Terperangkap!

Berhubungan dengan postingan saya sebelumnya. Saya berhasil berdamai dengan kesunyian, Saudara-saudara! Dan entah ini berita bagus atau sebaliknya, saya menjadi terlalu akrab dengannya. Saya menjadi terlalu terbiasa dengan kesendirian. Saya memisahkan diri dari dunia luar. Membangun liang yang nyaman dan secara tidak lansung memenjarakan saya, membuat saya asyik dengan rasa sepi.

Saya merasa nyaman dalam kamar saya, enggan keluar, enggan menyapa orang-orang, enggan berbicara. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, malas menyentuh sinar matahari, malas bergabung dengan keramaian, malas memulai pembicaraan. Yang saya butuhkan hanya air, oksigen, cahaya lampu, dan laptop saya. Saya membentuk kepompong, tak ingin bersinggungan dengan dunia luar.

Dan jika dipikir-pikir, hidup begini tak ada salahnya. Toh saya merasa nyaman. Makin lama makin nyaman, dan makin tak butuh orang lain. Cukup diri saya sendiri, cukup saya dalam kamar saya. Saya benar-benar menjadi terlalu terbiasa sendiri, dan makin lama makin terbiasa. Saya bermetarmorfosis menjadi makhluk yang sangat tidak sosial, antisosialis. Saya menjadi apatis, tidak peduli apa pun yang terjadi di luar sana, selama itu tidak mengusik saya, selama itu tidak mengganggu ketenangan saya. Kemampuan bergaul saya benar-benar terdegradasi.

Sebagian diri saya ada yang berteriak menyuruh saya keluar, menyapa dunia. Tapi teriakannya tak cukup kuat untuk benar-benar membuat saya keluar. Saya sudah menjadi terlalu apatis. Tak butuh siapa-siapa. Toh juga tidak ada yang peduli, tidak ada yang merasa dirugikan kan? Butuh lebih dari saya sendiri untuk mengeluarkan saya dari liang ini. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membuat saya keluar kamar.

Jangan heran kalau kebetulan saya keluar anda melihat saya murung. Saya tak bermaksud untuk terlihat murung, tapi saya memang tidak ingin tersenyum, tidak ada cukup alasan, tidak ada yang dapat membuat saya tersenyum. Saya tak lagi nyaman bertemu orang-orang, saya tak lagi nyaman bertegur sapa. Saya lupa bagaimana caranya berbincang-bincang. Beberapa hari ini sudah saya coba, entah kenapa setelah pembicaraan selesai, saya merasa hampa, sia-sia. Saya lebih suka tetap ada di dalam kamar, berkutat dengan diri saya sendiri.

Saya sudah mencoba meminta seseorang untuk memaksa saya keluar, mengembalikan kemampuan saya berkomunikasi. Gagal. Entah saya yang sudah merasa terlalu suka begini, atau orang tersebut yang tak mau berusaha lebih keras.

Mungkin hanya butuh beberapa hari sampai saya benar-benar tak peduli dunia. Mungkin minggu depan saya sudah benar-benar lupa caranya membuat orang lain senang, lupa caranya tersenyum, walaupun itu pura-pura sekalipun.

Saya tidak akan lagi meminta tolong agar seseorang mengeluarkan saya dari sini. Saya hanya ingin minta pengertiannya jika saya nanti bukan Amel yang ceria, ramah, cerewet, usil, seperti yang kalian kenal. Saya hanya mohon jangan heran jika saya berubah menjadi ketus, jutek, murung, dan membosankan. Toh saya tak peduli apa pendapat anda.

Iklan

2 pemikiran pada “Terperangkap!

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s