Saya tidak suka cerita seperti ini

Mata saya sedang produktif hari ini, berkebalikan dengan anggota tubuh yang lainnya, hanya bergulingan di kasur seharian. Perhatian saya yang biasanya tersita oleh pendar-pendar layar laptop 17′ kini teralihkan pada 2 novel pinjaman dari teman kos saya. “9 dari Nadira” karya Leila S. Chudori dan “Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin” karya Tere-liye. Penculikan laptop saya telah membuat saya kembali bercinta dengan kata-kata pada lembar kertas yang berdesir tiap dibalikkan.

Dua novel itu sama-sama mendongengkan cinta, cinta yang patah dan bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak sanggup memiliki. Dua jalinan cerita itu sama-sama merajut kisah akan cinta yang terlambat disadari dan diungkapkan. Tentang cinta yang tak berakhir bahagia, hanya berujung pada penyesalan dan kekecewaan. Tak heran jika saya menjelma menjadi makhluk melankolis hari ini.

Cerita itu terasa sangat nyata karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengiris pelan-pelan sugesti yang tak hentinya kita tanamkan dalam pikiran sendiri tiap kalinya, bahwa cukup mencintai dan dicintai. Membuat kita meragukan dan mempertanyakan eksistensi cinta itu sendiri.

Dua buku ini juga sama-sama menyinggung ketimpangan sebuah mahligai pernikahan yang hanya dikemudikan cinta yang bertepuk sebelah tangan, oleng dan rapuh. Bercinta akan sepasang yang tak saling mencintai. Satu orang hanya mencintai, yang satunya hanya dicintai.

Sebuah pepatah kuno pernah terdengar:

Seorang wanita berhak mendapatkan lelaki yang mencintainya maka dia akan bahagia, sedangkan seorang lelaki berhak mendapatkan wanita yang dia cintai agar dia bahagia.

Sebuah pepatah dungu menurut saya, timpang. Cinta itu harus dari dua sisi. Setiap orang berhak mendapatkan pasangan yang dicintainya dan juga mencintainya. Itu syarat mutlak untuk bahagia, kecuali kalau dia tak berkeberatan untuk menipu dirinya sendiri setiap harinya, berpura-pura merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang semu dan fiksi.

Buku ini juga mengalunkan cinta yang terlambat. Cinta yang disampaikan justru pada saat kebahagian itu tak mungkin terjangkau. Cinta yang menorehkan luka dan hanya menyisakan penyesalan.

Dan saya sungguh merutuk orang-orang seperti itu. Memendam perasaannya bertahun-tahun, membohongi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Orang yang membuat sebuah pernikahan tidak terasa sakral lagi, membiarkan pernikahan itu berdiri tanpa dilandasi rasa saling mencintai. Dan pada akhirnya yang menjadi korban  bukan hanya dirinya sendiri, melainkan juga orang yang dicintainya (yang mungkin balik mencintainya) dan orang yang mencintainya (yang tertipu mentah-mentah oleh rasa cintanya yang palsu).

Hubungan yang hanya dilandasi cinta sebelah tangan sangatlah rapuh, tak mungkin bertahan lama. Kalaupun sanggup bertahan, semua itu hanya akan menjadi penjara yang berdiri di atas puing-puing. Kisahnya akan berakhir dengan luka, rasa patah, dan penyesalan berkepanjangan.

Kita tidak pernah tahu perasaan orang lain, maka cari tahulah apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Kalaupun ternyata tidak, terkadang pengakuan itu merupakan langkah awal untuk melupakan dan merelakan. Pastikan saja semua itu tidak terlambat diungkapkan.

Satu pemikiran pada “Saya tidak suka cerita seperti ini

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s