak tahu sejak kapan kolak dan sebangsanya ini resmi menjadi hidangan pembuka saat puasa, yang jelas sejak pertama kali belajar puasa saya makan ta’jil dulu baru selanjutnya makan nasi. Kalau menurut pemikiran saya sih, ta’jil ini diciptakan untuk memenuhi sunnah Nabi yang menganjurkan berbuka dengan makanan yang manis, tapi karena di Indonesia dulu sulit mendapatkan buah korma ya akhirnya digantikanlah dengan kolak, candil, bubur sumsum, es dawet, dsb. Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang.

Menyiapkan hidangan berbuka puasa itu  menghasilkan kesenangan sendiri lho, terutama bagi ibu-ibu. Waktu masa-masa SD-SMA, saya dan mama mencari resep berbagai kolak dan es yang akhirnya dirubah seperlunya dengan kreasi sendiri. Waktu kuliah di Bintaro, menjelang berbuka puasa, saya sibuk berburu ta’jil di warung jengkol, terkadang juga berkreasi sendiri di kosan. Benar-benar menyenangkan.

Tapi tampaknya ada beberapa kebiasaan berbuka yang kurang ideal secara medis.

Selain kolak, kita juga mengenal berbagai macam es untuk mengawali buka puasa: es cendol, es sarang burung, es puteri salju, es pisang hijau. Setelah seharian menahan dahaga, sangat menyegarkan tentunya membasuh kerongkongan kita dengan minuman dingin. Tapi ternyata kebiasaan ini kurang baik kawan.
Perut kosong + Minuman dingin= meningkatnya asam lambung=perut kembung

Adakah di antara kawan sekalian yang suka minuman bersoda? Saking sukanya, berbuka puasa pun dengan minuman bersoda. Sebaiknya dihindari untuk yang satu ini. Anda bisa sakit perut. Bayangkan saja lambung anda yang tidak terisi makanan seharian, tiba-tiba disiram dengan soda. *bergidik*

Makan makanan yang mengandung banyak serat dan minumlah yang banyak, tentunya selepas maghrib hingga sebelum subuh :D. Saat berpuasa, tentu saja kita mengkonsumsi sedikit cairan, ini berpengaruh pada sistem eksresi kita atau dalam bahasa gampangnya bisa menyebabkan sembelit. Oleh karena itu kita sangat butuh makanan berserat. Nah, coba tengok makanan buka puasa kita? Lebih banyak karbohidratnya daripada serat. Jadi sebaiknya sediakan juga buah-buahan untuk mengiringi buka puasa anda.

Berbuka puasalah secara bertahap! Kebiasaan kita berbuka sampai perut penuh barulah sholat. Tentu saja sholatnya jadi berkurang kekhusyukannya gara-gara kekenyangan. Secara medis, berbuka secara terburu-buru akan membuat lambung kita kaget. Kebiasaan ini juga sedang berusaha saya hilangkan nih. Memang sih kita di sunnahkan menyegerakan berbuka, tapi bukan berarti langsung makan besar. Nabi saja mencontohkan berbuka dengan tiga butir kurma lalu sholat maghrib lho.

Hindari menumpuk makanan untuk berbuka. Nah kalau ini saran saya sendiri nih. Pas puasa, lihat makanan enak dikit kita pasti langsung lapar mata nih, akhirnya ditumpuk buat berbuka. Dikumpulin, dan terus dikumpulin sampai selepas adzan maghrib berkumandang ada dua kemungkinannya: makanannya ga habis dan malah mubadzir; atau sakit perut gara-gara kekenyangan. Lebih baik kita siapkan makanan buka puasa secukupnya saja, ga usah banyak-banyak. Justru esensi puasa itu adalah kesederhanaannya kan?

Begitulah saran dari saya, saya merujuk ke web ini untuk info kesehatannya. Semoga bermanfaat. Selamat menyambut bulan penuh berkah ini bagi yang merayakan!

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan Kuis Aduk yang diselenggarakan Pakdhe

Masihkah??

Old couple serenade

Sayangku, Masihkah kau akan mencintaiku saat kerutan zaman telah menghias wajahku? Masihkah kau akan membelaiku mesra bila sang waktu telah mewarnai mahkotaku? Kau tahu? Aku selalu ingin tampak cantik di matamu, ingin selalu terlihat indah saat kau memandangku. Tapi Kasihku, aku tidak bisa melawan usia, aku tidak bisa mengalahkan waktu. Akan tiba masa di mana tubuhku mengerut dan rambutku memutih, Masihkah kau akan di sampingku saat itu terjadi?

Baubau, 25 Juli 2011, di sela-sela jam kantor

Kemarin iseng-iseng ngumpulin gambar-gambar pasangan kakek-nenek lewat mbah google, terus berhubung hari ini lagi sepi kerjaan saya kolase deh tuh foto-foto. Aah, so sweet banget ga sih ngelihat usia tidak mampu mengalahkan cinta mereka? #eaaa.. Walau udah ga muda lagi, mereka tetap terlihat mesra, romantis… Huaaaa, ngiri. Akankah kita kelak jadi seperti mereka? Let’s pray for it!

Menurut saya nih ya, ngelihat kakek-nenek yang gandengan tangan itu berpuluh-puluh kali lebih romantis daripada ngelihat pasangan muda-mudi yang peluk-pelukan saling tempel kayak prangko. Kalau ngelihat ABG di mall lagi gandengan tangan, kalau ga biasa aja ya lebay banget. Tapi kalau aki-nini yang gandengan tangan, kok kesannya bisa so sweet banget gitu ya? Pernah tuh ya saya lagi makan sama chachu di Solaria Atrium Senen, waktu itu lagi foya-foya habis rapelan (eh, sya udah pernah cerita ini belum?). Di sebelah kami itu, ada sepasang oma-opa yang lagi makan berdua, dan mereka itu ngobrolnya mesra gitu. So sweet banget deh pokoknya. Saya sendiri jarang loh menemukan old couple yang ngedate berdua kayak gitu di Indonesia. Soalnya setahu saya, kalau udah berumur nih ya, mereka lebih sering keluar rame-rame sama keluarga besar. Terus begitu beliau-beliau selesai makan, si Opa kan udah pake tongkat nih ye, tapi tetep aje gandengan sama si Oma, mesra gitu deh. Sayang waktu itu hape saya belum ada jepretannya, jadi ga bisa mengabadikan momen unyu itu… :p

Saya jadi kepikiran, kira-kira nanti kalau udah jadi nenek-nenek, saya bisa so sweet kayak gitu ga ya? Bakalan tetap mesra kayak gitu ga ya? Kalau sekarang sih, saya berencana ada momen tertentu saat saya dan suami keluar berdua aja, ga perlu diikutin anak-cucu yang bawel-bawel. Selama kaki kuat melangkah dan ingat jalan pulang, Ga ada yang namanya too old to date with Mr. Hubby.. Itu sih rencana saya, moga aja emang bisa terealisasi, lha ini suami aja belum punya.. hehehe

Harapan saya, err mungkin kita semua kali ya.. Kita menikah cukup sekali dan bakal selalu setia sama pasangan. Dan ga cuma setia cuma buat mempertahankan pernikahan, atau demi anak-cucu, tapi karena emang sampai kapan pun kita tetap saling mencintai (karena Allah) sama pasangan kita. Amiiiin.. Hmmm, mungkin bukan saling mencintai nantinya, tapi saling menyayangi. Kan katanya cinta itu buat 10 tahun pertama, selebihnya bakal berubah jadi rasa sayang (entah sumbernya darimana, dengan perubahan seperlunya :D). Dan menurut saya, rasa sayang itu lebih tulus daripada cinta, lebih tinggi tingkatannya. Rasa sayang itu lebih ikhlas dan menerima apa adanya. Seperti rasa sayang ibu, ayah, kakak, dan adik kepada kita. Rasa sayang seorang sahabat pada kita. Rasa sayang itu (menurut saya) tanpa pamrih, kalau rasa cinta cenderung menuntut buat balas dicintai.

Bisakah saya dan suami saya kelak mengalahkan waktu? Semoga 50 tahun lagi saya bisa menjawabnya dengan cerita manis perjalanan kami..

It’ never too old to love each other!

No More Galau in here!

Dua minggu terakhir ini postingan di Dunia Pagi dikuasai tulisan-tulisan galau tingkat tinggi, yah maklumlah, saya lagi kena sindrom LDR+CPL stadium 4. Maaf buat teman-teman yang udah jauh-jauh berkunjung ke dunia pagi malah nemuinnya curhatan-curhatan pegawai labil macam saya,, :malu.. Setelah saya baca-baca lagi tuh postingan-postingan galau, saya jadi malu sendiri, udah tahu hari keramat itu masih lama udah mulai galau jauh-jauh hari. Jadi setelah kemarin menggalau sendirian di rumah dinas, akhirnya saya putuskan bikin blog lagi di wordpress khusus untuk catatan kegalauan tingkat tinggi saya. Saat ini blognya masih saya rahasiakan; saya sembunyikan dari mesin pencari; dan saya lindungi dengan password yang hanya saya, om genit, dan Tuhan yang tahu.. Hehehe, komplit kan?

Jadi mulai hari ini, InsyaAllah ga ada lagi kegalauan tingkat tinggi di Dunia pagi, soalnya catatan galaunya udah pindah rumah. Yah, mungkin masih ada puisi-puisi galau atau postingan sok-sokan romantis, tapi tidak ada tulisan-tulisan tentang hari keramat yang masih jauh itu, hohoho..

Blog sebelah untuk saat ini emang cuma jadi catatan dan sarana komunikasi saya dengan om genit, tapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat bakal saya publish ke khalayak umum, nanti kalau semua yang tertulis di sana benar-benar sudah bisa direalisasikan. #letsprayforit

Jadi mari kita isi Dunia Pagi dengan Semangat Pagi yang membara!! No more Galau dan mendung di dalamnya!!

Galau??? Hush! Hush!

No more Galau!

No more Galau!

Pending..(lagi)

Selalu begini, tiap kali sampai ke inti permasalahan; tiap kali saya akhirnya menemukan kata-kata yang tepat; tiap kali saya berhasil bicara to the point tanpa perlu belibet lari muterin GBK dulu, pembicaraan terpotong.

Sebelum sempat membahasnya tuntas; sebelum menemukan jawaban yang tepat; sebelum musyawarah berhasil mencapai mufakat,  lagi-lagi masalah ini masuk kotak “Kapan-kapan dibahas lagi!”

Padahal sulit kali bagi saya menumpahkan isi otak saya; sukar sekali menuliskan beban pikiran saya; tidak gampang bagi saya menjelaskan kemauan saya terus terang, komunikasi terputus.

Aaah, sepertinya malam ini saya tidak bisa tidur lagi, saya memang terlalu banyak berpikir, sangat bertolak belakang dengan yang di ujung sana.

Entahlah, kenapa saya jadi serapuh ini? Pelan-pelan melupakan cara bercerita; pelan-pelan lebih menyukai bergelung melawan bayangan diri sendiri di sudut kamar; kehilangan mimpi-mimpi.

Saya jadi membenci malam: malam saat tidak ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan; tidak ada orang-orang untuk diajak bicara; saat semuanya tertidur, termasuk kucing liar di depan rumah. Akhir-akhir ini saya sering merasa sendirian, kesepian, ditinggalkan.

Sabar Sayang! Cuma perlu bersabar sedikit lebih lama lagi kok. Semuanya pasti berhasil diselesaikan tepat waktu, semuanya pasti berjalan dengan sempurna… 😀
Kapan-kapan, saat waktunya tiba.
*menyemangati diri sendiri*

Semua ini hanya masalah kecil

Malam ini lagi-lagi menggalau, masih masalah yang sama dengan hari-hari sebelumnya: keputusan yang telah kami ambil bersama beberapa bulan yang lalu, yang akhir-akhir ini seringkali saya pertanyakan. Pemicunya masih hal yang sama dengan sebelum-sebelumnya, akan menikahnya seseorang yang saya kenal. Pernikahan menjadi masalah yang sangat sensitif buat saya sekarang.

Saya itu orang yang terlalu banyak berpikir, sekalinya otak saya menyinggung masalah pernikahan, saya jadi berpikir banyak tentang rencana saya, makin saya berpikir makin saya ragu dan tidak yakin pada diri sendiri, makin saya ragu makin saya ingin membicarakan hal ini, makin banyak saya bicara makin berat beban mental yang saya pikul. Lingkaran Setan!!

Tiap kali dapat undangan, saya selalu bertanya-tanya akan rencana saya sendiri, begitu banyak yang mesti dipersiapkan. Kadang saya ingin waktu berputar penuh satu putaran, tiba-tiba saja semua sudah siap dan saya sudah berstatus istri orang. Tapi tiap kali saya sadar bahwa jarum jam terus bergerak maju dan saya pun mulai mendekati hari keramat itu, otak saya berteriak, mempertanyakan keras-keras “Siapkah saya?”

Bertumpuk, membukit, menggunung. Jarak yang jauh membuat saya tidak mungkin duduk berhadapan dengan si om genit, berbicara dari hati ke hati seperti yang kami lakukan waktu saya masih di Jakarta. Kami bisa dibilang tidak pernah membahas tuntas masalah ini lagi. Perbedaan waktu, sinyal yang buruk, dan kesibukan masing-masing membuat kami lebih senang menunda membahasnya.

Apa yang membuat saya kembali ragu? Jarak! Betapa banyak hal yang saya takutkan dari jarak yang membentang ini, mengingat kemungkinan berjauhan pascamenikah sama besar dengan kemungkinan usulan mutasi ikut suami saya disetujui. Saya sendiri pun belum memutuskan apakah kelak akan langsung menyusul ke Jakarta atau menunggu panggilan tugas belajar setahun dua tahun lebih lama demi menghemat kesempatan saya mengajukan mutasi. Masing-masing pilihan sama-sama memberatkan.

Sampai akhirnya blogwalking saya bermuara ke blog Armitha. Kami berdua sama-sama alumnus STAN, satu angkatan, tapi tidak saling mengenal secara langsung. Namun saya kenal orang-orang yang mengenalnya, saya tahu cerita tentang dia, saya tahu ketika tak lama setelah Mitha menikah, suaminya harus bertugas ke TObelo.

Membaca tulisan Armitha, membuat saya malu akan diri sendiri.Betapa saya ini manja dan kekanakan

Mitha begitu sabar dan nrimo, begitu ikhlas. Sedangkan saya, begitu seringnya mengeluh ini itu. Membaca tulisannya, saya tersadar bahwa yang saya alami ini masih permulaan,, masih banyak tantangan yang menunggu untuk saya kalahkan di ujung sana.Sungguh saya merasa kekanakan, begitu seringnya saya mengeluh dan  menggerutu akan masalah yang tidak ada apa-apanya ini.

Terimakasih Mitha atas tulisannya yang menyadarkan, selamat atas kehamilannya dan semoga selalu diberi kesehatan.

Terima kasih om genit kangmas yang tidak pernah mengeluh saat saya mempertanyakan banyak hal.

Terimakasih Gusti Allah yang sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui cara yang tak terduga. Mengutip kata-kata Armitha:  Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah bila Engkau mudahkan.

Aah, hari ini saya bercerita terlalu banyak.. Tak apalah,, sekali-kali, siapa tahu bermanfaat buat orang-orang yang mengalami keraguan yang sama.

Masih beberapa purnama yang harus dilewati, semoga seiring waktu berjalan, langkah saya pun semakin mantap.