PENTUNG 2011

08 Mei 2011, 14.12

Baru aja pulang habis nonton Pentas Tunggal (PENTUNG) 2012-nya Teater Alir. Yah, seperti yang lalu-lalu masih saja ngaret dan grusa-grusu, tapi sebagai alumni yang waktu kuliah sempat ikut mengalir (walaupun di tahun terakhir sering kabur) saya bangga dengan mereka. Sangat terlihat bahwa Teater Alir telah berkembang pesat dan saya harap masih akan terus tumbuh dan tumbuh.

Biasanya saya suka melontarkan komentar-komentar pedas sehabis menonton sesuatu, bisa dibilang saya terlalu kritis. Berhubung kali ini adalah pertunjukan dari saudara sendiri, jadi saya akan mencoba menjadi kritikus baik hati yang senang memuji. Kurang lebih beginilah pendapat saya atas PENTUNG 2011:

Pertama, masalah ngaret dan persiapan yang grusa-grusu.
Saya tahu gimana susahnya nyiapin suatu acara, dulu saya juga sering mengalami.Kayaknya emang hampir ga ada acara di STAN yang on time mulainya. Saya juga memaklumi kalau setting dan persiapan panitia belum maksimal. Wajar mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dan properti. Tapi bukan berarti harus selamanya begitu. Semoga di pentas-pentas selanjutnya Alir bisa lebih prepare. Paling tidak saat penonton sudah mulai berdatangan, panitia udah ga grusa-grusu nyiapin properti dan lain-lainnya. Selain terkesan tidak siap (atau memang tidak siap) juga mengganggu penonton, penontonnya jadi ga surprise lagi.

Kedua, masalah setting dan pencahayaan.
Settingnya bagus, mewakili cerita lah, dan jelas lebih modal dari pentas tunggal jaman saya dulu. Saya suka setting buat drama “perjalanan cinta”nya, simpel tapi kena. Sebenarnya bakalan lebih keren kalau pembatas ruangnya pake sekat ruangan beneran, tapi gabus juga ga papa, ide cerdik untuk mengatasi keterbatasan. Walau saya sempat ketar-ketir waktu si wisnu hampir kerubuhan ‘tembok’, takut tokoh utamanya mati sebelum waktunya, hehehehe. Sayangnya pas drama komedi settingnya polosan, kosong. Padahal saya masih inget di PENTUNG 2010 yang tema ceritanya juga hantu-hantuan, settingnya niat banget sampe ada pohon beringin-pohon beringinannya. Masalah pencahayaan., jelas lah ini kemajuan yang paling pesat. Dulu pas PENTUNG jaman saya, ga ada anggota alir yang terlatih jadi tukang lampu, jadinya pentasnya gelap-gelapan ga jelas gitu, lampunya cuma mati hidup sekenanya.

Ketiga, masalah penonton dan fasilitas.
Yah, sedikit sebel juga karena selama PENTUNG banyak penonton yang ngobrol sendiri, jadi ga bisa fokus ma adik-adik teman-teman yang lagi mentas di depan. Juga sempet terganggu sama orang yang keluar masuk selama pertunjukan, merusak tata cahaya dan mengalihkan perhatian. Berisik. Tapi memang ga bisa disalahin sih, mereka bukan penikmat teater professional, jadi ga tahu tata cara nonton yang benar. Termasuk orang di sebelah saya (baca: pacar saya) yang tidur hampir selama pertunjukan berlangsung. Saya minta maaf ya. Dia tidur bukan karena pertunjukannya membosankan, tapi emang dasarnya si om genit ga ngerti dunia perteateran dan semalam udah kurang tidur gara-gara keasikan ngegame. Masalah fasilitas, saya selalu suka sama ide snack popcorn, dan popcorn kali ini asinnya lebih terasa dari tahun lalu, saya suka.

Keempat, masalah pertunjukannya dan aktor-aktris yang berperan.
Kali ini saya berusaha membahasnya satu-persatu, berusaha lebih spesifik.Ini pendapat saya pribadi lho ya, jadi mohon jangan tersinggung. Saya tahu akting itu ga semudah kelihatannya, anggap aja ini cuma sekedar kritik membangun. Tolong diambil hikmahnya aja ya, 🙂

  1. Happening art. Sebenarnya konsepnya oke, jujur saya suka. Kekurangannya memang biasa terjadi di pertunjukan pembuka, penampilnya masih terlihat kurang siap, tapi saya harap ke depannya jadi bisa lebih mempersiapkan, jadi ga kelihatan kurang persiapan dan latihan. Sebenarnya ga siapnya bukan ga siap dalam penampilan sih, saya juga ga tahu seberapa sering mereka bertiga latihan jadi ga berhak menghakimi itu juga. Hanya saja saya menemukan adanya ruang kosong yang tercipta, saya merasa ada beberapa hal yang terkesan tanggung, ga all out, tapi saya ga tahu itu apa. Sebenarnya fiky udah lumayan bagus, cuma ada beberapa bagian yang sebenarnya saya tahu dia bisa lebih dari itu. Saya yakin kalau dia mau dia pasti bisa berteriak lebih keras, berekspresi lebih nyata, dan bergerak lebih luwes. Terus mas-mas pemegang talinya, ada sedikit ketidakkompakan ekspresi di sini, yang satu terlihat marah yang satu terlihat datar. Saya ga tahu ini di sengaja atau tidak, hanya saja saya merasa sedikit aneh dengan hal itu.
  2. Drama perjalanan cinta. Sudah saya bilang tadi saya suka settingnya, cantik menurut saya. Tapi saya (dan beberapa penonton lainnya) sedikit terganggu akan lilin yang menyala. Cahaya lilin membuat pencahayaan rusak, jadi gerak panitia yang memindah-mindahkan kursi dan meja bisa terlihat jelas, sangat mengganggu. Harusnya selama belum digunakan lilinnya dimatikan saja, atau tidak usah sama sekali karena menurut saya dupa sudah cukup mewakili. Saya juga sempat khawatir saat dupanya terjatuh ke taplak meja, semoga aja taplak cantik itu tidak berlubang kena bara api.
    Dari segi pemain, aktris-aktrisnya lebih dominan dari para aktor. Sulit bagi saya menentukan siapa yang lebih saya suka, Bu Broto, Bu Cokro, atau Ghea. Mereka bertiga keren. Tapi akhirnya pilihan saya jatuh ke Bu Broto yang diperankan Ainin, dan saya kira sebagian besar penonton setuju. Ainin terlihat sangat menjiwai perannya sebagai Bu Broto, judesnya dapet banget.Bu Cokro juga keren, gaya keibuannya, suara medhoknya, sangat pas. Tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dari aktingnya saya bisa menebak bahwa Lala adalah aktris yang tidak bisa diremehkan. Tapi saya terpaksa tidak memilihnya sebagai best aktris karena saya rasa karakter Bu Cokro kurang membekas, hanya terkesan sebagai figuran. Saya yakin jika diberi kesempatan memerankan tokoh yang lebih menantang, Lala pasti bisa.

    Ghea yang diperankan Muthia juga bagus. Akting nangis dan patah hatinya dapet. Saya suka adegan penutupnya. Dan dari pengalaman, saya tahu menangis seperti itu tidaklah mudah. Hanya saja saya tidak memilihnya sebagai best aktris karena pada adegan awal masih ada yang kurang dari Ghea, walaupun akhirnya makin lama aktingnya makin bagus. Selain itu saya juga sedikit terganggu dengan lari-lari kecil Muthia ke belakang panggung setelah lampu dimatikan (tapi masih bisa terlihat jelas) tiap pergantian adegan. Itu sedikit merusak karakter Ghea.

    Fatimah. Dari dulu saya selalu suka dengan Zulfa, kebetulan saya sempat mengenalnya sebelum lulus. Kemampuannya berakting sudah tidak diragukan lagi. Hanya saja peran Fatimah terlalu gampang baginya. Oleh karena itu saya tidak mempertimbangkannya sebagai best aktris. Saya beranggapan bahwa Zulfa pasti bisa memerankan tokoh-tokoh seperti itu dengan mudah. Terlalu gampang untuk seorang Zulfa.

    Dimas
    yang memerankan Wisnu menurut saya kurang maksimal. Saya tidak bisa menemukan jiwa Wisnu di sana. Wisnu yang mestinya jadi tokoh utama malah terasa hanya pelengkap. Entah itu karena tokoh-tokoh wanita di sekelilingnya terlalu kuat atau memang Dimas yang grogi. Mungkin Dimas perlu lebih berusaha agar intonasi suaranya tidak monoton dan datar.

    Baba Kim. Yopa cukup bagus memerankannya. Saya tidak bisa menemukan kekurangannya. Entah karena memang tidak ada atau karena Yopa kurang berhasil menarik perhatian saya untuk lebih fokus pada perannya. Kadang saya juga merasa Yopa sedikit ragu-ragu, ada beberapa jeda yang timbul dalam dialognya.

    Ade
    yang memerankan Pak Cokro juga terasa sedikit gugup. Tapi saya tidak bisa menilai banyak karena bagian peran Pak Cokro memang tidak cukup banyak.

    Tapi secara keseluruhan drama ini dipentaskan dengan sangat baik. Kata-kata yang dipilih pun cukup bagus. Penampilan tokoh-tokohnya jauh lebih bagus dari RT 0 RW 0 yang saya dan teman-teman saya pentaskan di PENTUNG 2008. PENTUNG kali ini jauh lebih penuh persiapan, tidak seperti PENTUNG 2008 yang hanya latihan *kalau tidak salah* dua minggu. Untunglah saat itu ada mas Nanung yang bersedia melatih, jadi jeleknya ga terlalu parah.

  3. Covering dance. Saya baru tahu kalau sekarang ada subdivisi tari dari Alir. Saya bukan orang yang menikmati tari modern, jadi saya tidak bisa memberi penilaian banyak. Saya cuma bisa menarik kesimpulan bahwa di lagu pertama mas-mas berambut pirang yang terlihat menonjol, tapi sebagai cewek mas-mas berpita yang lebih gemulai, dan Tommy masih sering terlihat ragu dan tidak pede seperti yang dulu saya kenal. Saya juga menyayangkan kesalahan teknis yang terjadi, sebenarnya saya harap lain kali mas-mas dancer bisa bersikap lebih santai, jangan memperlihatkan kalau dia bingung ataupun keki karena kesalahan teknis yang terjadi.
  4.  Pembacaan cerpen oleh Ade Giri Kumala. Seperti biasa, Ade selalu total kalau tampil. Dari dulu saya selalu suka dengan karakter-karakter yang diperankan Ade. Mengekspresikan cerpen itu sulit, sama halnya dengan monolog. Tapi Ade berhasil melakukannya dengan baik. Menurut saya Ade adalah salah satu aktor yang bagus di ALIR.
  5. Musikalisasi puisi. Yang ini juga berlangsung dengan apik. Mia berhasil membawakan peran gadis yang riang, suaranya juga keren. Saya suka. Lala juga berhasil mengukuhkan kekaguman saya atas dirinya. Dan Iwi, selalu seperti biasa, berhasil tampil penuh penghayatan tapi tetap sensual. Kalau ditanya siapa yang anggota Alir paling pede yang saya kenal, Iwi orangnya. Walaupun lebay, tapi dia selalu berhasil mempermainkan penonton dengan perannya. Iwi juga salah satu aktris yang saya suka… Mungkin kekurangannya hanya pada mas-mas bergitar yang terlihat bingung harus berekspresi apa, tapi mengingat mereka bukan anak Alir, saya maklum lah.
  6. Drama Perjalanan Barat Ke Indonesia. Bagian awal memang sangat lucu, tapi makin ke belakang makin kehilangan esensinya. Bukan salah orang-orangnya, tapi memang tidak mudah mementaskan drama komedi karena tergantung kondisi penonton juga.
    Ide narator yang diperankan Habib memang bagus, tapi harusnya bisa lebih dieksplor lagi. Bisa lebih dikembangkan. Jangan cuma sekedar lewat, ngomong bentar, dan menghilang. Harusnya dia bisa mendapat bagian agak lebih banyak, mungkin bisa meniru peran dalang di OVJ.

    Tommy
    masih terlihat ragu dan salah tingkah seperti biasanya.

    Iwi
    harusnya mendapat jatah lebih banyak.

    Ajeng
    sepertinya bakal jadi penerus Iwi. Sebenarnya saya rasa dia salah satu yang berbakat, tapi perannya sebagai mak lampir kurang berhasil menunjukkan bakatnya. Pingin lain kali melihat akting Ajen yang lainnya, yang sedikit lebih serius.

    Rio, Asvin, Keisya, dan Klemen
    cukup bagus. Tapi kadang masih ada jeda kosong di antara mereka. ping pongnya kurang kena, jadi kadang agak sedikit krik-krik.

    Andi
    yang menjadi pak raden, seperti biasa selalu bisa berimprovisasi. Oleh karena itu saya memilihnya sebagai best actor. Yah walaupun ada beberapa hal mengganggu dalam acting, tapi menurut saya dia yang paling pantas di antara yang lain.

    Isna
    , logat maduranya kurang terasa. Sangat kaku. Sebagai orang Madura saya merasa aneh mendengar intonasinya. Isna bukan orang Madura ya?

    Mia
    , tempo bicara Nyi Roro Madam terlalu lambat. Malah menimbulkan kesan lupa dialognya, jadinya agak membosankan di situ. Kurang latihan kah?

Yah, kurang lebih begitulah pendapat saya.Maaf kalau adik-adik teman-teman tersinggung dan merasa sotoy, saya tahu saya adalah orang awam. Ilmu saya tentang teater juga ga lebih dari kalian.

Saya senang karena mempunyai saudara-saudara sealir seperti mereka.Dan jujur saya iri, sangat terasa kalau anggota alir yang sekarang jauh lebih berani dan penuh totalitas. Ingin rasanya masuk STAN lagi, berkenalan, dan ngalir bersama mereka. Terutama Ajeng, Lala, dan Ainin, mereka berhasil mencuri perhatian saya. Hahahhaha. Pingin rasanya latihan alir lagi, sayang malam jumat tidak memungkinkan untuk ke Bintaro. Ah, saya iri.

Rasanya benar-benar ingin kembali ke masa-masa kuliah. Saya sedikit merasa sedih karena tidak sempat ngobrol dan berkenalan dengan adik-adik teman-teman Alir. Sepertinya bakalan asyik punya kenalan seperti mereka.

Selamat mengalir teman… Saya yakin Teater Alir akan tumbuh dengan baik di tangan kalian.

Iklan

20 pemikiran pada “PENTUNG 2011

  1. gw kira bloh sapa??

    ternyata amel tho??!!!

    jadi nyesel gak dateng kemaren..,hiks..,

    bagus juga tulisanmu mel..,

    ngomong2 pentung 2008???

    yaiyalah jauh bgt mel ama 2010 juga jauhhhhhhhhhhhhhhh bgt..,

    keep writing mel..,

    Suka

    • Hahaha,,, tapi tetep aja PENTUNG 2008 yang paling berkesan ib,,, kan aku yang maen,, wkwkwkkwk..
      jadi kangen saat latihan terus dikritik sama sutradara geje yang ga enakan buat ngritik 😛

      Suka

  2. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://joinkerjaonline.blogspot.com/

    Suka

  3. Makasiiiiiiiiiihhh.. >,< uhuhuhuhu.. Jadi terharu nih drama perjalanan cintanya dibilang bagus, sempet deg degan bgt karna latihannya kurang, selalu ga lengkap. Hiks. Sutradaranya juga galau banget, bingung musti gimana bener2innya.. Special thanks 2 mbak julp dan ka yo yang selalu dtg sblm aku dtg.. Ayo ayo alir alir alir!! Semoga semakin baik semakin diminati, semakin mengalir.. (alhamdulillah aku pilih tempat yang tepat, yeah! Love u)..

    Suka

  4. btw makasih banyak kak kripik pedesnya 😀
    soal pohon itu kesalahan saya sbg kabid perkap, mohon maaf sebesar2nya …

    saya bukan orang madura,
    saya orang jawa-batak n belajar logat madura itu susah T.T
    padahal udah belajar sm temen sy yg org kalianget, sumenep

    Suka

    • Iya, emang susah kok ngomong dengan logat bahasa yang bukan bahasa ibu kita
      aku aja cuma keluar logat maduranya kalau lagi pulang ke jember,, selama di jakarta jadinya orang jawa
      hahahha

      Ternyata kamu kabid perkapnya toh.. Yah walau ada sedikit kekurangan, tetap salut sama kamu
      Aku tahu susah banget ngurusin perlengkapan itu, makanya jarang ada yang mau jadi kabid perkap

      Suka

  5. ~lalalala…
    berasa kafir saya ini sama ALIR. Ga pernah ikut pentung, males latian, dan ga nonton pentung 2011 kemaren. :hammer
    ada yang punya videonya ga sih? pengen liat T_T

    Suka

  6. wah coretan liputannya sangat menarik semoga menjadi bahan yang baik untuk evaluasi ke depannya 🙂 terus datang yaa ke alir dan sering-sering nanya kabar 🙂

    Suka

  7. eh eh,,, sepertinya saya tahu even yang satu ini,,, ga nonton sih,, cuma beberapa hari yang lalu si-ajeng ribut bikin LPJ,,
    (sebenernya dulu juga ribut ngerayu buat nonton, stand penjualan tiket pentung sebelahan ama stand elkam saya)
    haha,, kalo kaakter mak lampir emang kayaknya gampang banget sih buat cikiprit………….

    Suka

  8. Ping balik: Menyambut Mei « Dunia Pagi
  9. Ping balik: Pentung 2013 | Dunia Pagi
  10. Ping balik: PENTUNG 2013 | Suwardy swd

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s