The dark side of my mind

Setiap orang pasti punya ketakutannya sendiri, kekhawatiran yang seberapa keraspun dia mencoba tetap tidak bisa menyingkirkannya. Saya pun begitu, saya juga dapat merasakan takut. Banyak sekali yang saya takutkan di dunia ini, dari hal yang remeh hingga hal-hal yang hanya segelintir orang yang berani menghadapinya.

Salah satu ketakutan saya adalah pada penyakit. Ya, penyakit. Bukan penyakit biasa seperti flu, pusing, batuk dan sejenisnya, tapi penyakit-penyakit berat seperti kanker, tumor, kista dan semacamnya. Mungkin karena kakek saya meninggal gara-gara kanker usus maka saya sedikit trauma. Apalagi setelah membaca bahwa faktor keturunan juga dapat menyebabkan kanker. Ditambah lagi saya sadar sepenuhnya bahwa saya pernah menjalani pola hidup yang tidak sehat, dan sampai sekarangpun terkadang saya bandel.

Saya ingat sekali bahwa rambut saya sempat tumbuh cukup lebat, dan kini ketika saya berkaca saya selalu sedih melihat mahkota saya. Rasanya ingin menangis setiap kali melihat gumpalan-gumpalan rambut rontok yang saya kumpulkan. Saya berusaha mencari rasionalisasi tapi terkadang saya tidak bisa mencegah otak saya menghubungkan kerontokan rambut dengan berbagai macam penyakit.

Jadwal menstruasi saya pun sangat ajaib, siklusnya sangat pendek. Dalam sebulan saya bisa haid dua kali. Terkadang jarak menstruasi saya hanya terpaut seminggu. Wajar kan kalau saya takut bahwa ada yang tidak beres di rahim saya. Saya berusaha untuk menenangkan diri, mencari alasan bahwa itu wajar, bahwa itu hanya kelainan biasa, bahwa hal tersebut terjadi hanya gara-gara ovum saya terlalu cepat luruh. Tapi tetap saja saya selalu stres saat tamu bulanan (atau mungkin dua mingguan bagi saya) itu datang. Saya takut, saya sangat takut.

Sistem pencernaan saya pun sangat aneh. Saya dapat tidak buang air besar berhari-hari. Lalu tiba-tiba diare berkepanjangan. Apalagi akhirnya saya menyadari bahwa perut saya buncit, tidak sebanding dengan tubuh saya. Siapa yang tidak takut jika mengalami hal tersebut? Apalagi jika anggota keluarganya ada yang meninggal gara-gara kanker usus.

Mungkin memang saya yang terlalu parno. Ketakutan saya berlebihan. Bahkan sakit kepala pun dapat membuat saya sangat takut. Saya jarang sakit kepala, tapi begitu sakit itu datang, rasanya nyeri sekali dan terkadang membuat saya menangis.

Saya pun selalu meyakinkan diri saya sendiri bahwa semua baik-baik saja. Saya selalu berusaha optimis. Saya tak pernah menceritakan segala kekhawatiran ini pada siapa pun. Saya tak mau orang lain juga ikutan khawatir karena ketakutan saya yang berlebihan ini. Saya berusaha tetap ceria, bahagia, dan tanpa beban. Yah mungkin ketika rasa takut saya sedang menyeruak, saya butuh sedikit bersandar, saya butuh senyum dari orang-orang yang saya sayangi untuk meyakinkan saya bahwa hidup saya masih panjang, bahwa saya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi sayangnya kini orang-orang yang saya sayangi sangat jauh. Saya tidak dapat menemukan senyum yang menguatkan itu di mana-mana. Dan saya tenggelam dalam rasa takut itu sendiri. Mungkin saya terlihat kokoh dan tegar, tapi tidak dapat saya pungkiri bahwa sebenarnya saya sangat rapuh. Dan ketika saya tidak menemukan pijakan yang kuat, saya tidak tahu akan jatuh seberapa dalam.

(Saya menulis ini bukan untuk dikasihani, saya hanya butuh tempat untuk melepaskan ketakutan ini)

-Saya sangat sehat, saya yakin itu-

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s