Dibunuh pelan-pelan

Hatiku selalu beriak begitu kutemukan kelebatmu sembunyi-sembunyi mengamati

Jantungku selalu berdentum kala kupungut lembaran-lembaran cinta yang kau sisipkan di sela-sela buku

Darahku selalu mendesir saat tak sengaja kita berpapasan di ujung jalan dan kau tersenyum menyapaku

Otakku selalu menggeliat ketika bayangan wajahmu hinggap di pikiranku

Paru-paruku selalu menderu tiap kali kau menyebut namaku

Seluruh organ tubuhku selalu berkurang satu detakan setiap jemari kita bersentuhan

Kurasa kau telah membuatku lebih cepat mati

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s