Aku melihat bidadari

sumber: secretayaitzu.blogspot.com

Aku tak pernah percaya pada makhluk-makhluk halus yang tak kasat mata. Pocong, genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul, bagiku mereka hanyalah hasil rekaan otak manusia belaka, begitu juga bidadari. Menurutku bidadari itu hanya dongeng, tidak nyata. Adakah yang pernah melihat bidadari? Tentu saja tidak ada, palingan juga yang mereka sebut-sebut bidadari itu hanya manusia biasa dengan kecantikan di atas rata-rata.

Bidadari hanya hidup dalam khayalan para lelaki tak beristri di malam yang sunyi. Bidadari hanya hidup dalam dongeng-dongeng pengantar tidur dan buku-buku ilustrasi. Bidadari hanya hidup dalam rayuan pria-pria gombal yang berusaha menarik hati wanita pujaannya. BIDADARI ITU TIDAK ADA!

Menurut keyakinanku, makhluk ciptaan Tuhan itu hanyalah manusia, tumbuhan, dan hewan. Tidak ada yang gaib. Kalau mereka benar-benar ada, harusnya buku-buku ilmu alam yang beredar segera direvisi.

Bidadari itu tidak nyata, sama halnya dengan setan-setan di film horror itu.

Bidadari itu hanya makhluk khayal.

Bidadari itu…

“Ada apa? Kau terlihat kebingungan.”

Suara itu mengalun lembut di telingaku. Merdu. Mau tak mau aku menoleh pada gadis di sampingku, gadis yang sejak tadi mengusik pikiranku. Kulihat dia tersenyum padaku, membuat hatiku semakin keras membantah logika.

“Apa yang kaupikirkan?” dia kembali bertanya. Masih dengan suara riang yang mengacak isi katiku.

Aku berusaha menatap wajahnya, wajah yang telah menggoyahkan keyakinan yang kupegang selama ini. Disibakkannya ikal rambut yang ditiupkan angin, gadis itu memandangku dengan lembut, menanti jawabanku.

“Apa.. Apa kau bidadari?” akhirnya bibirku berhasil mengucapkan suara. Aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan yang selama lima belas menit terakhir menari-nari di pikiranku.

Gadis itu tertawa renyah, membuat auranya semakin terpancar, meradiasiku dengan perasaan yang tak kukenal. Hujan yang mempertemukan kami di halte bus ini mulai memudar menjadi rinai-rinai kecil.

“Kau pikir begitu?” dia balik bertanya padaku, alis kanannya sedikit terangkat. Mata rusanya menatap jauh ke dalam mataku, menimbang-nimbang apakah aku hanya menggodanya atau tidak.

Kutundukkan kepalaku tiba-tiba, mengalihkan pandangan dari kedua mata rusanya.

Bidadari itu hanya makhluk khayal.

Bidadari itu tidak ada.

Gadis ini hanyalah manusia biasa, bukan bidadari.

Bidadari itu…

Cercah matahari menerobos sela-sela dedaunan, mengejutkanku dengan kehangatan yang tiba-tiba. Refleks aku tengadah ke langit,  mendung yang gelap tadi telah menghilang. Hujan telah reda. Aku menoleh ke gadis di  sampingku. Akankah dia pergi?

Kulihat dia masih menatapku lekat, senyumnya masih terkembang. Mata rusanya mengisyaratkan bahwa dia masih menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan tenaga untuk melafalkan jawaban.

“Aku tidak percaya akan bidadari. Sama halnya dengan makhluk-makhluk halus yang menjadi tokoh utama film-film horror, bidadari hanyalah rekaan manusia,” aku menjawab terbata. Ragu-ragu aku menatap gadis di sebelahku, takut kalau dia menganggapku orang gila setelah mendengar ocehanku.

“Kalau kau tidak percaya, kenapa kau bertanya apakah aku seorang bidadari?”

“Karena.. karena kau berbeda. Ada sesuatu dalam dirimu yang menarikku, menghipnotisku, membuat otakku berteriak bahwa kau bukanlah manusia biasa. Wujudmu memang hanyalah gadis biasa, tapi ada sesuatu dalam dirimu yang berbeda. Aaah, aku tidak bisa menjelaskannya.”

Aku menunduk frustasi. Gadis ini pasti menganggapku gila. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba beranggapan bahwa dia adalah seorang bidadari. Semuanya di luar kendali, seperti ada yang membisiki hatiku bahwa gadis itu adalah bidadari.

Kuberanikan diri menatap gadis itu lagi. Aku harus memastikan. Sepintas dia terlihat seperti gadis biasa. Kuamati dia lekat-lekat. Mata rusa, hidung bangir, bibir semerah delima yang merekahkan senyum, kuning langsat, ujung-ujung rambut  ikal keemasan saat tertimpa cahaya matahari.

Dia memang sangat cantik, tapi tetap saja di manusia biasa. Tidak ada yang berbeda darinya.

“Hujan sudah reda, aku harus segera pulang.”

Gadis itu berdiri, merapikan bagian belakang short dress tanpa lengannya. Terlihat noda karat mengotori gaun putihnya itu. Sekejap dia terlihat kesal begitu menyadarinya, tapi kemudian senyumnya kembali mekar.

“Terkadang ada beberapa hal yang harus kita yakini keberadaannya walaupun ia tak kasat mata. Tak terlihat bukan berarti tak ada.”

Aku menatap gadis itu penasaran, berusaha mencerna kata-katanya. Gadis itu hanya tersenyum padaku, pamit. Lalu dia pun berlalu meninggalkanku dengan ribuan pertanyaan di otakku.

Aku masih sibuk menerka maksud perkataan gadis itu tadi. Tak terlihat bukan berarti tak ada. Angin menghembuskan nafasnya ke tengkukku.

Aku tak dapat melihat angin, tapi aku merasakan keberadaanya.

Angin semakin kencang meniup debu-debu. Daun-daun kering berterbangan ke arah matahari terbenam. Kupungut benda berkilau yang ditiupkan angin ke ujung sepatuku.

Sehelai bulu seputih awan pagi terjatuh dari genggamanku. Tubuhku seperti habis tersengat listrik.

Aku baru saja melihat bidadari.

Iklan

36 pemikiran pada “Aku melihat bidadari

  1. Hmmm….
    Kalau bidadari, nonton film sih senang2 saja… pengeeeeen gitu bertemu.
    Tapi kalau asli, ya gak mau. Karena itu pasti jelas, hantu :D.

    Suka

  2. bagus sekali..
    alurnya memikat..
    endingnya juga ciamik..
    dan pesannya juga sampai..
    mbak amela ini masih muda..
    tapi punya tulisan “bermutu’
    ditunggu tulisan selanjutnya..

    – salam sahabat, Uda..

    Suka

  3. aku termasuk orang yang percaya kalau makhluk halus itu ada, hehe… iya, dia ada seperti angin yang nggak keliatan. dia juga ghaib, sama seperti keberadaan surga dan neraka.

    tapi, kalau yang namanya hantu, pocong, kuntilanak, genderuwo, vampir, tuyul, bidadari, peri… aku nggak mau percaya karena emang semua itu rekaan imajinasi manusia.

    tulisannya keren, mba.

    Suka

    • iya.. sebagai makhluk kita juga harus percaya akan hal-hal ghaib..
      tapi sayangnya sebagian orang menuhankan yang ghaib itu…

      kalau hantu-hantuan saya juga percaya,, itu emang imajinasi..
      tapi kalau bidadari saya percaya, tertulis di kitab suci soalnya..
      bidadari-bidadari surga bermata jeli..
      adanya ya di surga tapi..
      hehehehhehe
      kalau ada yang ketemu di dunia, saya ga tahu deh..

      Suka

  4. Keren, plot yang simple dan mengena 😉

    Out of topic, katanya skor paling tinggi untuk kecantikan wanita di dunia adalah 8.
    Sedangkan bidadari skornya 9.
    Dan yang 10 adalah istri yang disandingkan untuk suaminya di surga.

    Jadi bukan istri menjadi bidadari, tapi justru lebih dari itu.

    Eh, malah ngelantur. Monggo dilanjut.

    Suka

  5. pinter mbikin cerita ya Mbak.. sukses ya 🙂

    kalo Oyen cuman atu orang yang pernah manggil bidadari, suami…xixixixi 😛

    Suka

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s