Angka-Angka itu Selalu Memenuhi Hidup Kita

0-9

Tulisan ini dibuat dalam rangka untuk berpartisipasi di kuis reboan: Askat “Acara Satu Kata” yang diselenggarakan atas ide Pak Dhe. Yuk ikutan rame-rame biar makin seru aja acaranya nih ๐Ÿ˜€

Sadar atau tidak, hidup manusia selalu dipenuhi dengan angka, bilangan-bilangan numerik yang mewakili suatu jumlah atau ukuran tertentu. Sedari kecil kita telah dibiasakan untuk menilai dan mengukur sesuatu berdasarkan angka pasti. Nilai rapor, harga barang, ukuran baju, semuanya mengandung unsur-unsur numerik, seolah-olah semua itu dapat mewakili dan melambangkan kehidupan kita secara keseluruhan.

Secara tidak sadar kita akhirnya menjadi naif dan menjadikan angka sebagai patokan penilaian kita terhadap seseorang. Sejak sekolah dasar telah ditekankan pada kita bahwa anak yang paling pintar adalah mereka yang nilai rapornya paling bagus dan berhasil meraih ranking satu. Padahal menurut saya, nilai rapor, indeks prestasi, nilai IQ tidak bisa menjadi tolak ukur akan kecerdasan manusia. Kemampuan otak manusia tidak terbatas dan tak terukur, angka-angka tersebut hanyalah hasil rekaan manusia yang selalu merasa perlu untuk mengukur segala sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering meng-judge orang hanya dari tampilan luarnya. Berapa banyak dari kita yang menilai kecantikan seorang dari ukuran pinggangnya, ukuran celananya, ukuran bajunya, seolah-olah ukuran standar tubuh proporsional yang diciptakan para ahli mode itu benar-benar mewakili kecantikan seseorang. Usia seseorang kita jadikan tolak ukur kebijaksanaannya. Harga barang yang dapat dibeli seseorang kita jadikan tolak ukur kemakmurannya. Jumlah teman dan kolega seseorang kita jadikan tolak ukur kesuksesannya. Penilaian kita terhadap seseorang hanya didasarkan pada angka-angka statistik. Nilai seseorang hanya kita hargai dengan bilangan-bilangan fana.

Memang benar hidup kita tidak bisa dipisahkan dari angka. Tanpa angkaย kita akan kesulitan untuk mengukur, menghitung dan mengurutkan sesuatu. Jika orang romawi kuno tidak menemukan angka dan sistem penghitungan, tidak dapat kita bayangkan betapa ribetnya hidup kita.ย Jam dinding, kalender, buku teks, spanduk di pinggir jalan, setiap hari kita akan selalu bertemu dengan angka dan nomor-nomor, tapi bukan berarti semua itu dapat menjadikan kita ย bergantung padanya. Angka hanyalah alat untuk mempermudah hidup kita, bukan menentukan hidup kita.

Iklan

20 pemikiran pada “Angka-Angka itu Selalu Memenuhi Hidup Kita

    • Hidup saya dipenuhi angka-angka.. saya kan kuliahnya di akuntansi.. kerjanya juga ngurusin duit ma laporan keuangan..
      kalau dah lagi puyeng2nya tuh, jadi kaya sekeliling syaa ada angka-angka berterbangan
      tapi saya suka sih maen sama angka,, hehhee

    • iya,,, benar sekali itu.,.. yang seru itu justru dengan lomba ini kita jadi lebih dekat dengan sesama blogger dan lebih sering apdet postingan…
      ๐Ÿ˜€

  1. kalau mengharap hadiah malah tambah bingung mikiran angka
    tapi kalau sekedar memeriahkan bisa tambah sahabat ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

    salam kenal kayaknya di kunjungan pertama dari pamekasan madura

    • iya… yang penting itu hepi, urusan hadiah itu mah bonus, klo rezeki ya ga kemana
      salam kenal juga., wah, saya juga orang madura lho, tapi madura jember

  2. sama mbak, saya juga bagian akunting & finance…setiap hari ngitungin uang tp uangnya orang hehehe…kalo bikin laporan keuangan ada yang ngga balance….pusing dech liat angka-angka….tapi kalo lihat uang ngga pernah pusing hihihi….

    • bener,.. saya juga gitu..
      klo ujian laporan keuangannya g balance bingung setengah mati
      di kampus saya sampe ada pepatah
      “balance itu belum tentu benar, tapi tidak balance itu pasti salah”

    • wah saya juga ga tahu mas.. sejarah sih banyak yang nyebut2 kaum romawi kuno yang mulai menuliskan angka
      tapi saya berpendapat jauh sebelum itu manusia sudah mengenal angka..
      Yang jelas semua ilmu itu datangnya dari Allah,, termasuk angka-angka menurut saya

  3. Saya sudah membaca artikel sahabat
    Dan sudah langsung saya catat
    Terima kasih atas partisipasi anda yang hebat
    Dari Surabaya saya kirim salam hangat

  4. sebenarnya dalam urusan pengukuran kita pakai bilangan bukan angka, karena angka cuma simbol lalu bilangan itu yang punya kuantitasnya.. Cuma meluruskan

    • iya,, memang begitu.. cuma lama-kelamaan manusia salah kaprah kan,, menjadikan angka2 sebagai tolak ukur utama…
      terimakasih sarannya ๐Ÿ˜€

  5. Tapi.. ada sebagian orang yang berusaha untuk menyembunyikan angka yang dimilikinya, yakni yang dinamakan sebagai “umur”, hehehe… ๐Ÿ˜€

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s