Janganlah merasa puas!

Sering kita dengar bahwa sudah fitrah manusia menjadi makhluk yang tidak pernah merasa puas, selalu merasa kurang dalam hidupnya. Ketidakpuasan seringkali kita identikkan dengan sikap tamak, rakus, dan serakah, sehingga kita pun akhirnya beranggapan bahwa rasa tidak puas sebagai suatu dosa. Manusia yang tidak pernah merasa puas sama dengan manusia yang tidak pernah bersyukur. Benarkah?

Menurut saya tidak begitu.Rasa syukur tidak bisa diidentikkan dengan rasa puas, dua hal itu jelas berbeda. Syukur adalah bentuk rasa terima kasih dan pengakuan kita atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT, sedangkan puas adalah suatu perasaan senang, lega, gembira, kenyang, dsb karena sudah terpenuhi hasrat hatinya. Bersyukur pada Allah SWT bukan berarti kita harus berpuas diri ataupun merasa cukup sampai di situ saja.

Manusia memang diperintahkan untuk selalu bersyukur, sudah tertulis jelas dalam Al Quran. Oksigen yang kita hirup, organ-organ tubuh yang bergerak seirama menyokong kehidupan kita, rumah tempat kita bernaung, makanan yang terhidang di meja, bahkan seberkas cahaya pun adalah rahmat dari Sang Khalik. Segala yang melekat dalam kehidupan kita wajib kita syukuri tanpa terkecuali.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152)

“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur“. (Az-Zumar: 66)

Kita memang wajib mensyukuri nikmat Allah, tapi bukan berarti kita harus merasa puas. Justru kita harus selalu merasa kurang dan menginginkan lebih. Kita tidak boleh berhenti di satu titik dan merasa puas berada di situ. Jika kita cepat berpuas diri maka kita tidak akan menjadi pribadi yang lebih baik ataupun mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita miliki sekarang. Rasa puas mendatangkan rasa nyaman yang berlebihan sehingga kita malas untuk berusaha meraih hal-hal yang lebih baik. Bertentangan dengan kewajiban kita untuk selalu berusaha

Perasaan tidak puas justru harus kita kembangkan dalam diri kita agar kita terus berusaha untuk meraih kebaikan. Kita tidak boleh puas akan ilmu yang kita miliki, kita harus terus belajar dan belajar. Kita tidak boleh puas akan kebaikan-kebaikan pada diri kita, justru kita harus selalu memperbaiki diri tiap harinya. Bahkan dalam hal-hal yang bersifat duniawi pun kita janganlah merasa puas, karena kepuasan hanya membuat kita merasa malas untuk berusaha lebih keras demi mendapat hal-hal yang lebih baik.

Masalahnya adalah, seringkali rasa tidak puas yang harusnya dijaga untuk menjadi pemacu semangat justru tak terkendali hingga menjadi sifat-sifat yang merusak. Iri, dengki, tamak, rakus, serakah, semua sifat itu muncul karena kita tidak dapat mengendalikan diri akan perasaan tidak puas yang ada di hati kita. Bukannya mengambil energi positif dari perasaan tidak puas agar kita lebih giat dalam berikhtiar, kita justru dibutakan olehnya.

Lalu bagaimana caranya agar kita tidak dibutakan perasaan tidak puas?

Caranya adalah dengan selalu bersyukur  dan mengingat Allah.

Ketidakpuasan berubah menjadi dengki dan iri hati karena kita lupa bersyukur. Saat melihat atau mengetahui kelebihan orang lain, kita malah mengeluh dan menganggap Allah tidak adil, melupakan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sebaliknya jika kita selalu mensyukuri segala nikmat-Nya, kita justru dapat menjadikan perasaan tidak puas sebagai pemacu bagi kita untuk berlomba-lomba meraih kebaikan. Tidak mau kalah dari orang lain dalam meraih cinta dan ridha Allah.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Ketidakpuasan berubah menjadi sifat tamak, rakus, dan serakah jika kita melupakan Allah. Kita akan dibutakan oleh hal-hal duniawi jika kita melupakan bahwa segala yang bertebaran di muka bumi adalah milik Allah, kita malah akan sibuk mengumpulkan kenikmatan dunia bagi diri kita sendiri, bukannya untuk menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya jika diri kita selalu meyakini akan kekuasaan Allah, kita justru dapat menjadikan perasaan tidak puas sebagai pemacu bagi kita untuk lebih keras berusaha memperbaiki diri. Memanfaatkan rizki dan kedudukan yang diberikan Allah SWT untuk melakukan perubahan menuju arah kebaikan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” . (Ar-Ra’du: 11)

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Al-Jumu’ah: 10)

Jangan pernah merasa puas dengan keadaan kita sekarang, kita harus terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikanlah perasaan tidak puas itu sebagai alasan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup kita, bukan malah dibutakan olehnya.

2 pemikiran pada “Janganlah merasa puas!

  1. dapat artikel menggugah lagi dari sini. perasaan tak puas memang selalu diidentikan dengan sifat serakah. itu tergantung niatnya ya… merasa tak puas karena belum sempurna ibadahnya, bukan berarti dia tamak, kan? hehe…

    • menurut saya sih juga kayak gitu mas..
      justru kalau urusan ibadah kita ga boleh cepet puas, kalau keburu puas nanti ga ada peningkatan kualitas..

      yuk kita berlomba-lomba dalam kebaikan😀

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s