Flea market from my sight

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menemani si om-om genit mencari topi ped idamannya ke pasar baju bekas di senen poncol.

Pertama kali masuk, yang terhirup tentu saja aroma apek yang memenuhi udara pasar, dan saya tidak menyarankan anda yang punya riwayat penyakit asma untuk masuk ke sini.

Well, saya sendiri bukan orang yang mengutamakan merk dan “baru” tidaknya suatu barang. Dulu saya sempat mempunyai beberapa baju favorit yang dibeli dari second store semacam ini, atau istilahnya babebo (baju bekas bos). Saya juga mengakui kalau ada beberapa barang menarik yang hanya bisa ditemukan di tempat semacam ini. Asal anda pandai memilih dan menawar, bukan hal mustahil untuk mendapatkan barang bermerk, yang walaupun ‘bekas pakai’ tetap dalam kondisi prima, dengan harga sangat miring. Anda juga bisa menemukan barang-barang yang sudah hilang dari peredaran di sini. Intinya, pasar barang bekas seperti ini bisa jadi tempat tujuan belanja, terutama bagi anda yang tidak punya banyak uang.

Ada cerita unik tersendiri, dari mana para penjual itu memperoleh barang dagangannya. Sebagian mungkin dibeli dari orang yang sudah bosan dengan baju-bajunya atau orang yang sudah kehabisan harta benda lainnya sehingga terpaksa menjual baju-bajunya. Tapi tahukah anda semua? Bahwa barang-barang bermerk internasional itu mereka dapat dari luar negeri. Ya, benar, barang-barang itu memang barang impor, mereka tidak bohong. Tapi jangan bayangkan mereka mendapatkannya dari transaksi jual beli dengan bule-bule berambut pirang itu (Well, sejujurnya tidak semua bule berambut pirang).

Jadi begini ceritanya bapak ibu sekalian. Para bule-bule perlente yang hidup di negara-negara makmur itu, beranggapan bahwa Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang miskin. Jadi dalam acara-acara amal dan bakti sosial yang mereka adakan, mereka mengumpulkan baju-baju bekas layak pakai mereka dan menyumbangkannya pada negeri kita tercinta ini. Jadi anda sekalian tidak perlu bertanya-tanya kenapa sebuah blue jeans hanya dihargai Rp 15.000, sebuah jumper keren ga lebih dari Rp 10.000 (bahkan ada yang cuma goceng, Bro!). Itu harga wajar, mengingat barang-barang itu didapat cuma-cuma dari luar negeri. Jadi mereka beli borongan ke pedagang besarnya, dengan harga yang murah pastinya.

Hal yang membuat saya tercengang-cengang adalah, di sana juga dijual underwear (red: cd, bra, dan lingerie) bekas. Dan yang tidak bisa akal sehat saya terima adalah, banyak mak-mak dan mbak-mbak yang berebutan milih-milih daleman. Hey, itu kan daleman bekas, we never know what happenned with those underwear before they come to us. Emang sih itu underwear bermerk, tapi itu kan BEKAS DIPAKE ORANG LAIN. Sekali lagi, BEKAS DIPAKAI. Saya heran, kira-kira mbak-mbak dan mak-mak yang berebutan beli daleman bekas itu sempet mikir bahaya tertular penyakit seksual ga ya? Urgh, saya bisa mentoleransi barang bekas melekat di tubuh saya, tapi tidak di organ intim saya. Saya lebih memilih daleman tidak bermerk yang dibeli lusinan tapi BARU daripada Victoria secret BEKAS.

Sekian dari saya dan terimakasih, mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

2 pemikiran pada “Flea market from my sight

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s