Dan sungguh, saya masih hamba yang sombong

Tidaklah masuk syurga barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan yang sebesar biji zarah (atom) sekalipun (Hadist Riwayat Muslim)

Beberapa hari yang lalu, saya sempat merasa terbebani. Dengan apa? Dengan sifat-sifat buruk saya. Dan salah satu yang selama ini selalu bercokol di hati saya, mengotorinya pelan-pelan, adalah sifat sombong. Saya sadar itu sifat buruk, sangat buruk, tapi saya seperti tidak berdaya untuk mencabut akar-akarnya dari watak saya. Saya sudah berusaha mengubah diri, menjadi tawadu’ dan rendah hati, tapi tetap saja dengan liciknya sifat sombong itu muncul begitu saja, tanpa saya sadari. Dan kemudian saya lupa akan kesombongan itu, karena kesombongan itu akhirnya menjadi saya.

Sampai akhirnya, tadi siang saya ngobrol dengan salah satu ibu pegawai, hanya sebuah obrolan ringan. Ibu itu menerangkan bahwa sifat sombong itu muncul dalam urusan sepele sehingga kadang kita tidak menyadarinya. Contohnya saat seorang wanita berbelanja ke pasar membeli daging, telur, dan tempe, lalu saat seorang kenalannya bertanya apa yang dibelinya, maka jika dia menjawab tempe itu tandanya dia termasuk orang yang tawadu’-rendah hati, tapi kalau dia menjawab daging, itu berarti ada setitik kesombongan dalam hatinya.

Astaghfirullaah, saya merasa tertohok, sudah berapa banyak kesombongan kecil yang saya lakukan selama ini? Padahal tidaklah masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sekecil apapun, bahkan yang sebesar biji zarah sekalipun.

Betapa sering saya pamer akan barang-barang yang baru saya beli, walaupun saya menyampaikannya dalam candaan?

Betapa sering saya merasa bangga yang berlebih saat meyadari umur saya yang tergolong lebih muda di antara teman-teman saya?

Betapa sering saya merasa lebih pintar, lebih baik, lebih cekatan dan lebih lainnya dari orang lain?

Betapa sering saya memandang sebelah mata pada orang lain dan merasa diri saya jauh lebih baik?

Dan betapa sering saya mengjudge seseorang sombong? Padahal tanpa sadar saya telah menjadi sombong dengan merasa lebih tawadu’ dari orang tersebut?

Sungguh, saya masih hamba yang sombong. Bahkan sekarang pun saya menjadi sombong dengan mengganggap diri saya lebih baik dari orang lain karena menyadari kesombongan saya di saat banyak yang lainnya tidak. Padahal sifat sombong itu hanyalah milik Allah. Saya sungguh merasa malu dan takut. Astaghfirullaahal’aziim.

Saya masih hamba yang sombong. Tapi saya harap tidak selamanya begitu. Semoga Allah menghapuskan sifat sombong dari hati kita dan menggantinya dengan kerendahan hati.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s