Sayang

Awalnya merasa heran pada pasangan-pasangan yang saling memanggil sayang atau sebutan ‘aneh’ lainnya. Kami merasa risih, kalaupun salah satu dari kami ada yang memanggil dengan sebutan-sebutan ‘aneh’ itu, pasti itu karena iseng dan sengaja membuat yang lain risih. Lalu pihak yang menjadi korban akan bertanya sinis: “Lagi kesambet ya?”, “Kamu ga salah minum obat kan? Atau tadi salah makan?”, “Lagi ngelindur ya?”.

Tapi lama-kelamaan kami mulai saling terbiasa. Tidak sering memang, tapi tidak ada yang risih saat salah satu sedang kumat sisi romantisnya. Kami mulai mengerti perasaan pasangan-pasangan yang saling memanggil dengan sebutan ‘aneh’, karena semua itu merupakan bentuk ekspresi perasaan, yah walau terkadang ada orang yang mengatakannya cuma buat ngegombal.

Dan memang tidak dapat dipungkiri, bahwa suatu saat sebutan-sebutan itu hanya menjadi formalitas, tidak bermakna lagi, hanya menjadi nama. Lalu setelah itu panggilan-panggilan tersebut akan menghilang perlahan, karena semua yang dirasakan tak perlu diungkapkan dengan kata-kata lagi. Itulah yang disebut fase, siklus.

Sekarang saya sedang menikmati fase kedua. Menikmati rasanya jantung saya berdegup lebih kencang memompa darah pada pipi saya hingga kemerahan saat membaca kata-kata manis itu di layar hape ataupun komputer lalu tersenyum-senyum sendiri.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s