maybe that’s why I love him #1

Terlibat obrolan random di atas motor dengan Caca, teman sekos saya, dalam perjalanan ke kantor tadi pagi. (kapan sih obrolan kami tidak random?)
Obrolan yang dipicu tukang balon yang saya lihat di jalan. Membuat saya memvisualisasikan sebuah adegan dimana seorang anak kecil merengek minta dibelikan balon kepada ayahnya. Dan entah bagaimana, saya teringat om-om genit. Membuat saya bercerita tentang pacar saya yang sebenarnya belum om-om dan tidak genit, hanya saya senang menyebutnya om-om genit..

Teringat masa-masa setahun lebih sekian hari yang telah kami lewat, memilah-milah cerita dan memilih adegan dimana saya merengek-rengek minta dibelikan sesuatu. Layaknya anak kecil merengek minta balon.

“Om, saya mau beli kue itu”
“Ga usah, amel udah makan kan? Nanti ga habis, sayang duitnya.”
“Tapi saya pingin”
“Amel habis ga? Udah, g usah ya. Kapan-kapan aja.”

“Om, pingin beli balon”
“Buat apa? Udah, dieman-eman duitnya. Beli yang lain aja”

“Om, pingin makan itu.”
“Heh? Ngapain? G enak itu. Beli yang lain aja, yang sekalian bikin kenyang”

Entah saya yang terlalu kekanak-kanakan atau dia yang terlalu kebapakan. Mungkin juga keduanya.
Yang jelas, saya suka cara dia menghadapi saya. Saya suka cara dia meredakan keinginan-keinginan aneh saya. Saya suka nada suaranya yang sabar menghadapi saya.

Random, aneh, norak. Yah, namanya juga orang kasmaran.

“mestinya diterbitkan beberapa minggu lalu”

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s