Kenapa semuanya serba mendadak?

Entah sudah berapa puluh ribu langkah yang saya tempuh hari ini, naik turun tangga, berputar-putar dari Wahidin II-Kompleks Kemenkeu, dan atrium. Dan jujur,, kaki saya benar-benar lelah, sudah terlalu lama saya tidak berjalan jauh. Saya rasa besok saya akan merasakan efeknya, huft.

Sebenarnya bukan mau mengeluh tentang pengumuman mendadak dari bagian administrasi kepegawaian tempat saya bekerja (atau lebih tepatnya masih magang, karena SK CPNS belum juga di tangan) bahwa hari ini juga kami harus memiliki 2 rekening, mandiri dan BRI. Hari ini juga. Dan saya tidak punya kedua rekening tersebut. Bayangkan! 196 orang harus punya rekening yang dimaksud hari itu juga. Oke, kita anggap saja yang 96 sudah punya rekening, jadi mereka tidak perlu buka rekening lagi. Masih ada 100 orang yang mengantri. Dalam satu hari.  Sudah terlalu  banyak yang mengeluh dan menggerutu tentang hal itu.

Yah, sebenarnya saya tidak habis pikir sih, kenapa semuanya selalu serba mendadak. Pengumuman itu pun baru disebar semalam, sekitar jam 9 malam. Dan esoknya kami semua sudah harus menyerahkan daftar rekening kami + fotokopinya. Kenapa tidak dari minggu lalu? Jadi semua bisa dipersiapkan lebih matang. Setidaknya tidak perlu ada antrian panjang pegawai magang yang ingin membuka rekening baru. Semua akan jadi jauh lebih terkoordinir kan? Belum lagi deposit awal untuk rekening mandiri adalah Rp 500.000, dan untuk rekening BRI Rp 250.000,00, tidak semudah itu menyediakan uang sebesar itu untuk kami yang honor perbulannya baru Rp 850.000,00. Saya mujur karena saya masih punya simpanan uang. Masih cukup buat buka rekening. Tapi beberapa teman saya, masih harus menunggu kiriman orang  tua yang baru diminta semalam atau tadi pagi.  Honor mereka bulan ini sudah habis untuk bayar kos dan hutang bulan lalu. Oh, saya tahu rasanya pasti serba salah. Tiap kali terpaksa meminta kiriman uang dari ibu saya, saya merasa bersalah, saya kan sudah bekerja, harusnya bisa membiayai hidup saya sendiri.

Ah, ternyata ujung-ujungnya saya menggerutu juga. Sama saja dengan yang lain. Yah, walaupun dengan dibukanya dua rekening itu ada kemungkinan rapelan gaji saya akan segera dibayar, tetap saja saya sedikit kecewa. Entahlah, kesannya semua serba mendadak, tidak terencana dengan baik. Tidak sistematis. Dan tidak kali ini saja kami harus berkejaran dengan waktu untuk melengkapi berkas atau apapun yang diminta sekretariat secepat mungkin, semuanya serba mendadak dan penuh ketidakjelasan. Kami seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Dan terkadang, tidak ada respon yang cukup baik dari orang-orang yang kami anggap lebih mengerti itu. Yah, terkadang saya merasa tidak dipedulikan.

Saya berusaha positif thinking sih. Anggap saja ini sebuah latihan agar kami dapat menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, semendadak apapun nanti. Anggap saja ini adalah pembelajaran agar bisa berpikir taktis. Yah, anggap saja. Tapi satu yang saya sayangkan. Satu hal yang benar-benar berat untuk dipikirkan. Bagaimana kami, selaku pegawai baru, bisa loyal dan bekerja sungguh-sungguh jika contoh yang diberikan seperti ini? Bagaimana kami bisa tulus bekerja jika saat kami bertanya, ada yang merespon “itu bukan urusan kami, kalian urus saja sendiri”? Bagaimana kami bisa hormat pada senior jika yang mereka minta adalah kami haru menyelesaikan semuanya hari itu juga tanpa memberikan  solusi?

Ah, apa semua itu hanya perasaan saya saja ya? Mungkin memang saya yang terlalu banyak mengeluh dan menggerutu. Mungkin saya saja yang tidak peka akan kepedulian para atasan kami itu. Mungkin saya saja yang terlalu manja dan ingin semuanya berjalan mudah. Yah mungkin letak salahnya ada di saya yang tidak bisa berpikir positif. Selalu mencari kambing hitam. Toh, dibalik semua gerutuan saya, semua terselesaikan juga kan? Berarti beliau-beliau sudah memperkirakan kemampuan kami dan yakin bahwa kami bisa mengerjakan semuanya tepat waktu di balik segala keputusasaan.

Harusnya saya memang harus menghilangkan sifat penggerutu dan suka mengeluh ini. Saya harus lebih positif dalam berpikir. Ah, kenapa saya tidak bisa meniru si om genit dalam berpikir?  Padahal dia kan teladan yang terbaik yang bisa saya dapatkan (setelah Rasulullah tentunya) dalam urusan begini. Belum pernah sekalipun saya dengar atau lihat si om genit mengeluh atau menggerutu. Dia orang yang paling ikhlas penuh dengan pikiran positif yang saya kenal.

Aah, kenapa ujung-ujungnya tulisan saya jadi membahas si om genit yang entah sedang apa?

Suatu saat, kalau saya jadi pejabat, saya akan selalu berusaha menghindari perintah mendadak pada bawahan saya. Saya akan selalu berusaha untuk tidak menyulitkan orang lain. Saya akan berusaha membuat semuanya lancar, teratur, dan terkoordinir. Karena saya tahu rasanya kebingungan dikejar-kejar deadline yang saya rasa sedikit semena-mena. Jadi, jika ternyata saya secara sadar atau tidak memberikan instruksi yang menyuilitkan bawahan saya, tolong ingatkan saya.

Semoga saja urusan kita semua dimudahkan dan dilancarkan. Tetap jaya Ditjen Perbendaharaan! Semoga ke depannya menjadi lebih terencana dan jelas.

Iklan

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s